Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

11 Tradisi Populer yang Hanya Ada di Bali, Ada yang Sampai Mendunia

Dian Suryantini • Selasa, 15 Agustus 2023 | 21:51 WIB
Omed-omedan ada di Kelurahan Sesetan, Denpasar. Tradisi ini dilakukan dengan memisahkan kelompok wanita dan kelompok pria.
Omed-omedan ada di Kelurahan Sesetan, Denpasar. Tradisi ini dilakukan dengan memisahkan kelompok wanita dan kelompok pria.

BALI EXPRESS - Bali selalu menarik untuk dibahas. Terlebih tradisinya yang hanya ada di Bali dan bahkan ada yang sampai mendunia. 

Tradisi di Bali merupakan salah satu fondasi yang membuatnya populer dan kuat.

Setiap pagelaran sebuah tradisi Bali selalu ramai penonton. Baik itu masyarakat lokal hingga wsiatawan mancanegara.

Tak jarang pula wisatawan yang berkunjung ke Bali mempelajari tradisi Bali. Bahkan ada yang menjadikannya bahan penelitian.

Berikut deretan tradisi yang terkenal di Bali. 

  1. Mekepung
Tradisi Makepung dapat dijumpai di Kabupaten Jembrana. Tradisi itu dilakukan dengan menggunakan sepasang sapi jantan.
Tradisi Makepung dapat dijumpai di Kabupaten Jembrana. Tradisi itu dilakukan dengan menggunakan sepasang sapi jantan.

Tradisi ini dapat dijumpai di Kabupaten Jembrana. Tradisi itu dilakukan dengan menggunakan sepasang sapi jantan.

Mirip seperti tradisi karapan sapi di Madura. Dalam tradisi ini sapi yang digunakan beradu kecepatan. 

  1. Sapi Gerumbungan
Sapi Gerumbungan mirip dengan tradisi Mekepung di Jembrana.
Sapi Gerumbungan mirip dengan tradisi Mekepung di Jembrana.

Sapi Gerumbungan mirip dengan tradisi Mekepung di Jembrana.

Bila di Jembrana beradu kecepatan maka sapi gerumbungan dari Buleleng ini beradu keanggunan.

Saat dilaksanakan, pengunjung atau penonton juga diperbolehkan untuk mencoba menjadi joki sapi atau yang disebut dengan sais. 

Biasanya, setelah panen raya para petani mengungkapkan kegembiraannya dengan menarikan sapi-sapinya di tengah sawah.

  1. Omed-omedan
Omed-omedan ada di Kelurahan Sesetan, Denpasar. Tradisi ini dilakukan dengan memisahkan kelompok wanita dan kelompok pria.
Omed-omedan ada di Kelurahan Sesetan, Denpasar. Tradisi ini dilakukan dengan memisahkan kelompok wanita dan kelompok pria.

Omed-omedan ada di Kelurahan Sesetan, Denpasar. Tradisi ini dilakukan dengan memisahkan kelompok wanita dan kelompok pria.

Kemudian satu perwakilan dari masing-masing kelompok diusung dan dipersatukan.

Saat itulah kedua perwakilan saling berpelukan, tarik menarik dan disiram dengan air.

Tradisi omed-omedan yang merupakan ritual saling peluk dan tarik menarik secara bergantian antara dua kelompok muda-mudi ini pantang untuk ditiadakan.

Sebab jika tradisi ini tidak dijalankan, maka akan terjadi suatu peristiwa. 

  1. Tradisi Ngewayang/Wayang
Pementasan wayang kulit di Bali juga cukup populer. Biasanya tradisi ini akan dijumpai saat ada upacara tiga bulanan atau ngaben di Bali.
Pementasan wayang kulit di Bali juga cukup populer. Biasanya tradisi ini akan dijumpai saat ada upacara tiga bulanan atau ngaben di Bali.

Pementasan wayang kulit di Bali juga cukup populer. Biasanya tradisi ini akan dijumpai saat ada upacara tiga bulanan atau ngaben di Bali.

Namun belakangan tradisi wayang kulit ini mulai dipentaskan dalam acara-acara tertentu. 

  1. Mecolek Adeng
Tradisi mecolek adeng dilakukan di Pura Gede Pemayun, Banyuning, Kabupatn Buleleng.
Tradisi mecolek adeng dilakukan di Pura Gede Pemayun, Banyuning, Kabupatn Buleleng.

Tradisi ini tidak hanya diikuti oleh anak-anak saja, namun juga orang dewasa.

Seseorang yang diolesi adeng (arang) tersebut harus ikhlas dan tidak boleh marah. Tradisi ini dilakukan di Pura Gede Pemayun, Banyuning, Kabupatn Buleleng. Biasanya dilakukan 5 hari setelah piodalan.

  1. Dewa Ayu
Tradisi ngurek atau Dewa Ayu merupakan salah satu tradisi sakral.
Tradisi ngurek atau Dewa Ayu merupakan salah satu tradisi sakral.

