BALI EXPRESS, TABANAN - Mungkin tak begitu banyak yang mengenalnya di tanah kelahirannya. Namun namanya sudah banyak dikenal di kancah Internasional sebagai seorang penari Bali asal Tabanan yang sangat berbakat. Bahkan untuk melestarikan seni tari Bali ia mendirikan sebuah sanggar di Jakarta.
Seorang pria paruh baya nampak serius mengajarkan tari Bali kepada sekelompok anak muda yang tergabung dalam Forum Pelestari Budaya Tabanan (FPBT). Meskipun tegas dan nampak galak, namun ternyata pria tersebut sangat lah humoris sehingga membuat para muridnya yang berguru Tari padanya enjoy dalam menyerap ajarannya.
Ia adalah Anak Agung Ngurah Anom Sutha, 59, salah seorang seniman tari asal Tabanan yang telah mengharumkan nama Tabanan di kancah nasional maupun Internasional. Pria asal Puri Agung Kerambitan yang kini menetap di Jakarta itu memang sejak lama sudah berkecimpung di bidang seni, khususnya seni tari dan tabuh. Hingga akhirnya ketekunannya mengantar ia mencapai puncak kesuksesan, bahkan ia sudah berkeliling dunia untuk mengenalkan tari Bali.
Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pria yang akrab disapa Anom Sutha tersebut menuturkan bahwa awal karirnya dimulai ketika ia menamatkan pendidikan di ASTI Denpasar yang kemudian ia lanjutkan berkuliah lagi di IKIP PGRI Bali angkatan pertama di tahun 1983 sampai 1985 jurusan Bahasa dan Seni. Anom Sutha sendiri sejak kecil memang menggemari seni tari dan tabuh sehingga memutuskan untuk menekuni dunia tersebut.
“Setelah lulus di IKIP PGRI Bali, tahun 1986 saya terbang ke Jakarta karena kebetulan ada banyak saudara di sana,” ujarnya.
Selama berada di Jakarta, ia tidak lupa dengan seni tabuh dan tari yang selama ini ditekuninya, terbukti dengan aktifnya Anom Sutha Ngayah menari Topeng saat Pujawali di Pura setempat. Hal itu membuat salah seorang seniman di Jakarta menawarinya untuk tampil menari Bali di Hotel Hilton Jakarta. Tawaran itu tidak disia-siakan oleh Anom Sutha sehingga ia pun menandatangani kontrak dengan Hotel Hilton untuk menari Bali setiap malam minggu dengan tujuan menghibur para tamu hotel.
“Waktu itu saya dikontrak selama tiga tahun, jadi setiap malam minggu saya menari di Hotel itu dan digaji per bulan. Ada atau tidak tamu ya saya tetap menari,” imbuhnya.
Bakat menari dari suami I Gusti Ayu Candra Dewi tersebut kemudian membuat para tamu hotel terkagum-kagum, ia pun bergabung dalam Himpunan Seniman Muda Indonesia yang ada di Jakarta. Bahkan sejak saat itu Anom Sutha mulai mendapatkan tawaran untuk menari di luar negeri, mulai dari Timur Tengah, Mumbay, Colombo, Paris, Inggris, Spanyol, Amerika, Dallas, London, Ceko dan masih banyak Negara lainnya. Bahkan ia baru saja datang dari Korea dan langsung pulang ke Tabanan beberapa waktu yang lalu.
“Negara pertama kali adalah Timur Tengah, saya menari Tari Jauk, Legong Lasem, fragmen tari dan lain sebagainya. Walaupun dulu honornya tidak seberapa tetapi saya bangga karena bisa mengenalkan tari Bali di dunia,” papar pria yang juga alumni Kokar tersebut.
Ia pun mengaku tidak bisa melupakan segala pengalaman menarinya di berbagai Negara, dan yang paling berkesan adalah ketika ia menari di Paris. Ketika itu ia bertemu dengan sejumlah seniman Bali di Paris yang kemudian mengajaknya mengamen di kereta bawah tanah, dimana saat itu ia mendapatkan banyak uang karena warga di sana terkagum-kagum akan aksinya menari. “Saya menari di kereta bawah tanah ternyata banyak dapat uang. Setelah itu saya pulang ke Indonesia dan pesawat transit di Moscow. Karena saya tidak mengerti bahasa Inggris akhirnya saya ketinggalan pesawat, beruntung di sana saya bertemu dengan orang KBRI dan akhirnya saya bisa pulang ke Indonesia,” tutur ayah dari Anak Agung Ngurah Satria Yudistira, 32, dan Anak Agung Sagung Nitya Anjani, 22, tersebut.
Berkeliling dunia untuk menari tidak membuat kakek dua orang cucu ini merasa puas, ia pun membuka Sanggar Puri Kencana di Jakarta yang kini memiliki banyak siswa yang tertarik belajar Tari Bali. Bahkan menurutnya siswa di sanggarnya tidak hanya orang Bali yang tinggal di Jakarta tetapi banyak juga orang Sunda dan Betawi yang tertarik belajar Tari Bali.
Dan berkat keuletannya menggeluti seni tari dan tabuh, Anom Sutha juga diminta untuk mengajarkan seni para polisi di Mabes Polri. Karena dedikasinya pada seni yang tak diragukan lagi, ia kemudian diangkat menjadi PNS. “Jadi dulu saya mengajar seni tari dan tabuh di Mabes Polri, karena saya sudah lama mengabdi lalu diangkat menjadi PNS dan bertugas sebagai PNS di Bidang Seni dan Budaya Mabes Polri. Tetapi sekarang saya sudah pensiun,” lanjutnya.
Kini di usianya yang sudah tidak muda lagi, semangat untuk melestarikan seni dan budaya Bali khusunya dalam tari masih membara pada diri Anom Sutha. Saat pulang ke Tabanan ia pun selalu menyempatkan diri bertemu dengan seniman-seniman muda Tabanan untuk berbagai ilmu atau sekadar memberikan motivasi sehingga dapat membanggakan nama daerah seperti dirinya.
Editor : I Putu Suyatra