BALI EXPRESS - Sruti dan Smrti merupakan sumber tekstual paling pertama yang harus dipahami oleh umat Hindu dalam menghayati nilai-nilai dharma.
Dua himpunan referensi agama Hindu ini merupakan tubuh Veda, sebagai kitab suci agama Hindu.
Sruti dan Smerti, masing-masing mengandung berbagai pengetahuan kompleks tentang segala hal yang ada dalam kehidupan ini.
Kitab Sruti dan Smrti tidak hanya memuat pengetahuan ketuhanan semata, tetapi juga mencangkup pengetahuan tentang lingkungan, pengobatan, dan lain sebagainya.
Keduanya memberikan uraian tentang esensi dari kehidupan, sehingga patut diposisikan sebagai referensi suci Hindu yang memuat tentang dharma (kebenaran).
Kondisi ini memberikan petunjuk bahwa kitab Sruti dan Smrti dapat menjadi sumber belajar bagi umat Hindu dalam menyelami nilai-nilai dharma.
Terkait hal ini, Penyuluh Agama Hindu, I Made Danu Tirta menerangkan, memetik nilai dharma dalam Sruti dan Smrti perlu dilakukan dengan aktif membaca dan memahami isinya.
"Berbagai ulasan yang termuat dalam dua tekstual tersebut memerlukan pemaknaan mendalam. Tentunya, proses pemakanaan yang dilakukan perlu melalui aktivitas membaca isi teks secara konsisten dan mendalam," paparnya.
Semakin tekun seseorang membaca isi kitab Sruti maupun Smerti, maka ketajaman pikiran maupun hati akan semakin terasah untuk mengambil esensi pokok dari ulasan atau pesan-pesan yang disampaikan di dalamnya.
Secara lokal, umat Hindu umumnya lebih dekat dengan tekstual klasik (umumnya berupa lontar) yang dominan memakai bahasa leluhur Nusantara.
Hal tersebut bukan berarti umat Hindu di Nusantara tidak memahami kitab suci Veda baik Sruti maupun Smrti, namun lebih kepada pengejawantahan dan adaptasi isi Veda yang berbahasa Sansekerta kedalam bahasa daerah oleh para leluhur terdahulu.
Melalui jalan adaptasi tersebut, diharapkan esensi Veda dapat dipelajari dengan baik oleh umat Hindu di berbagai daerah Nusantara, sebab telah memakai akses bahasa yang sesuai atau dapat dipahami secara umum oleh masyarakat Hindu Nusantara.
Jadi dapat dikatakan bahwa, meskipun masyarakat Hindu di Nusantara lebih banyak mempelajari teks lokal, sejatinya mereka telah mempelajari Sruti dan Smrti itu sendiri.
Sebelum memahami isi dari dua himpunan referensi Hindu tersebut, umat Hindu perlu memahami hal dasar terkait dengan keberadaanya.
Kitab Sarasamuccaya Sloka 43 terbitan Ditjen Bimas Hindu memberikan penjelasan sebagai berikut:
“Nyang ujarakĕna sakarĕng, śruti ngaranya sang hyang caturweda, sang hyang dharmaśāstra smrĕti ngaranira, sang hyang śruti, lawan sang hyang smrĕti, sira juga pramānākĕna, tūtakĕna warawarah nira, ring asing prayojana, yāwat mangkana paripūrṇa alep sang hyang dharmaprawrĕtti.”
Sehingga, dengan jalan memahami isi Sruti dan Smrti terlebih dahulu, maka insan Hindu akan lebih terarahkan untuk membiasakan kompeksitas ralisasi dharma dalam hidupnya.
Salah satu aspek dasar yang perlu diketahui dari kitab Sruti dan Smrti adalah definisinya.
Meskipun tidak terlalu asing ditelinga, namun pengertian secara mendasar dari dua kata tersebut jarang diketahui oleh umat Hindu.
Beberapa hasil analisis tentang Veda mengatakan bahwa kata Sruti berasal dari kata “sru” yang memiliki arti mendengar. Sementara itu, kata Smrti berasal dari kata “smr” yang artinya adalah ingat.
"Berdasarkan penjabaran secara etimologi tersebut, maka munculah definisi yang mengatakan bahwa Sruti merupakan kitab veda yang disusun oleh Maharsi berdasarkan hasil mendengarkan wahyu Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi) secara langsung. Sementara itu, Smrti diartikan sebagai kitab veda yang disusun berdasarkan ingatan oleh para Maharsi," tegas Danu.
Kitab Sruti dan Smrti juga memiliki himpunan kitab lain di dalamnya. Kondisi ini menandakan bahwa, kitab Sruti dan Smrti merupakan kitab Hindu yang padat dengan pengetahuan.
Berdasarkan peta sastra Hindu, kitab Sruti terdiri dari empat pokok yaitu kitab Mantra, Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad.
Selain Aranyaka, kitab lain seperti Mantra, Brahmana dan Upanisad umumnya terbagi menjadi empat turunan kitab yang terdiri dari Rg, Sama, Yajur dan Atharwa.
Empat turunan tersebut kembali memiliki pembagian ulasan kompleks yang sangat padat.
Sementara itu, Smrti terdiri dari tiga kitab pokok yakni Vedangga, Upanga Veda dan Upaveda.
Kitab Vedangga terdiri dari enam kitab turunan yakni Siksa (ilmu phonetika), Wyakarana (ilmu tata bahasa), Nirukta (berisi himpunan antonim dan sinonim), Chanda (kitab yang berisi nyanyian pujaan), Jyotisa (ilmu astronomi), dan Kalpa (ilmu ritual).
Selanjutnya, kitab Upangga Veda terdiri dari empat kitab turunan yaitu Darsana (berisi tentang pandangan-pandangan terhadap kebenaran), Agama (banyak mengulas tentang teologi Hindu), Purana (berisi pengetahuan tentang sejarah para dewa) dan Kamasastra (pengetahuan tentang keindahan).
Sedangkan Upaveda terdiri dari empat kitab turunan yakni Ayurweda (ilmu pengobatan), Gandharwa (menguraikan tentang cabang ilmu seni), Dhanurweda (ilmu pertahanan atau perang) dan Arthasastra (berisi tentang ilmu pemerintahan).
Perilaku hidup akan mendekati kesempurnaan ketika didasarkan pada tuntunan kitab Sruti dan Smrti.
"Khusus untuk umat Hindu, hendaknya membudayakan literasi diri terhadap kitab Sruti dan Smrti, agar mampu mendapatkan wawasan berperilaku dharma dengan baik," pungkasnya. ***
Editor : Nyoman Suarna