Sakralnya Ritual Ngodak Barong dan Rangda bagi Umat Hindu Bali: Jangan Main-main dengan Ritual Sakralnya!
I Putu Suyatra• Minggu, 16 Maret 2025 | 01:41 WIB
Setiap sasuhunan (benda atau sosok sakral) seperti Barong dan Rangda di sebagian besar tempat suci Hindu Bali pasti mengalami perbaikan atau Ngodak.
BALIEXPRESS.ID - Setiap sasuhunan (benda atau sosok sakral) seperti Barong dan Rangda di sebagian besar tempat suci Hindu Bali pasti mengalami perbaikan atau Ngodak.
Namun, tahukah Anda bahwa setelah diperbaiki, kekuatan magisnya harus dibangkitkan kembali dan diuji coba dalam serangkaian ritual sakral?
Ngodak: Ritual Sakral yang Tidak Bisa Sembarangan
Ngodak tidak bisa dilakukan sembarangan. Proses ini melibatkan undagi (ahli khusus) yang menggunakan banten tertentu agar tidak melanggar pakem spiritual.
Setelah selesai, sasuhunan harus melewati tahap Pasupati, sebuah prosesi sakral untuk membangkitkan kekuatannya, sebelum akhirnya diuji melalui Napak Pertiwi.
Menurut Dr. Komang Indra Wirawan, seorang pakar seni yang dijuluki "Doktor Calonarang", setiap tahapan dalam ritual ini memiliki hari baik atau dewasa ayu yang tidak boleh dilanggar.
"Setiap tahap memiliki waktu khusus, dari proses pembuatan hingga perbaikannya. Setelah selesai, dilakukan pencalonarangan atau Napak Pertiwi sebagai bentuk uji coba," ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Napak Pertiwi: Uji Kekuatan Gaib Barong dan Rangda
Napak Pertiwi bukan sekadar pertunjukan biasa. Ini adalah ajang pembuktian apakah sasuhunan benar-benar hidup kembali secara spiritual.
Ritual ini sering kali menghadirkan kejadian di luar nalar, seperti keris yang tiba-tiba tembus tubuh Rangda atau peristiwa mistis lainnya.
Jika terjadi hal aneh, bisa jadi ada ritual yang belum sempurna!
“Ngereh adalah proses mensakralkan benda suci yang dilakukan oleh pemangku, undagi, dan sulinggih. Kata Rah, Reh, Ruh sendiri melambangkan energi sakral yang harus dibangkitkan," jelas Indra Wirawan.
Kuburan: Tempat Sakral untuk Membangkitkan Kekuatan Magis
Tahukah Anda bahwa ritual Pangerehan dan Pasupati sering dilakukan di kuburan atau tanah pamuunan?
Tempat ini dipercaya sebagai pusat bertemunya energi sekala dan niskala, serta menjadi lokasi memohon ilmu dari Bhatari Durga.
“Di tanah pamuunan, ilmu sakti bisa diperoleh. Setelah itu, dilakukan pertunjukan Calonarang, yang jika disederhanakan disebut Ngunya, Malancaran, atau Napak Pertiwi,” tambahnya.
Apakah Barong dan Rangda Benar-Benar Sakti? Ini Buktinya!
Menurut Indra Wirawan, jika ritual Ngerehan dan Pasupati dilakukan dengan benar, maka saat Napak Pertiwi tidak akan terjadi insiden mistis.
Namun, jika ada kejadian aneh, itu pertanda ada yang salah dalam ritualnya!
"Jika dalam pementasan terjadi insiden seperti keris yang benar-benar menembus tubuh Rangda, bisa jadi ada proses yang tidak sesuai. Itu tanda peringatan dari alam gaib," tegasnya.
Ia juga mengibaratkan Barong dan Rangda seperti kendaraan.
"Yang menentukan perjalanan aman atau kecelakaan bukanlah mobilnya, melainkan sopirnya. Begitu pula dengan Barong dan Rangda—ritual yang tepat akan memastikan semuanya berjalan lancar," tandasnya.
Pelajaran Penting: Jangan Main-main dengan Ritual Sakral!
Indra Wirawan menekankan bahwa semua yang terlibat dalam ritual harus memahami tugasnya dengan baik.
"Jika ditugaskan dalam Pangerehan atau Ngodak, harus benar-benar belajar ilmunya. Jangan asal ikut-ikutan, karena kesalahan kecil bisa berakibat fatal," ujarnya. ***