BALI EXPRESS - Sugihan Jawa dan Sugihan Bali merupakan rangkaian pelaksanaan hari Raya Galungan dan Kuningan. Rangkaian Galungan sebenarnya dimulai pada Saniscara Kliwon Wuku Wariga atau yang lebih dikenal dengan Tumpek Wariga (25 Hari sebelum Galungan).
Namun dalam pelaksanaannya, Sugihan dibagi menjadi dua waktu berbeda, yakni Sugihan Jawa pada Wheraspati Wage Sungsang, sedangkan Sugihan Bali pada Jumat Kliwon Wuku Sungsang.
Kedua Sugihan ini memiliki makna sebagai wadah pembersihan. Namun yang menjadi perbedaan adalah apa yang dibersikan (disucikan) pada kedua Sugihan tersebut.
Kata “Jawa” dalam Sugihan Jawa, dimaknai sebagai bagian luar. Jadi makna Sugihan Jawa adalah pembersihan makrokosmos atau alam semesta. Sementara Sugihan Bali lebih mengarah pada pensucian (pembersihan) mikrokosmos atau diri sendiri.
Namun di masyarakat masih banyak yang salah persepsi memaknai hari tersebut. Banyak yang beranggapan bahwa Sugihan Jawa dirayakan oleh masyarakat Bali keturunan Majapahit (Jawa), dan Sugihan Bali dirayakan keturunan Bali asli.
Dalam lontar Sundarigama dijelaskan bahwa filosofi Sugihan Jawa erat kaitannya dengan pembersihan dan penyucian makrokosmos atau buana agung atau alam semesta sebagai tempat kehidupan. Sedangkan Sugihan Bali adalah penyucian buana alit atau diri sendiri (mikrokosmos), sehingga bersih dari perbuatan-perbuatan yang ternoda atau pembersihan lahir dan batin.
Dilansir dari Website Desa Menyali Kabupaten Buleleng, akademisi Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si., mengatakan, kedua Sugihan ini merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan karena merupakan rangkaian dari perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan yang berfungsi untuk menyiapkan umat Hindu menghadapi berbagai gempuran dan godaan duniawai yang datang menjelang perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma.
Namun dalam kehidupan masyarakat sering dibedakan, hanya semata-mata karena adanya tradisi yang sudah berlaku secara turun-temurun. Selain itu, juga disesuaikan dengan desa kala patra.
Kalau dikembalikan kepada makna dan filosofi sugihan itu, paparnya, hendaknya umat Hindu di Bali melaksanakan kedua Sugihan tersebut. Hanya, perbedaan pada kesemarakkan pelaksanaan dari salah satu sugihan yang sudah dilakukan secara turun-temurun memang sangat sulit dihilangkan. Artinya, kebiasaan umat Hindu untuk melaksanakan Sugihan Jawa dengan mengaturkan upacara pengerebuan misalnya, tetap dijalankan sebagaimana mestinya.
Adanya perbedaan pelaksanaan masing-masing sugihan oleh dua kelompok berbeda, menurut Sudiana, adalah bentuk penghargaan terhadap perbedaan yang ada. Sementara Sudiana memandang hal ini sebagai bentuk betapa luwes dan fleksibelnya agama Hindu itu sendiri. Yang paling penting tentunya pemahaman yang mendasar di kalangan umat tentang makna sesungguhnya dari sugihan itu sendiri.
Editor : Nyoman Suarna