Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Krama Busungbiu Ketog Semprong, Meboros I Bulu Pangi di Hutan

I Putu Mardika • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 02:06 WIB

 

Meboros i Bulu Pangi di Pucaksari Busungbiu serangkaian pujawali di Desa Busungbiu
Meboros i Bulu Pangi di Pucaksari Busungbiu serangkaian pujawali di Desa Busungbiu
BALIEXPRESS.ID-Masyarakat Desa Busungbiu, Kecamatan Busungbiu, Buleleng berbondong-bondong melaksanakan tradisi meboros (berburu) I Bulu Pangi (Kijang) pada Jumat (3/10) pagi. Mereka berburu di kawasan hutan Pucaksari.

Ribuan krama lanang ketog semprong (tumpah ruah) terlihat berkumpul di areal Pura Desa. Mereka bersiap untuk berburu I Bulu Pangi atau Kidang di kawasan Hutan Pangkung Biu, di wilayah Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu.

Kidang tersebut rencananya akan digunakan sebagai sarana saat pujawali di sejumlah pura kahyangan desa. Seperti Pura Dalem pada (6/10) Pura Taman pada (7/10) dan Pura Desa Busungbiu, yang jatuh pada (8/10) mendatang. Kidang nantinya diolah menjadi bukakak.

Kepala Desa Busungbiu, Ketut Suartama mengatakan, tradisi ini dimulai dari upacara ngajit. Upacara ini berlangsung pada pergantian hari antara Kamis (2/10) dengan Jumat (3/10). Upacara dimulai tepat pada pukul 00.00 dini hari.

Dalam upacara tersebut, para pewaris Tegak Lingsir 66 atau sebutan untuk ahli waris pendiri Desa Adat Busungbiu, Mereka ini dipanggil menuju ke bale lantang. Mereka akan dipanggil satu persatu oleh juru surat. Setelah namanya dipanggil, mereka baru naik ke bale lantang.

Kemudian dilakukan ritual persembahyangan bersama di Pura Desa Busungbiu. Dalam upacara itu, krama memohon petunjuk kepada Ida Bhatara untuk memburu kijang. Berbekal petunjuk itu pula, maka krama akan menuju sejumlah titik yang menjadi tempat I Bulu Pangi berada.

“Dari hasil meboros kemarin, kami dapat satu ekor kidang. Nantinya diolah menjadi bukakak,” paparnya, Jumat (3/10) siang.

Saat pujawali agung, seekor kijang akan digunakan untuk sarana bukakak. Kijang itu akan diletakkan di bale panggungan. Sementara seekor lainnya digunakan sebagai campuran paci-paci (hidangan semacam lawar) yang dibagikan pada seluruh krama desa.

Dari penuturan para pendahulunya, diceritakan Suartama awal mula munculnya tradisi meboros yang dilakukan oleh masyarakat desa Busungbiu berawal dari keberhasilan desa Busungbiu membangun Pura Puseh Desa.

Diceritakan kedatangan Gusti Patih Cili Ularan yang diiringi oleh 200 pasukan beliau dan 2 (dua) orang penasehat, dari Suweca Pura menuju Tabanan tepatnya di Wong Ayu lalu ke Pucak Kedaton Watukaru

Setelah kurang sekian lama mengembara Gusti Patih Cili Ularan sampai di sebuah tempat yang bernama Gedang Janur atau Busungbiu pada saat ini. Beliau bertemu dengan pimpinan desa yang pada saat itu dipimpin oleh Gede Mariada dan seorang tokoh agama Ida Pranda Sakti Sinuhun.

Kedatangan beliau sangat diterima di desa Gedang Janur, pada saat itu Gusti Cili Ularan Hanya di dampingi 66 prajuritnya saja. Dari latar belakang itulah mulai tergugah untuk membangun Pura Puseh desa, yang pada saat itu desa busungbiu masih kecil dan dihuni beberapa orang saja.

Setelah Gusti Patih Cili Ularan menetap di Gedang Janur, mulailah beliau membangun pura puseh desa dimana tokoh agama pada saat itu Ida Pranda Sakti Sinuhun akan memberikan I Bulu Pangi (kijang) sebagai sarana upacara.

Pada saat rahina pernamaning kapat penanggalan Bali tepatnya sekitar tahun 1500, upacara piodalan pertama dilaksanakan dan menggunakan sarana kijang sebagai sesajen upacara. “Semenjak saat itulah masyarakat selalu menggunakan kijang sebagai sarana upacara dan melaksanakan tradisi meboros untuk mendapatkan hewan kijang,” paparnya. 

Banten atau sesajen yang digunakan saat meboros juga sedikit berbeda. Sebab, biasanya dalam sarana banten layaknya mengunakan buah dan hiasan bunga, namun dalam sesajen dalam meboros yang digunakan selain buah dan hiasan bunga atau canang juga menggunakan layang-layang, gangsing, dan kelereng sebagai sarana upacara.

Dikatakan Suartama, Sarana Itu merupakan simbol pelaksanaan tradisi meboros. Layang-layang dijadikan sebagai lambang keseimbangan dalam pelaksanaan meboros. 

Sedangkan gangsing dijadikan simbol bahwa pelaksanaan meboros memiliki tujuan yang pasti atau memiliki tujuan bersama dan kelereng dijadikan simbol kebulatan tekat dalam melaksanakan kegiatan meboros.

Hal ini dianggap penting karena tradisi ini merupakan rangkaian dari pelaksanaan upacara keagamaan dalam hal ini upacara Dewa Yadnya. Jika tradisi ini hilang maka akan mengalami kendala dalam pelaksanaan upacara Dewa Yadnya di Pura Puseh Desa Busungbiu.

“Selain itu krama juga menggunakan topi dari  berbahan upih, sebagai simbol untuk siap berburu,” pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#busungbiu #tradisi #I Bulu Pangi #kidang #Meboros #buleleng