BALIEXPRESS.ID - Tujuan otonan adalah untuk memperingati kelahiran seseorang. Dengan demikian yang bersangkutan mengetahui pada hari apa ketika dilahirkan dan berapa tahun umurnya pada saat upacara otonan dilaksanakan.
Tentunya berdasarkan atas perhitungan kalender Bali yakni berdasarkan atas perhitungan wewaran atau wuku, panca wara dan sapta wara berbeda dengan hari ulang tahun pada kalender masehi.
Penyuluh Agama Hindu, Ni Wayan Ekayanti, menjelaskan tujuan otonan adalah menyucikan diri seseorang.
Dengan upacara otonan yang bersangkutan akan melaksanakan upacara penyucian berupa byaka atau prayascita dimaksudkan untuk menyucikan diri, melenyapkan kotoran bathin, menjauhkan diri dari gangguan Bhutakala, dan sejenisnya dengan demikian pikiran menjadi cemerlang.
Tujuannya juga mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, para leluhur, orang tua dan kerabat terdekat. Dalam pelaksanaan upacara setelah yang bersangkutan menyucikan diri secara jasmaniah, dengan berkeramas dan mandi, mengenakan busana yang bersih, dilanjutkan dengan upacara byakala atau prayascita.
“Maka dilanjutkan dengan upacara persembahyangan bersama keluarga di Pamerajan atau tempat pemujaan keluarga,”terang Eka.
Eka juga mengatakan tujuan otonan adalah mensyukuri (Santosa) wara nugraha atau karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas kesempatan yang dianugrahkanNya untuk menjelma sebagai umat manusia.
Demikian pula mempersembahkan puji syukur atas karunia dianugrahkannya umur panjang.
Serta makanan yang berlimpah yang dilaksanakan berupa ngayab banten otonan yang diakhiri dengan menikmati benten yang telah dipersembahkan maupun banten otonan yang telah di ayab oleh yang bersangkutan.
Mengenai sarana upakara pawetonan, sudah diatur dalam agama Hindu berdasarkan kuantitasnya yaitu nista, madya, dan utama, disesuaikan dengan kemampuan umat.
Ajaran Agama Hindu bersifat fleksibel dan tidak pernah memaksakan umatnya untuk menghaturkan upakara yang besar karena dasar dari suatu yajna adalah lascarya atau tulus ikhlas (ketulusan dan kesucian hati).
Tujuan akhir dari suatu pelaksanaan yajna adalah bahagia dan kepuasan hati (atmanastuti).
Apabila orang yang memiliki materi lebih dari cukup tetapi melakukan yajna dengan ukuran nista itu juga disebut kikir. Begitu juga sebaliknya jika seseorang dengan materi pas – pasan tetapi melakukan yajna dengan sangat mewah bahkan sampai berhutang itu disebut dengan loba.
“Maka dari itu membuat upakara hendaknya dilakukan sesuai dengan kemampuan yang dilandasi oleh ketulusan hati. Untuk tingkatan upakara pawetonan ada tingkatan nista, madya dan utama,” pungkas Eka. *
Editor : Putu Agus Adegrantika