Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sloka 29 Sarasamuccaya: Pemahaman Terkait Dharma

Putu Agus Adegrantika • Rabu, 3 Januari 2024 | 14:57 WIB
DHARMA: Sloka 21 Kitab Sarasamuscaya menyebutkan, seseorang yang berusaha mencari kama, artha dan mokṣa bisa gagal, tetapi usaha mencari dharma tidak akan pernah sia-sia.
DHARMA: Sloka 21 Kitab Sarasamuscaya menyebutkan, seseorang yang berusaha mencari kama, artha dan mokṣa bisa gagal, tetapi usaha mencari dharma tidak akan pernah sia-sia.

BALI EXPRESS- Dalam ajaran Agama Hindu, manusia sering sekali disebut dengan ciptaan Tuhan yang tertinggi.

Hal tersebut tidak terlepas dari manusia yang memiliki akal, pikiran,  perasaan dan keyakinan. Selain itu manusia juga dibekali dengan Tri Pramana yaitu, bayu sabda dan idep.

Dengan demikian sudah seharusnya manusia dapat menjalankan sehari-harinya dengan perilaku yang baik atau disebut dengan dharma. Jika melaksanakan perbuatan baik sudah tentu akan berbuah yang baik.

Penyuluh Agama Hindu di Bali Ni Luh Deny Purwanti menerangkan bahwa perbuatan dharma akan dibalas dengan kebaikan.

Hal itu pun tertuang pada Sloka 29 Kitab Suci Sarasamuccaya  terbitan Ditjen Bimas Hindu.

Adapun sloka tersebut sebagai berikut :

Manonukūlāḥ pramadā rūpavatyaḥ svalaṁkṛtāḥ, vāsaḥ prāsādapṛṣṭhe ca bhavanti śubhakarmmaṇām.

Lawan ta waneh, ikang strīratna anakĕbi rahayu, sangsangan ring sinaṇḍang, wruhri sanginakana ring jalujalu, lawan umah rahayu,makādi prāsādaprĕṣta, upalakṣanaring bhogopabhoga, mwang anarghya wastrābharaṇādi, drĕbya sang puṇyakārī ika kabĕh.

Baca Juga: Pria di Buleleng Bali Ubah Sampah Plastik Jadi Barang Seni dan Bernilai Jutaan Rupiah

Terjemahannya :

Mereka yang berbuat kebajikan mendapatkan wanita cantik sebagai pahala sesuai pilihan hati sendiri, dan tinggal di rumah bagus.

Yang lain lagi, striratna adalah wanita cantik yang bahagia, jelita dalam segala pakaian, mahir dalam menyenangkan selera para lelaki, serta rumah, rumah bagus, terutama rumah besar tinggi bertingkat sebagai tempat memantau, penuh dengan segala kenikmatan seperti bahan-bahan busana, makanan dan sejenisnya yang tidak ternilai hargaya. Semuanya itu bisa dimiliki oleh orang yang senantiasa berbuat kebajikan.

Dari terjemahan tersebut dapat digambarkan bahwa perilaku kebaikan akan membuat kebijakan, kemudian kebijakan tersebut akan menghasilkan buah karma  yang baik.

“Kebaikan itu pun tidak ternilai harganya. Seakan membawa perasaan yang tidak pernah merasakan gelisah,” jelas Deny.

Ketika kehidupan yang tidak merasakan gelisah tentunya melewati hari-harinya terasa akan sangat nyaman.

Bahkan ketika menghadapi masalah dalam hidupnya pasti akan dihadapi dengan tenang hingga bisa terselesaikan.  (*)

 

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #sloka #Sarasamuccaya #hindu #Dharma