Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pengertian Sapta Timira dan Pembagiannya dalam Ajaran Hindu

Putu Agus Adegrantika • Kamis, 4 Januari 2024 | 13:47 WIB
Penyuluh Agama Hindu di Bali Ida Bagus Putu Wiadnyana Manuaba,
Penyuluh Agama Hindu di Bali Ida Bagus Putu Wiadnyana Manuaba,

BALI EXPRESS- Dalam ajaran agama Hindu ada yang namanya Sapta Timira.

Sapta Timira ini berasal dari bahasa Sansekerta. Sapta itu artinya tujuh dan Timira sama dengan gelap.

Jadi, Sapta Timira dalam agama Hindu itu bisa diartikan sebagai tujuh kegelapan.

Penyuluh Agama Hindu Ida Bagus Putu Wiadnyana Manuaba, menjelaskan manusia sebagai makhluk ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa yang memiliki sabda, bayu dan idep merupakan makhluk dengan tingkat paling tertinggi dalam kehidupan. 

Kemampuan berpikir manusia yang dimiliki manusia dituntut untuk mampu menjaga keseimbangan lingkungan agar kehidupan bisa berkelanjutan dan tercipta kesejahteraan serta kedamaian. 

"Manusia dalam setiap gerak, tindakan, menimbang-nimbang dan akhirnya memilih antara yang baik dan buruk, antara yang benar dan salah," jelasnya.

Ida Bagus Manuaba menerangkan bahwa, manusia dituntut mampu menguasai indra, bila tidak mampu dikendalikan ibarat kusir mengendarai kuda liar yang binal yang tidak dapat dikendalikan sehingga jatuh. 

"Kata Sapta Timira berasal dari bahasa Sansekerta dari kata Sapta yang artinya tujuh dan Timira yang berarti gelap, suram (awidya),” katanya. 

“Sapta Timira berarti tujuh kegelapan adalah tujuh unsur atau sifat yang menyebabkan pikiran manusia jadi gelap,” imbuhnya.

Ketujuh unsur kegelapan tersebut terdapat pada setiap diri manusia. Sifat widya yang ada pada diri manusia apabila tidak dikendalikan akan menimbulkan berbagai macam tindakan kejam, seperti marah, kejam, dengki, iri hati, suka memfitnah, merampok dan yang lainnya.

Ida Bagus Manuaba menjelaskan, bagian-bagian dari Sapta Timira. "Pertama adalah Surupa, artinya kecantikan atau ketampanan. Kecantikan atau ketampanan ini dibawa sejak lahir merupakan anugerah dari Sang Hyang Widhi Wasa," bebernya.

Bagi orang yang memiliki kecantikan atau ketampanan boleh merasa beruntung, namun jangan sampai takabur atau sombong karena semua itu sifatnya maya dan tidak kekal. 

Kedua ada Dhana artinya kekayaan. Kekayaan memang sangat berguna bagi siapa pun dan setiap orang menginginkan hal itu.

Kekayaan itu disebut artha, dan bentuk artha ada tiga macam yang disebut tri bhoga yaitu bhoga, upabhoga dan pari bhoga. 

"Kekayaan ini sangat besar gunanya dan sangat besar juga godanya. Oleh karenanya bagi orang yang memiliki kekayaan hendaknya dapat menggunakan itu dengan tepat sesuai dengan ajaran agama Hindu," beber Ida Bagus Manuaba.

Kekayaan harus diperoleh dengan jalan dharma tetapi sering kali kekayaan itu menimbulkan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama Hindu.

Karena kekayaan orang menjadi sombong, angkuh, menghina orang lain, mengumbar hawa nafsu dan sering menjadi lupa diri.

Ketiga ada Guna, artinya kepandaian. Kepandaian dicari oleh setiap orang, dan semua orang ingin menjadi pandai.

Namun kepandaian juga dapat membahayakan orang bila digunakan untuk kejahatan.

Sering kali kepandaian digunakan untuk tujuan-tujuan yang dilarang oleh ajaran agama Hindu, misalnya memfitnah, mengancam, membuat isu-isu dan korupsi.

Keempat terdapat Kulina artinya keturunan. Keturunan memang mempunyai arti yang penting.

Orang dipandang terhormat, disegani dan dipercaya karena dikenal berasal dari keturunan orang-orang berjasa, baik budi, dan karyanya dapat dinikmati oleh banyak orang. 

Kelima ada Yowana atau masa muda (usia muda). Anak muda karena kurang pendidikan dan pengalaman, sering kali lebih menyukai kebebasan dan hura-hura, sering kali sok jagoan dan suka berkelahi. 

Sebaiknya semasa masih remaja, anak-anak itu diberi pendidikan agama yang memadai, diberi pelajaran mengenai etika, bagaimana harus berperilaku di dalam masyarakat, sebagaimana harus membawa diri dan lain-lain, supaya mereka dapat menjadi manusia yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama.

Masa remaja adalah masa yang baik untuk mengembangkan diri menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, bagi nusa dan bangsa serta agama.

Keenam adalah Sura atau kemabukan karena minuman keras. Minuman keras merupakan musuh yang sangat buruk.

Minuman keras dapat membuat orang mabuk, lupa diri dan berbuat yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Oleh karena itu manusia beragama sebaiknya menjauhi minuman keras.

Terakhir adalah Kasuran atau keberanian. Keberanian kadang kala membuat orang lupa diri. 

Keberanian tanpa disertai dengan pikiran yang sehat dan baik dapat mengakibatkan kerugian atau kesulitan bagi orang lain maupun yang bersangkutan sendiri.

"Keberanian hendaknya selalu dilandasi oleh kebenaran dan Dharma, oleh perbuatan yang luhur sesuai dengan ajaran agama," pungkas Ida Bagus Manuaba. (*) 

 

 

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #Sapta Timira #hindu