BALIEXPRESS.ID - Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, I Made Danu Tirta menjelaskan satu kata sederhana namun sarat makna, yakni manah. Dalam ajaran Hindu, kata itu berarti pikiran, sesuatu yang tak kasat mata, namun menentukan arah hidup manusia.
Menurut I Made Danu Tirta, pikiran bukan sekadar aktivitas otak yang bekerja memproses informasi. Lebih dari itu, pikiran adalah sumber pokok dari segala yang terjadi dalam kehidupan manusia. “Segala cita-cita, rencana, bahkan keberhasilan, sejatinya berawal dari ruang pikir,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelum seseorang meraih prestasi atau mencapai keberhasilan, selalu ada proses abstrak yang lebih dulu terjadi. Kerangka gagasan, imajinasi, perencanaan, dan perenungan menjadi fondasi awal sebelum tindakan nyata diwujudkan. Kerja keras fisik hanyalah lanjutan dari keputusan mental yang telah dirancang sebelumnya.
Dalam perspektif Hindu, pikiran memiliki struktur yang kompleks. Terdapat tiga unsur utama yang membentuknya, yakni budhi, manah (manas), dan ahamkara. Ketiganya bekerja saling berkelindan dalam menentukan arah tindakan manusia.
Budhi, jelasnya, adalah unsur tertinggi dalam pikiran. Budhi berfungsi membedakan benar dan salah, menentukan kebijaksanaan, serta mengambil keputusan yang paling luhur. Di sinilah kualitas moral dan kedewasaan seseorang diuji.
Sementara itu, manas adalah bagian pikiran yang menerima rangsangan dari panca indera, merencanakan, serta membuat keputusan-keputusan sederhana. Manas sering kali masih goyah, mudah terpengaruh, dan berkaitan dengan pikiran bawah sadar.
Adapun ahamkara adalah rasa keakuan ego yang mengklaim “ini saya” atau “ini milik saya”. Ahamkara menimbulkan kesadaran identitas diri, namun jika tidak dikendalikan, dapat menjerumuskan manusia pada kesombongan dan keterikatan berlebihan.
Menariknya, menurut I Made Danu Tirta, konsep ini selaras dengan teori dalam ilmu psikologi modern. Psikologi mengenal istilah conscious mind (pikiran sadar), unconscious mind (pikiran bawah sadar), serta theory of mind yang berkaitan dengan kemampuan memahami pikiran orang lain.
Pikiran sadar bekerja dalam penalaran logis dan pengambilan keputusan saat ini. Sedangkan pikiran bawah sadar menyimpan memori, emosi, kebiasaan, bahkan trauma yang memengaruhi perilaku manusia tanpa disadari.
“Semua unsur ini saling berkorelasi. Pikiran tidak berdiri sendiri, tetapi membentuk sistem yang memengaruhi tindakan,” ungkapnya.
Ajaran Hindu telah lama menegaskan pentingnya pikiran sebagai sentral kehidupan. Dalam Sarasamuccaya Sloka 85 disebutkan bahwa pikiran adalah sumber dari perkataan dan perbuatan.
Sloka tersebut menegaskan bahwa pikiran merupakan unsur penentu yang melahirkan ucapan (wak) dan tindakan (kaya). Apa yang dipikirkan, pada akhirnya akan diucapkan, lalu diwujudkan dalam tindakan nyata.
Bagi I Made Danu Tirta, pesan ini sangat relevan dalam kehidupan modern. Ia menilai bahwa segala perubahan hidup selalu dimulai dari perubahan cara berpikir. Pikiran yang terarah akan menghasilkan tindakan yang terarah pula.
Ia menekankan pentingnya merenung, bukan untuk menyesali keadaan, melainkan untuk merumuskan langkah-langkah perbaikan. Merenung adalah proses menyusun strategi dalam ruang batin sebelum melangkah di dunia nyata.
“Kepastian hasil berpikir menunjukkan adanya perenungan yang konsisten dan komprehensif,” tuturnya.
Sebaliknya, kurang cermat dalam berpikir dapat menghadirkan kekeliruan dalam tindakan. Ketidaktepatan mengambil keputusan sering kali bukan karena kurangnya kemampuan fisik, melainkan kurangnya kedalaman berpikir.
Ungkapan “apapun yang dipikirkan, itulah yang akan terjadi” bukan sekadar motivasi kosong. Dalam pandangan Hindu, realitas memang merupakan hasil olahan pikiran yang telah melalui proses ucapan dan tindakan.
Wak menjadi jembatan pertama antara pikiran dan dunia luar. Apa yang terucap, sejatinya adalah gema dari apa yang ada dalam pikiran.
Kemudian, kaya atau perbuatan menjadi bukti akhir dari seluruh proses berpikir tersebut. Dengan demikian, pikiran benar-benar menjadi induk dari segala aktivitas manusia.
Lebih jauh, I Made Danu Tirta juga menyoroti hubungan antara pikiran dan kesehatan. Ia mengangkat fenomena penyakit psikosomatis sebagai bukti kuat betapa pikiran memengaruhi kondisi fisik.
Stres, cemas, trauma, dan kebingungan yang berlebihan dapat memicu gangguan pada tubuh. Salah satu contoh sederhana adalah meningkatnya asam lambung saat seseorang berada dalam tekanan mental.
Ketika pikiran terus diliputi kecemasan, tubuh merespons dengan gangguan nyata seperti nyeri ulu hati, mual, atau sensasi terbakar di dada. Jika tidak dikendalikan, gangguan ini bisa berkembang menjadi penyakit kronis.
“Pusatnya tetap pikiran. Jika akar stres tidak diselesaikan, maka penyakit fisik akan terus muncul,” tegasnya.
Ia kemudian mengutip pemikiran René Descartes dengan ungkapan terkenal cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Kutipan ini, menurutnya, sejalan dengan ajaran Hindu tentang manah sebagai pusat eksistensi manusia.
Bagi I Made Danu Tirta, manusia diajak untuk tidak pernah berhenti belajar dan mengasah pikiran. Belajar adalah cara menjaga pikiran tetap hidup, kreatif, dan produktif.
“Selama manusia masih mau berpikir dan belajar, selama itu pula ia sedang menulis sejarah keberadaannya di dunia,” pungkasnya.
Dalam arus kehidupan yang serba cepat, pesan tentang manah terasa semakin relevan. Pikiran bukan sekadar alat berpikir, melainkan pusat kendali yang menentukan arah ucapan, tindakan, kesehatan, bahkan masa depan manusia. *
Editor : Putu Agus Adegrantika