Penyebabnya, tak jauh-jauh dari minimnya kedatangan wisatawan khususnya wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali. Ardi menyebutkan, sebelum pandemi, transaksi bisa mencapai Rp 2 miliar sampai Rp 3 miliar per hari. Namun saat ini, transaksi hanya berkisar Rp 200 juta sampai Rp 400 juta per hari. “Jadi selama dua tahun ini, transaksi masih kecil,” katanya.
Di tempatnya, ada sebanyak 27 mata uang dari berbagai negara yang bisa ditukarkan. Namun saat ini, mata uang yang banyak ditukarkan yakni mata uang US dollar. “Mata uang yen, dollar Australia, itu sepi sekali,” ungkapnya. Sementara yang menukar didominasi masyarakat lokal yang masih memiliki simpanan atau menerima kiriman uang luar negeri dari keluarga yang bekerja di luar. “Ada juga wisman tapi itu yang sudah lama tinggal di Bali atau menetap di sini, memang punya bisnis di Bali,” tambahnya.
Ardi menilai, jika dibandingkan, dampak pandemi pada bisnis perhotelan dan money changer nyaris sama. Sebab, keduanya sama-sama membutuhkan wisatawan mancanegara. Namun, ia bersyukur usahanya masih mampu bergeliat hingga saat ini.
Di sisi lain, selama Covid-19 ia tak lagi menemukan penipuan dengan modus penukaran uang. Padahal sebelumnya, penipuan bahkan hipnotis marak terjadi untuk usaha money changer. “Sebelum pandemi itu ada, banyak, dan ada juga orang-orang yang hipnotis, menipu begitu, tapi sekarang tidak selama dua tahun ini,” katanya.
Sementara itu, untuk nilai tukar di tempatnya untuk 1 US dollar senilai Rp 14.025, 1 Australian dollar senilai Rp 9.975, dan 1 Euro senilai Rp 15.926. “Kalau saya perkirakan, kurs di tahun 2022 dibandingkan tahun 2021 kemungkinan US dollar akan menurun, rupiah akan naik dan menguat,” tutupnya. Editor : I Dewa Gede Rastana