DENPASAR, BALI EXPRESS – Sempat viral di sosial media beberapa waktu lalu sebuah foto dari Made Andika Satria Putra yang menghadiahkan sebanyak 2000 lembar atau 20 lot saham BBRI untuk istrinya, Made Tania Arista Dewi sebagai seserahan pada prosesi melamar.
Melihat keunikan seserahan itu, Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Bali, I Gusti Agus Andiyasa menilai bahwa hal tersebut sangatlah positif dan merupakan yang pertama kalinya terjadi di Bali. Sedangkan di luar Bali sendiri, memberikan saham sebagai hadiah atau seserahan telah terjadi beberapa kali.
“Bagus sekali karena untuk pertama kalinya ada di Bali dan ada yang mempelopori. Tentunya, ini menjadikan yang lainnya juga ingin mengikuti hal tersebut. Sejak adanya foto tersebut di sosmed, banyak juga yang nanya ke kami (Kantor BEI Bali, Red) tentang hal ini. Kami tentunya senang karena ini artinya masyarakat telah melek dan aware dengan investasi,” ujar Agus Andiyasa, Senin (17/5).
Menurutnya, perkembangan zaman memberi pengaruh terhadap hal demikian. Yang mana, semakin banyak masyarakat yang aware akan investasi. Sehingga terinspirasi untuk menjadikan saham sebagai seserahan dalam pernikahan. Dulunya, kata dia, emas paling umum dijadikan seserahan mengingat emas merupakan investasi yang familier.
Agus Andiyasa menilai, tidak menutup kemungkinan kedepannya selain dijadikan sebagai seserahan dalam pernikahan, saham pun dapat dijadikan sebagai ungkapan rasa sayang yang diperuntukkan kepada keluarga, orang terkasih hingga sahabat. Dan hal itu akan menjadi trend baru, melihat perkembangan investor terutama di Bali cukup berkembang.
Hal tersebut dibuktikan dari data yang diungkapkannya, per April 2021, jumlah investor pasar modal secara keseluruhan (saham, obligasi, reksadana dan produk turunannya) di Bali sebanyak 105.459 investor atau bertumbuh sebesar 26,842 investor baru atau 34 persen dari tahun sebelumnya (YTD). Sementara untuk jumlah investor saham di Bali per April 2021 sebanyak 55.100 investor atau bertumbuh sebesar 16.403 investor baru atau 42,39 persen dari tahun sebelumnya (YTD).
Selanjutnya, per April 2021, transaksi saham di Bali sudah mencapai kurang lebih Rp 18,8 triliun rupiah dan jumlah ini sudah mencapai 76 persen dari total saham di tahun 2020 sebelumnya. Untuk klasifikasi investor saham di Bali berdasarkan umur, yakni usia 18-25 tahun (38 persen), usia 26-30 tahun (21 persen), usia 31-40 tahun (21 persen), dan usia 41-100 tahun (20 persen).
Sementara data klasifikasi investor saham di Bali berdasarkan jenis pekerjaan, yakni Pegawai Swasta (41 persen), Pelajar (20 persen), Pengusaha (14 persen), Others (14 persen), Pegawai Negeri (6 persen), Ibu Rumah Tangga (3 persen), Guru (1 persen), Pensiunan (1 persen), TNI/Polisi (0 persen). Sedangkan berdasarkan sebaran wilayah di Bali, yakni Denpasar (43 persen), Badung (19 persen), Gianyar (9 persen), Buleleng (8 persen), Tabanan (8 persen), Jembrana (4 persen), Karangasem (4 persen), Klungkung (3 persen) dan Bangli (2 persen).
“Sebelum itu (hadiah berupa saham, Red) viral di sosial media, pertumbuhan investor Bali sangat berkembang pesat. Di tahun 2021 ini saja selama empat bulan perkembangannya luar biasa dan lebih besar dibandingkan 2020 dari bulan ke bulan. Ini menunjukkan minat masyarakat juga semakin tinggi walaupun jenis investasi lainnya sedang banyak yang hype,” terangnya.(ika)
Editor : Nyoman Suarna