Namun dipastikan tumbuhan tersebut kondisinya masih sangat segar
Dijelaskan praktisi usada, Gede Sutana tumbuhan tersebut ada yang diolah dalam bentuk boreh, loloh, sembar, tampel, atau tutuh.
Sebut saja Boreh berupa campuran obat yang dibuat dengan cara menggiling ataupun menumbuk campuran bahan sampai halus kemudian ditambahkan air atau arak.
Sedangkan loloh berupa sari pati yang diperoleh dengan cara meremas-remas atau menggerus bahan dengan menambahkan sedikit air kemudian diperas dan disaring.
Selanjutnya Sembar atau simbuh yaitu berupa ramuan yang diperoleh dengan cara mengunyah bahan-bahan sampai lumat kemudian disemburkan secara langsung pada bagian badan yang diobati.
Tampel atau tempel yaitu ramuan yang diperoleh dengan cara menghaluskan campuran bahan-bahan dan dalam penggunaannya ditempelkan pada bagian yang diobati.
Tutuh Tutuh atau pepeh yaitu ramuan yang diambil dari sari pati dengan cara memeras atau menggiling bahan-bahannya kemudian disaring untuk mendapatkan sari patinya dan dalm penggunaannya diteteskan
Bahan lainya yang sering digunakan seperti arak, lengis tanusan yakni minyak kelapa yang dibuat secara tradisional, garam, gula, kapur, maupun santen, bahkan tain seksek serta iduh bang.
Tain seksek yaitu serbuk kayu yang dihasilkan oleh ulat pemakan kayu, sedangkan iduh bang berupa air ludah berwarna merah setelah seseorang nginang atau makan sirih (nyirih).
Pemanfaatan tumbuhan tersebut disertai unsur non medis seperti mantra-mantra. Seperti salah satu mantra.
Baca Juga: AMOR ING ACINTYA! Seorang Pria Asal Bali Ditemukan Tak Bernyawa di Gubuk Pekerja di Gresik
“Ong kita saking campah, kaupatana, tiwang asu, aku akokon, ong teja-teja, teka luar. Ong sanghyang Indra angleburaken tiwang kabeh, tiwang bangke, tiwang asu, teka mati kita kabeh, ko sipok aku sipok, ong tejateja teka luar”.
Mantra-mantra yang disertai dengan sarana dan ritual pembersihan unsur abstrak, bertujuan melindungi pasien secara psikologis dan memotivasi untuk ketahanan bathin agar terhindar dari mara bahaya.
Menurutnya, Mantera memegang peranan penting dalam pengobatan oleh para pengobat tradisional.
“Tanpa mantera, segala bentuk sarana dianggap belum memiliki kekuatan supra natural dalam penyembuhan, karena tercapainya kesembuhan mutlak merupakan kuasa Tuhan, bukan oleh saran obat saja,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika