Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

11 Sulinggih Muput Puncak Karya Agung Danu Kerthi, Upacara Digelar seperti Tahun 1919

I Made Mertawan • Minggu, 15 Oktober 2023 | 15:58 WIB
Salah satu rangkaian upacara Danu Kerthi di Danau Batur, Kintamani, Bangli, Sabtu 14 Oktober 2023.
Salah satu rangkaian upacara Danu Kerthi di Danau Batur, Kintamani, Bangli, Sabtu 14 Oktober 2023.

BANGLI, BALI EXPRESS- Puncak Karya Agung Danu Kerthi, Tawur Agung Labuh Gentuh, Meras Danu lan Gunung, Bhakti Pakelem ring Segara lan Puncak Gunung Batur, Mapaselang lan Mapadanan berlangsung pada Tilem Kapat, Sabtu, 14 Oktober 2023.

Pangemong Pura Ulun Danu Batur yang juga manggala karya Jero Gede Batur Duhuran mengatakan upacara Danu Kerthi merupakan ritual yang diamanatkan para panglingsir Batur.

Upacara Danu Kerthi sebagai cara untuk memuliakan dan berterima kasih pada alam, khususnya Danau Batur, Kintamani, Bangli.

Upacara pakelem lima tahunan yang pelaksanaannya diambil sama dengan tahun 1919 silam dipuput oleh 11 Sulinggih.

Puncak upacara pemuliaan Danau Batur itu persiapannya telah berlangsung sejak 2 September 2023, terdiri atas tiga kegiatan utama, yakni Tawur Agung Labuh Gentuh, Mapakelem di Puncak Gunung dan Danau Batur, serta Mapaselang.

Enam sulinggih muput Tawur Labuh Gentuh yang digelar di areal utama mandala Pura Segara Ulun Danu Batur.

Tawur Agung Labuh Gentuh menggunakan sarana-sarana wewalungan (binatang) seperti kerbau, sapi, luwak, manjangan, anjing bangbungkem, kijang, petu, babi butuan, kambing, angsa, banyak, bebek belang kalung, bebek buli sikep, dan berbagai jenis ayam menurut warna.

Selanjutnya, pakelem di puncak Gunung Batur dilaksanakan di dua tempat, yakni Pucak Kawanan Gunung Batur dan Pucak Kanginan Gunung Batur (kawah utama).

Tiga sulinggih upacara tersebut dipuput. Pada saat Mapaselang, upacara dipuput pula oleh empat orang sulinggih.

Jero Gede Batur Duhuran mengucapkan terima kasih atas semua pihak yang turut membantu pelaksanaan upacara.

“Upacara Danu Kerthi termuat dalam Rajapurana Pura Ulun Danu Batur, khususnya pada lontar Pratekaning Usana Siwa Sasana,” katanya.

“Pada tahun ini kami menggunakan pola yadnya seperti 104 tahun yang lalu, yakni pada tahun 1919, di mana pakelem di danau menggunakan 3 ekor kerbau dan 1 ekor babi seharga 1.000,” jelas Jero Gede.

Sebagai bentuk bakti kepada Ida Bhatari, pelaksanaan upacara Danu Kerthi berlangsung secara gotong royong.

Masyarakat adat Batur bersama batun sendi Ida Bhatari Sakti pun bekerja secara kolaboratif untuk menyukseskan yadnya.

Adapun upacara pakelem ke puncak masyarakat adat Batur dibantu oleh Desa Adat Sekardadi (Pucak Kanginan Gunung Batur) dan Desa Adat Buahan (Pucak Kawanan Gunung Batur).

Sementara itu, masyarakat Batur bersama batun sendi Batur yang lain fokus di titik upacara di Pura Segara Ulun Danu Batur.

Pada saat pakelem di tengah segara turut dilaksanakan ritual nuwur tirtha amreta oleh masyarakat Batur, yang diikuti oleh Pj Gubernur Bali Sang Made Mahendrajaya, Gubernur Bali 2018-2023 Wayan Koster, Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, Dirjen Bimas Hindu Prof I Nengah Duija dan lainnya.

Prof Duija mengatakan ritual Danu Kerthi yang menggunakan sarana kerbau dan babi sebagai sarana upacara adalah upaya mengembalikan harmonisasi alam semesta.

“Bahwa selama sekian tahun yang lalu, 100 tahun lalu tentu sudah mengalami kekurangan unsur atau kelebihan unsur. Dalam konsep Hindu, inilah yang disebut alam yang netral, ketika semua unsur ini tidak ada yg melebihi dan kurang. Hari ini kita menyaksikan ritual, di mana siklus ritual, menjadi momen penting bahwa alam semesta harus disempurnakan supaya lebih sempurna,” katanya.

Ia mengatakan bahwa pakelem bukan ritual membuang-buang binatang, tetapi binatang yang dikurbankan telah diberikan penyucian lebih dulu dan jiwa-jiwa dari binatang yang dipersembahkan sudah disucikan, sehingga perjalanan sang roh akan sempurna ketika lahir kembali.

“Siklus inilah sebuah netralitas, jika kita bicara Hindu. Kita ucapkan terima kasih pada umat Hindu, khususnya yang di Batur karena sudah bisa melakukan upacara sebuah kesucian di segara ini, sebagai huluning Pulau Bali. Kalau kepala sudah bersih, astungkara aliran darah ke bawah akan bersih,” kata mantan Rektor IHDN Denpasar ini. (*)

BIDIK SASARAN  : Peserta lomba panahan (foto:adrian suwanto/radar bali)
BIDIK SASARAN : Peserta lomba panahan (foto:adrian suwanto/radar bali)
AKRAB: Ganjar Pranowo jalan-jalan bersama Duta Petani Milenial Sandi Oka Susila di Desa Tegallega, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kamis (5/10). (TIM MEDIA GANJAR PRANOWO UNTUK JPRM)
AKRAB: Ganjar Pranowo jalan-jalan bersama Duta Petani Milenial Sandi Oka Susila di Desa Tegallega, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kamis (5/10). (TIM MEDIA GANJAR PRANOWO UNTUK JPRM)
Editor : I Made Mertawan
#Danau Batur #sulinggih #danu kerthi #gunung batur