Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pabayuhan Tampel Bolong Selamatkan Tujuh Turunan

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 20 Juni 2020 | 13:42 WIB
Pabayuhan Tampel Bolong Selamatkan Tujuh Turunan
Pabayuhan Tampel Bolong Selamatkan Tujuh Turunan


DENPASAR, BALI EXPRESS -Sebagai manusia, kehidupan kita tak lepas dari kekurangan dan kesalahan. Baik di kehidupan saat ini, maupun terdahulu. Terutama salah dalam kata-kata. Bahkan, tak menutup kemungkinan mengucap atau mendapat kutukan. Nah, hal ini memerlukan netralisisasi. Salah satunya melalui ruwatan atau Pabayuhan Tampel Bolong.


Jro Mangku Sugata Yadnya Manuaba, mengungkapkan, awalnya Pabayuhan Tampel Bolong khusus untuk sulinggih. Dituturkan, ayah Jro Mangku Sugata, mendiang Ida Sinuhun Siwa Putra Prama Daksa Manuaba, cukup banyak memiliki oka (anak) melalui proses diksa atau dwijati. Itulah yang diruwat. 


Namun karena saat proses diksa, yang bersangkutan sudah diruwat, bahkan sudah melalui proses seda raga, lanjutnya, Ida Sinuhun kemudian berinisiatif merombak sastra Lawar Capung Ki Dalang Tangsub dan dibuatkanlah Pabayuhan Tampel Bolong. 


“Tampel Bolong artinya menutup semua lubang, dalam hal ini kekurangan atau keburukan di dalam diri. Baik dari kehidupan terdahulu, maupun kehidupan sekarang,” ungkapnya saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Griya Agung Bangkasa, Banjar Pengembungan, Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, kemarin.


Sarana utamanya, lanjut Jro Mangku Sugata, berupa banten Tebasan Pegat Sot. Banten Pegat Sot biasanya dihaturkan kepada Sang Atma saat proses Nyekah. Namun diharapkan, dengan diadakan semasa yang bersangkutan hidup, ia merasakan manfaat ritual. Sebab, Pegat Sot berguna salah satunya memutus efek perkataan buruk yang terlontar, sengaja maupun tak sengaja saat kita hidup.


Saat prosesi, kepala yang bersangkutan akan ditutup dengan kasa rurub dengan gambar dan aksara khusus. Demikian pula di beberapa bagian tubuh, seperti bahu akan ditulisi rarajahan. “Di- rurub, aksaranya dkombinasi, Dewa Ganesha saya pakai. Karena Dewa Ganesha adalah dewa pengetahuan yang maskulin. Setelah itu ada rarajahan dan aksara pangurip. Ada juga sarana khusus, berupa minyak Tampel Bolong,” jelasnya.


Setelah itu, barulah dilakukan pangruwatan. Pertama, mabeyakaon, prayascita, durmanggala, dan pangulapan guna pembersihan lahir batin. Dilanjutkan dengan padudusan agung. “Yang bersangkutan berputar di margi agung di-dudus dengan api padudusan. Sembari yang diruwat berjalan mengitari api, sang sulinggih melantunkan mantra puja. Di antaranya setra gamana, marga gamana, dan banyak yang lainnya. Pada saat yang sama disiratkan juga tirta dari sejumlah mata air,” terang guru SMPN 4 Abiansemal ini.


Dilanjutkan Panglukatan Panca Wara, kemudian Sapta Wara. Lalu Panglukatan Brahma dan Wisnu. “Setelah itu, baru dilanjutkan Panglukatan Tampel Bolong. Isinya lengkap, seperti Pabayuhan Sanan Empeg, Telaga Apit Pancoran, Pancoran Apit Telaga, Salah Wedi, kelahiran Sukerta, terakhir baru pajaya-jayan, natab. Total, ada tujuh tahapan dalam ruwatan ini. Waktunya sekitar empat jam,” ujarnya.


Ruwatan ini juga bersifat universal. Siapapun boleh mengikuti, tanpa memandang latar belakang agama, suku, dan lain sebagainya.  Yang dibatasi adalah paling muda umur tujuh tahun dan bagi orang tua, semasih yang bersangkutan bisa berjalan. Mengapa ada batasan seperti itu? Sebab prosesinya cukup panjang, sehingga memerlukan daya tahan tubuh yang prima. Apalagi dilaksanakan secara massal.


Pabayuhan Tampel Bolong menurut Jro Mangku Sugata, memang lebih ringan jika dilaksanakan secara massal. Tidak ada larangan dilakukan secara pribadi, namun tentu akan berdampak pada biaya yang diperlukan.


“Biasa mahal dari segi biaya, mahal dari proses, karena ada tujuh tahapan atau proses. Belum lagi malaning wuku. Karena malaning wuku ini yang biasanya banyak memerlukan tebasan untuk pangepah ayu. Bahkan, terkadang guling pun bisa dua, karena pawacakan. Belum lagi kalau ada sasangi,” paparnya.


Berkenaan dengan itu, kata dia, Ida Sinuhun memiliki konsep memanusiakan manusia. Sehingga bisa meringankan umat. Selain di Griya Agung Bangkasa, pabayuhan pun sudah dilakukan di beberapa daerah di Bali maupun luar Bali. Di antaranya di Desa Kukuh Tabanan, Sasih, dan Tampak Siring Gianyar.  Kemudian di Tiga Bangli, dan Pancasari Buleleng, bahkan di Lombok. Rencananya dilaksanakan kembali di griya, namun menunggu situasi pulih karena wabah Covid-19.


Pada intinya Pabayuhan Tampel Bolong ini, kata Jro Mangku Sugata, adalah pengentasan kelahiran dan paruwatan kehidupan. Juga menutup hukuman atau deraan untuk menyelamatkan anak cucu, bahkan hingga tujuh turunan.


Jika hendak mengikuti pabayuhan sarananya cukup sederhana. Yang dibawa dari rumah yakni tirta Kamulan, tirta Dalem Manik dari Dalem Karang. Kemudian jika sendiri membawa satu Pajati. Namun, jika bersama keluarga, bisa membawa cukup dua Pajati. Selanjutnya kwangen tiga buah, dua untuk sembahyang, satunya lagi untuk madudus. Terakhir ada tujuh batang dupa.


Kegiatan ini juga dipimpin banyak sulinggih, karena puja mantranya cukup banyak. Sehingga tidak bisa dengan satu sulinggih. “Biasanya lebih dari lima sulinggih,” katanya.


Bolehkah diikuti oleh orang yang tidak beragama Hindu? “Bayuh Tampel Bolong ini tidak mengenal kelahiran, tidak mengenal ras, agama, kepercayaan. Yang penting dia yakin,” tandas Jro Mangku Sugata. 


Bagi yang tidak tahu hari kelahirannya, saat pabayuhan panca wara dan sapta wara, ikut semuanya. “Setelah Pabayuhan Tampel Bolong, yang bersangkutan layaknya membuka lembaran baru. Hendaknya diikuti dengan pengendalian diri dan tingkah laku,” pungkasnya. 



Editor : I Komang Gede Doktrinaya