Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Soal Moderasi Beragama: Kitab Suci Hindu Ungkap Seperti Ini

Putu Agus Adegrantika • Selasa, 13 Februari 2024 | 19:55 WIB
MODERASI: Hindu memiliki landasan kuat untuk terus-menerus melakukan moderasi dalam praktik-praktik keagamaan berupa kitab suci.
MODERASI: Hindu memiliki landasan kuat untuk terus-menerus melakukan moderasi dalam praktik-praktik keagamaan berupa kitab suci.

BALI EXPRESS – Agama sejatinya merupakan tuntunan untuk mengantarkan umat menuju pada kesadaran (Cetana).

Kesadaran tersebut sejatinya merupakan hakikat, yaitu hakikat keberadaan kita (ekstensi kita sebagai manusia), hakikat tujuan dari keberadaan kita, dan hakikat cara kita menuju tujuan tersebut.

Penyuluh Agama Hindu, Aris Widodo menerangkan bahwa hakikat kita sebagai manusia beragama Hindu adalah memberikan tuntunan tentang yoni, karma wasana, dan butir-butir Panca Sradha.

Selain itu juga tentang Brahman, atman, karmaphala, reinkarnasi atau samsara dan Moksa.

“Kitab suci agama Hindu sejatinya banyak memaparkan tentang hakikat kita sebagai manusia. Di antaranya soal Catur Purusa Artha (empat tujuan hidup manusia) yaitu Dharma, Artha, Kama dan Moksa,” paparnya.

Demikian juga dalam Panca Sradha, ada butir kelima yaitu Moksa (pembebasan) sebagai hakikat manusia Hindu.

Secara lugas disebutkan bahwa tujuan hidup umat Hindu  adalah Moksartham jagadhita ya ca iti dharma.

Di sisi lain tidak dipungkiri bahwa kegiatan upacara keagamaan memberikan warna tersendiri dalam praktik keagamaan, sebagaimana sastra suci yaitu Satyam Siwam, Sundaram.

“Yadnya (korban suci) yang semata-mata menonjolkan aspek materi adalah suatu praktik yang kurang bermanfaat apabila miskin akan tattwa, kehilangan akan tujuan (iksa), melebihi batas kemampuan (sakti),” tegas Aris Widodo.

Apabila praktik-praktik keagamaan yang menonjolkan materi semata terus dipertahankan, tidak mustahil agama Hindu akan kehilangan roh atau spirit sanatana dharmanya yang pada gilirannya akan ditinggalkan penganutnya.

Sebab, praktik keagamaan seperti ini akan memberatkan dan menjadi beban bagi kehidupan yang kering akan makna, serta tidak jarang menjadi praktik eksploitasi semata.

“Hal ini juga ditegaskan dalam sastra suci Manawa Dharma Sastra Bab VII Sloka 10, bahwa untuk menyukseskan tujuan dharma hendaknya dijalankan dengan lima landasan, yaitu iksa (tujuan), sakti (kemampuan), desa ( aturan setempat), dan kala (waktu) serta tidak boleh bertentangan dalam tattwa (kebenaran),” pungkasnya.

Hal ini menegaskan bahwa toleransi beragama menjadi suatu keniscayaan dalam praktik agama Hindu.

Moderasi beragama menjadikan praktik keagamaan sebuah kebutuhan bagi umatnya di tengah-tengah kehidupan duniawi dan material.

Jika demikian, apapun yang menjadi pilihan atau cara dalam mempraktikkan keyakinannya, akan menjadi sebuah offering (persembahan) yang indah, menyenangkan, menggembirakan, membahagiakan dan membebaskan.

Sloka 11 Bab IV, Bhagawadgita juga menyebutkan, “Dengan cara apapun seseorang mendekatiKu, Aku menerimanya. Karena sesungguhnya setiap jalan yang ditempuh adalah jalanKu, jalan menujuKu”.

“Kutipan sloka di atas menunjukkan bahwa umat Hindu telah memiliki landasan yang kuat untuk terus-menerus melakukan pembaharuan atau moderasi dalam praktik-praktik keagamaannya,” tandasnya.

Bahkan tidak ada seorangpun atau lembaga yang mempunyai otoritas untuk mendikte cara-cara praktik-praktik keagamaan.

Tuhan menyediakan dan mempersilahkan umat Hindu untuk datang dan menghadap-Nya dengan cara apapun. ***

Editor : Nyoman Suarna
#kitab #Moderasi #Suci #hindu