Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kakul Serang Hektaran Padi di Subak Pangkung Gondang

I Putu Suyatra • Rabu, 27 Desember 2017 | 16:42 WIB
Kakul Serang Hektaran Padi di Subak Pangkung Gondang
Kakul Serang Hektaran Padi di Subak Pangkung Gondang

BALI EXPRESS, NEGARA -  Hama  Kakul (Keong) kuning menyerang tanaman padi di Subak Pangkung Gondang, Kelurahan Sangkar Agung, Kecamatan/Kabupaten Jembrana. Karena ganasnya serangan petani kewalahan menanganinya. Akibat dari serangan keong tersebut, 80 hektar sawah di wilayah itu terancam gagal menghasilkan


I Nyoman Suarnen,54, seorang petani asal Kelurahan Sangkar Agung saat ditemui di lokasiSelasa (26/12) kemarin menjelaskan, hama Keong menyerang tanaman padinya sejak ia mulai menanam bibit sekitar 11 hari lalu. Hingga hari ini hampir seluruh tanaman padi yang ada di sawah seluas 50 are yang ia garap, batang padinya patah dimakan hama tersebut.


“Padi yang baru ditanam dimakan pada bagian batangnya hingga putus. Keong menyerang di malam hari. Siangnya tidak kelihatan  karena sembunyi kedalam lumpur. Malamnya  baru  keluar  memakan  batang-batang  padi  yang baru ditanam,” ujarnya.


Mengetahui tanaman padinya di serang hama keong, Suarnen sudah berupaya untuk melakukan pencegahan mulai dari memungut satu-persatu dan juga dilakukan penyemprotan dengan cairan pembasmi keong namun tidak juga berhasil mengurangi populasi dan serangan keong terhadap tanaman padinya.


 “Kalau dipungut satu-persatu kendalanya kalau siang, hama keong tak kelihatan lantaran masuk kedalam lumpur, sehingga agak sulit juga kalau dipungut  dengan cara manual. Begitu juaga kalau disemprot  dengan  pembasmi keong, keongnya mati namun  kulitnya (cangkang, Red)  yang  tertanam dilumpur  sulit hancur yang justru membahayakan  karena bisa melukai kaki saat perawatan, apalagi tanaman padi masih perlu pemupukan maupun penyiangan atau pembersihan gulma,” keluhnya.


Hal senada juga  disampaikan Ketut Normen,56, yang mengaku was-was dengan adanya hama keong ini. Sembari menyiapkan bibit penganti untuk tanaman padinya yang rusak diserang keong, Ia menuturkan kalau setiap harinya harus merogoh kocek lebih banyak untuk membeli pembasmi hama keong, namun hasilnya tetap saja hama keong bertebaran dilahan sawahnya seluas lebih dari 50 are.


 “Ini sudah  hari  ke-14 padi saya diserang keong kuning. Habis  diganti  tanaman  dipetak yang satu, muncul lagi serangan keong dipetak lainnya,” keluhnya. 


Dengan kondisi seperti ini, mau tidak mau dirinya beserta para petani lainnya yang tanaman padinya sudah terlajur dimakan hama keong harus terus diganti agar pertumbuhan padinya normal. “harus terus diganti supaya tumbuh normal, sehingga nantinya saat musim panen, para petani tidak merugi,” imbuhnya. 

Editor : I Putu Suyatra