DENPASAR, BALI EXPRESS - Bali tidak hanya terkenal dengan destinasi wisatanya, tapi juga produk-produk UMKM lokal. Keberadaan UMKM di Bali menjadi penopang pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat. Setiap tahunnya jumlah pelaku UMKM di Bali terus mengalami peningkatan dalam 5 tahun terakhir.
Salah satunya Ketut Jaya Sugita, perajin tas kulit ukiran yang beralamat di Jalan Gunung Batok V, Denpasar ini saat diwawancarai, Jumat (3/1). Sugita menceritakan sebelum menekuni kerajinan tas ukir ini, dulunya sempat bekerja di garmen dan di hotel. Baru di tahun 2005 memulai usaha kerajinan lukis sandal yang kemudian mulai berkembang ke kerajinan tas kulit ukir di tahun 2015 hingga sekarang.
"Untuk pasar domestik pemasaranya menjangkau hampir di seluruh indonesia, "ungkap Jaya Sugita.
Sedangkan untuk ekspor baru dua negara yakni Kanada dan Australia. Karena pengerjaannya handmade, jadi produksinya tidak bisa banyak, sebulan paling banyak bisa diselesaikan 20 sampai 30 buah tas.
Yang membedakan kerajinan tas kulit ukir ini adalah pada prosesnya bahan kulit sapi ditatah atau diukir secara manual dengan motif ukiran pepatran (dedaunan) khas Bali sehingga menjadikan produk kerajinan ini tradisional, khas dan asli Bali.
"Kalau untuk ukirannya saya lukis sendiri motif pepatran khas Bali, " ujar pria asli Mengwi yang juga merupakan UMKM binaan dari Bank Indonesia ini.
Sementara kebutuhan bahan baku, sejauh ini tidak ada kendala. Jika orderan banyak, bahan baku di datangkan dari Jawa Timur dan Jawa Barat. Justru kendalanya ada pada kurangnya tenaga produksi yang ahli serta memiliki jiwa seni
"Kalau bahan baku tak ada masalah, justru kurangnya tenaga produksi yang menjadi kendala," ujarnya
Sedangkan untuk harga tas ini dibandrol mulai dari Rp 1 juta sampai Rp. 2,5 juta tergantung bentuk dan ukuran tas.
Editor : I Putu Suyatra