BALI EXPRESS, NEGARA - Hama Kakul (Keong) kuning menyerang tanaman padi di Subak Pangkung Gondang, Kelurahan Sangkar Agung, Kecamatan/Kabupaten Jembrana. Karena ganasnya serangan petani kewalahan menanganinya. Akibat dari serangan keong tersebut, 80 hektar sawah di wilayah itu terancam gagal menghasilkan
I Nyoman Suarnen,54, seorang petani asal Kelurahan Sangkar Agung saat ditemui di lokasiSelasa (26/12) kemarin menjelaskan, hama Keong menyerang tanaman padinya sejak ia mulai menanam bibit sekitar 11 hari lalu. Hingga hari ini hampir seluruh tanaman padi yang ada di sawah seluas 50 are yang ia garap, batang padinya patah dimakan hama tersebut.
“Padi yang baru ditanam dimakan pada bagian batangnya hingga putus. Keong menyerang di malam hari. Siangnya tidak kelihatan karena sembunyi kedalam lumpur. Malamnya baru keluar memakan batang-batang padi yang baru ditanam,” ujarnya.
Mengetahui tanaman padinya di serang hama keong, Suarnen sudah berupaya untuk melakukan pencegahan mulai dari memungut satu-persatu dan juga dilakukan penyemprotan dengan cairan pembasmi keong namun tidak juga berhasil mengurangi populasi dan serangan keong terhadap tanaman padinya.
“Kalau dipungut satu-persatu kendalanya kalau siang, hama keong tak kelihatan lantaran masuk kedalam lumpur, sehingga agak sulit juga kalau dipungut dengan cara manual. Begitu juaga kalau disemprot dengan pembasmi keong, keongnya mati namun kulitnya (cangkang, Red) yang tertanam dilumpur sulit hancur yang justru membahayakan karena bisa melukai kaki saat perawatan, apalagi tanaman padi masih perlu pemupukan maupun penyiangan atau pembersihan gulma,” keluhnya.
Hal senada juga disampaikan Ketut Normen,56, yang mengaku was-was dengan adanya hama keong ini. Sembari menyiapkan bibit penganti untuk tanaman padinya yang rusak diserang keong, Ia menuturkan kalau setiap harinya harus merogoh kocek lebih banyak untuk membeli pembasmi hama keong, namun hasilnya tetap saja hama keong bertebaran dilahan sawahnya seluas lebih dari 50 are.
“Ini sudah hari ke-14 padi saya diserang keong kuning. Habis diganti tanaman dipetak yang satu, muncul lagi serangan keong dipetak lainnya,” keluhnya.
Dengan kondisi seperti ini, mau tidak mau dirinya beserta para petani lainnya yang tanaman padinya sudah terlajur dimakan hama keong harus terus diganti agar pertumbuhan padinya normal. “harus terus diganti supaya tumbuh normal, sehingga nantinya saat musim panen, para petani tidak merugi,” imbuhnya.
Editor : I Putu Suyatra