BALIEXPRESS.ID - Jajan Sarad, salah satu pelengkap dalam upacara adat Hindu Bali, bukan sekadar hiasan.
Dengan bentuknya yang besar, artistik, dan penuh warna, Jajan Sarad kerap menarik perhatian umat Hindu Bali.
Namun, tak banyak yang tahu makna mendalam di balik keindahan karya ini, yang sering dijumpai saat piodalan atau karya agung di pura.
Jajan Sarad: Simbol Bumi yang Penuh Makna
Menurut pemuka agama Hindu Bali, Pinandita Drs. Ketut Pasek Swastika, Jajan Sarad adalah simbol bumi dan isinya.
“Setiap elemen pada Jajan Sarad mencerminkan seluruh kehidupan makhluk di dunia. Semua bahan yang digunakan berasal dari bumi ini,” jelasnya.
Terbuat dari tepung yang diolah dan dihias, Jajan Sarad memiliki makna spiritual mendalam. Meski terlihat seperti makanan, Jajan Sarad bukan untuk disantap.
Sebaliknya, ini adalah wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah yang diberikan kepada umat manusia.
Variasi Ukuran dan Penggunaan
Ukuran Jajan Sarad bervariasi, dari satu meter hingga mencapai tujuh meter, tergantung pada tingkat upacara.
Untuk piodalan Madyaning Utama ke atas, seperti yang menggunakan bebangkit dan palagembal, Jajan Sarad biasanya dipajang di pelataran pura sebagai sesajen sekaligus dekorasi megah.
“Jajan Sarad ini merupakan bagian dari banten yang disebut dalam lontar Sarwa Bebantenan. Segala sesajen, termasuk Jajan Sarad, adalah perwujudan alam dan bumi,” tambah Pinandita Pasek Swastika.
Proses Pembuatan yang Penuh Seni
I Kadek Edi Wahyu Kusuma Yuda, seorang pembuat Jajan Sarad asal Desa Bedulu, Gianyar, mengungkapkan bahwa proses pembuatan memerlukan tenaga hingga 12 orang dan waktu pengerjaan antara satu hingga tiga minggu.
Tema Jajan Sarad biasanya disesuaikan dengan jenis upacara, seperti pernikahan atau karya agung di pura.
“Misalnya, untuk pernikahan, temanya adalah Semara Ratih, sedangkan untuk piodalan atau karya agung, seringkali mengambil cerita pewayangan atau dewa-dewa,” ujar Kadek Edi.
Meski berbahan sederhana, Jajan Sarad mampu menghadirkan keindahan yang megah dan sarat makna.
Bahkan, tokoh-tokoh puri di Bali kerap menggunakan Jajan Sarad untuk setiap upacara, baik sebagai bagian dari banten maupun dekorasi.
Keindahan yang Sarat Filosofi
Bentuk Jajan Sarad yang menyerupai manusia, tumbuhan, atau suasana alam menambah daya tariknya sebagai elemen upacara adat.
Ini tidak hanya menjadi simbol keindahan budaya Bali, tetapi juga sarana untuk merefleksikan hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Melalui Jajan Sarad, umat Hindu Bali menyampaikan rasa syukur sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga alam sebagai sumber kehidupan.
Sebuah tradisi yang tidak hanya estetis, tetapi juga penuh filosofi yang mendalam. ***
Editor : I Putu Suyatra