Tradisi ngurek atau Dewa Ayu merupakan salah satu tradisi sakral.

Orang yang melakukan Dewa Ayu atau Ngurek itu biasanya akan mengalami trance (kerauhan).

Saat itulah ia menarikan senjata sembari menancapkan sejata itu di bagian tubuhnya. 

  1. Gebug Ende
Perang Rotan atau yang lebih dikenal dengan Gebug Ende, terdapat di desa Patas Kecamatan Gerokgak. Tradisi ini sebenarnya berasal dari Desa Seraya, Karangasem, namun telah berkembang di Desa Patas se
Perang Rotan atau yang lebih dikenal dengan Gebug Ende, terdapat di desa Patas Kecamatan Gerokgak. Tradisi ini sebenarnya berasal dari Desa Seraya, Karangasem, namun telah berkembang di Desa Patas se

Perang Rotan atau yang lebih dikenal dengan Gebug Ende, terdapat di desa Patas Kecamatan Gerokgak.

Tradisi ini sebenarnya berasal dari Desa Seraya, Karangasem, namun telah berkembang di Desa Patas sejak lama.

Tradisi ini biasanya dimainkan jika musim kemarau tiba.

Saat itu masyarakat Seraya memiliki tradisi budaya untuk memohon turunnya hujan. Tradisi ini dimainkan oleh dua orang laki-laki.

Pemain saling memukul lawan dengan menggunakan sebuah rotan yang panjangnya mencapai 2 meter.

Sedangkan alat penangkisnya sebuah perisai bergaris tengah 60 cm terbuat dari lapisan kulit sapi kering yang terikat pada bingkai kayu. 

  1. Tradisi Nyakan Diwang
Nyakan Diwang tersebut adalah sebuah tradisi unik yang dilakukan oleh sejumlah masyarakat di Kabupaten Buleleng, yaitu di Kecamatan Banjar.
Nyakan Diwang tersebut adalah sebuah tradisi unik yang dilakukan oleh sejumlah masyarakat di Kabupaten Buleleng, yaitu di Kecamatan Banjar.

Tentu akan menjadi pemandangan menarik ketika menyaksikan warga memasak dengan kayu bakar di luar pekarangan rumah.

Nyakan Diwang tersebut adalah sebuah tradisi unik yang dilakukan oleh sejumlah masyarakat di Kabupaten Buleleng, yaitu di Kecamatan Banjar. 

Nyakan Diwang atau masak di luar pekarangan rumah tersebut dilakukan serentak di beberapa buah desa di kecamatan Banjar yaitu diantaranya Desa Banyusri, Desa Banjar, Desa Dencarik, Desa Kayu Putih, Banyuatis dan sejumlah desa lainnya.

Tradisi Nyakan Diwang tersebut berhubungan dengan perayaan hari Raya Nyepi, terutama saat perayaan Ngembak Gni. 

  1. Tradisi Perang Api
Tradisi Amuk- amukan atau perang api di Desa Padangbulia, Kecamatan Sukasada, Buleleng ini mengandung makna filosofi yang tinggi.
Tradisi Amuk- amukan atau perang api di Desa Padangbulia, Kecamatan Sukasada, Buleleng ini mengandung makna filosofi yang tinggi.

Tradisi Amuk- amukan atau perang api di Desa Padangbulia, Kecamatan Sukasada, Buleleng ini mengandung makna filosofi yang tinggi.

Tradisi ini dilakukan sebelum perayaan Hari Raya Nyepi agar dalam pelaksanaan Nyepi tidak tersimpan amarah dan dendam.

Sebelum melakukan tradisi amuk-amukan terlebih dahulu dipastikan jika yang akan melakukan tradisi ini tidak memiliki sentimen pribadi.

Dalam melakukan tradisi amuk-amukan dilakukan dengan melibatkan 2 (dua) orang dalam pertarungan dengan mengadu api dari danyuh yang dibakar. 

Tempat dan waktu pelaksanaan tradisi ini tergolong unik, pelaksanaan tradisi ini dilakukan di jalan raya dan di depan pintu gerbang warga serta waktunya adalah pada saat sandikala usai masyarakat melakukan pecaruan di rumah masing-masing.

  1. Kecak
Tari Kecak sudah tidak asing lagi. Tarian ini sangat mudah dijumpai. Seperti halnya di Ubud.
Tari Kecak sudah tidak asing lagi. Tarian ini sangat mudah dijumpai. Seperti halnya di Ubud.

Tari Kecak sudah tidak asing lagi. Tarian ini sangat mudah dijumpai. Seperti halnya di Ubud. Pertunjukan kecak selalu padat penonton. Tradisi ini pun sering disebut-sebut wisatawan. Bahkan menjadi salah satu list kunjungan wisata yang tidak boleh dilewatkan. 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #mendunia #tradisi