Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tari Bali; Baris Dadap, Tarian Pembuka Jalan Sang Atman

I Putu Mardika • Senin, 3 Juli 2023 | 23:04 WIB
Tari Baris Dadap di Banjar Bebali, Desa Berembeng, Selemadeg, Tabanan saat upacara Ngaben.
Tari Baris Dadap di Banjar Bebali, Desa Berembeng, Selemadeg, Tabanan saat upacara Ngaben.

BALI EXPRESS- Upacara Ngaben di Banjar Bebali, Desa Brembeng, Kecamatan Selemadeg, Tabanan senantiasa diiringi dengan pementasan Tari Baris Dadap. Tarian ini diyakini sebagai simbol pembuka jalan bagi Atman yang diaben.

Berdasarkan berbagai refrensi, konon Tari Baris Dadap ini sudah ada sejak 350 tahun silam atas perintah Cokorda Anom Puri Gede Tabanan yang fungsinya sebagai pamarisudha upakara. Misalnya dihelat dalam upacara Dewa Yadnya seperti Ngenteg Linggih di pura atau merajan, kemudian upacara Magpag Toya di Pura Ulunsuwi.

Selain itu, Tari Baris Dadap dipentaskan dalam kegiatan upacara Pitra Yadnya (Ngaben). Biasanya ditarikan sehari sebelum Ngaben, yakni ketika Ngaringkes atau Ngalelet yang didahului dengan Mapeed Pamuspaan.

Secara filosofi, dalam prosesi Ngaben, Baris Dadap merupakan simbolisasi Iswara atau Pralina. Di mana jukung atau perahu yang dipegang pada tangan kiri si penari menyimbolkan sebagai pengantar Sang Atma menuju Suralaya atau Sangkan Paraning Dumadi atau tempat asal dari segala asal.

Sesepuh atau panglingsir yang memahami mengenai silsilah Tari Baris Dadap di Banjar Bebali tersebut I Ketut Suparwatha menjelaskan, pada saat ngaben di Banjar Bebali, dipentaskan Tari Baris Dadap. Tari wali ini dipentaskan sebagai pengeruwak atau pembuka jalan bagi atma orang yang dibuatkan upacara pengabenan.

Dalam pementasannya penari terlebih dahulu diadakan aci di rumah atau di Pura Kahyangan dengan tujuan matur piuning ke hadapan Ida Sang Hyang Sesuhunan serta mohon penuntun agar pementasan di tempat kupah atau orang Ngaben mendapatkan keselamatan. Tari Baris Dadap disebut juga dengan jajar wayang.

Bagian dari tarian ini terdiri dari tiga bagian yaitu: ngelembar (bagian awal dari pertunjukan), nyiatang keris (perang dengan menggunakan keris), dan nyiatang dadap (perang dengan menggunakan properti dadap). “Sebelum pentas, terlebih dahulu diadakan aci di rumah atau Kahyangan Tiga dan juga mengaturkan canang pemayasan. Sekaligus nunas tirta pemayasan saat penari masih berias, pemangku melanjutkan upacara pementasan,” jelas Suparwatha.

Sarana banten berupa daksina gede, praslis, penyeneng, canang sari, nasi sokan mebe, karangan dua buah. Ada juga sarana banten pinunas dengan sarana canang berisi sesari sebanyak 125 kepeng.

Kemudian pemangku mohon izin kepada Sang Hyang Widhi agar penari Tari Baris Dadap bisa selamat dan memohon waranugraha berupa tirta pengklukatan dan pembersihan orang yang ngaben dengan menghaturkan segehan nasi warna barulah pementasan bisa dimulai.

Gamelan yang digunakan Tari Baris Dadap sangat sederhana kemudian diiringi nyanyian atau tembang yang mengiringinya. Sedangkan tarian ini banyak menggunakan gerak pengulangan dan lebih mengutamakan unsur nyanyian.

Ia menjelaskan, gerakan tarian saat dipentaskan mulai dari nyambir saput (memegang ujung depan kain), tanjak (sikap berdiri), gulu wangsul (gerak leher ke samping kanan kiri), nyagjag (gerak kaki berjalan dengan cepat).

Disinggung kostum yang digunakan Tari Baris Dadap cukup sederhana, tidak banyak ornament seperti tari baris pada umumnya yang dipentaskan untuk sebuah tontonan/pertunjukan. Kostum yang digunakan yaitu celana panjang berwarna putih, baju lengan panjang berwarna putih, badong bunder, gelungan berbentuk kerucut, serta semayut yang berfungsi untuk meletakkan keris dan dadap yang berfungsi sebagai properti.

Penari secara dominan menggunakan kostum warna putih dan kuning. Kedua warna ini mengandung makna bahwa putih memiliki makna suci dan kuning memiliki makna keagungan. Kedua warna ini dominan digunakan mengingat upacara ngaben bertujuan untuk penyatuan kepada asal, lebih utama lagi menyatu kepada Hyang Widhi.

Gelungan atau hiasan kepala merupakan simbol kesiapan penari, badong sebagai penutup leher, saput kuning merupakan simbol kama atau keinginan serta lambang kecerdasan, baju putih sebagai simbol etika atau kesucian, kain putih simbol penghormatan kepada ibu pertiwi.

“Jebug sebagai penutup punggung, bunga jepun putih simbol kesucian, daun pamali simbol kekuatan. Simbol senjata diantaranya senjata dadap simbol transportasi bagi atma yang di upacarai dan keris merupakan simbol pembuka jalan bagi sang atma yang di upacara,” ungkap Suparwatha.

Riasan yang digunakan cukup sederhana yaitu hanya memakai titik (bangket) yang diletakkan di antara dua alis. Bahannya terbuat dari kapur yang dicampur dengan air. “Bangket tersebut merupakan lambang dari mata ketiga Sang Hyang Ciwa yang maknanya untuk melenyapkan segala godaan dari hal-hal yang jahat maupun buruk sehingga pertunjukan dapat berjalan dengan lancar,” sebutnya. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #Banjar Bebali #ngaben #Tari Baris Dadap