Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sebagai Persembahan Tulus Ikhlas, Ini Makna Yajna dalam Hindu

Putu Agus Adegrantika • Kamis, 30 Januari 2025 | 01:59 WIB

YADNYA : Pelaksanaan upacara Dewa Yadnya oleh umat Hindu.
YADNYA : Pelaksanaan upacara Dewa Yadnya oleh umat Hindu.
 BALIEXPRESS.ID - Dalam kehidupan ini kita harus melaksanakan korban suci yang disebut Panca Yajna. Yang pertama Dewa Yajna, yang kedua Rsi Yajna, yang ketiga Pitra Yajna, yang keempat Manusia Yajna, yang kelima Bhuta Yajna. Hal tersebut diungkapkan oleh Penyuluh Agama Hindu, Aris Widodo.

Dia menjelaskan Yajna (Sanskerta) artinya tindakan pemujaan, ketaatan dan korban. Dalam hal ini manusia mengadakan Yajna kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa berikut manifestasi-Nya yaitu para Dewa/Dewi berdasarkan kasih dan bhakti serta melaksanakan semua ajaran/petunjuk-Nya.

“Melaksanakan sembah bhakti kepada Hyang Widhi merupakan ungkapan rasa angayubagiya dan terima kasih yang tidak terhingga kepada-Nya. Sebab kita diberi kesempatan untuk meningkatkan atau penyempurnaan diri dengan cara menerapkan ajaran dan petunjuk-Nya,” jelas Aris.

Dia juga mengungkapkan tidak semua mahir membuat bebantenan, sebab dianggap rumit dan membuang-buang waktu saja. Mereka mengikuti kursus membuat bebantenan dengan cara berkelompok sehingga cepat menguasai bagaimana cara pembuatan bebantenan tersebut.

“Ada beberapa persyaratan bila ingin membuat bebantenan yaitu pikiran hendaknya bersih, rasa hening, bahwa pekerjaan itu akan dihaturkan kehadapan Hyang Widhi untuk memperoleh waranugraha-Nya,” bebernya.

Aris mengatakan bagi mereka yang sama sekali tidak dapat membuat banten atau sesaji ataupun tidak ada yang menjualnya, tidak berarti, tidaklah berarti bahwa mereka tidak dapat menghaturkan bhakti. Hyang Widhi tidak pernah melarang atau menampik bhakta-Nya.

Dalam Bhagawadgita  IX.26 dijelaskan, siapa yang mempersembshkan kepada Aku dengan penuh ketulusan dan kebhaktian selembar daun, sehelai bunga, sebiji buah-buahan atau seteguk air, persembahan yang diiringi dengan kasih, dari hati yang suci bersih, Aku terima.

Bahwa pada dasarnya apa yang akan kita persembahkan bukan karena mahal atau murah, sulit atau mudah membuat banten atau sesaji.  Namun berdasarkan ketulusan dan kebhaktian kita yang datang dari hati sanubari yang paling dalam yang akan diterima-Nya. “Karena apapun yang akan dipersembahkan akan diterima asalkan dari ketulusan hati dan jiwa untuk selalu pasrah dalam melayani Hyang Widhi,” pungkas Aris. *

Editor : Putu Agus Adegrantika
#yadnya