BALI EXPRESS, DENPASAR - Tari Gandrung menjadi tarian yang sangat sakral di Desa Suwung Batan Kendal, Sesetan, Denpasar. Sebab merupakan petapakan Ida Betara yang berstana di Pura Batan Kendal sendiri. Pementasan di luar desa dilaksanakan sangat hati-hati. Takut apabila seketika terjadi hal yang tidak diinginkan.
Ada beberapa jenis kesenian yang dikenal di Bali. Yakni kesenian wali, kesenian bebali, dan balih-balihan. Namun, dalam konteks tari gandrung yang merupakan Petapakan Ida Bhatara di Pura Batan Kendal dapat digolongkan menjadi keasenian sakral atau wali. Hal inilah yang ditampilkan Sekaa Gandrung Kertiyasa Banjar Swung Batan Kendal di ajang Bali Mandara Mahalango IV, Kalangan Angsoka Taman Budaya, Denpasar Sabtu, (12/8).
Kelian Desa Adat Suwung Batan Kendal, I Nyoman Sarna yang diwawancarai usai pementasan mengatakan, bahwa pada awalya Tarian Gandrung dipentaskan ketika masyarakat Banjar Suwung Batan Kendal mengalami musibah dilanda penyakit Grubug. Yaitu terjadinya kematian warga atau masyarakat secara terus menerus tanpa sebab yang pasti. Dimana pada saat itu jumlah masyarakat di Banjar Suwung Batan Kendal yang sebelumnya berjumlah 100 KK hanya tinggal 25 KK saja akibat kejadian tersebut.
Kondisi yang demikian karena masyarakat yang tidak mengindahkan pawisik bahwa Ratu Ayu Gandung menjadi sungsungan masyarakat Banjar Suwung Batan Kendal. Akhirnya, para warga percaya setelah melihat grubug tersebut. Kemudian pada Pujawali berikutnya, bila kemudian ditemukan Sarang Burung di Pura Batan Kendal, maka haruslah dibuatkan Gelungan Tarian Gandrung.
“Setelah melalui upacara yang suci dan sakral, maka Gelungan Tarian Gandrung tersebut menjadi seusungan masyarakat sebagai petapakan Ida Betara yang berstana di Pura Batan Kendal,” cerita Sarna.
Mengapa harus ditarikan oleh penari laki-laki? “Karena beliau itu cantik, kalau anak perempaun yang menarikan nanti bisa-bisa terlalu cantik, bisa jadi perebutan, itu menurut tutur tetua dulu,” kata Sarna.
Hal lain yang menjadi kekhawatiran Sarna ketika hendak mementaskan tarian tersebut di ajang Bali Mandara Mahalango. Sebab kesenian ini adalah sakral dan tidak adapt dipentaskan di sembarang tempat.
“Ini kan tarian yang sangat sakral, jadi kami membuat duplikatnya saja, karena memang tidak bisa dipentaskan di sembarang tempat. Di Desa kami pun biasanya ditarikan hanya saat Pujawali,” ungkap Sarna.
Sarna mengatakan, Tari Gandrung ini diawali dengan tari penyambutan berupa tari Puspanjali, yang ditarikan oleh 7 orang anak perempuan. Kemudian dilanjutkan oleh seorang anak laki-laki yang masih sangat belia. Kondisi ini mewajibkan laki-laki menarikan tari yang memiliki pakem untuk perempuan dengan lihai.
“Ya, Tari Gandrung ini memang ditarikan oleh seorang anak laki-laki yang belum akil baliq, ini saja penarinya kelas 2 SD,” tutur Sarna.
Hal tersebut diakui oleh salah satu warga desa yang ikut menonton pada pertunjukkan hari ini, Ni Luh Sudarmi. “Memang selalu setiap piodalan ini dipentaskan, dan tidak pernah terjadi grubug lagi ketika kami rutin mementaskan,” akunya dengan menyiratkan senyum.
Meski kini Sekaa Gandrung Kertiyasa hanya mementaskan duplikat, pernah sesekali Tari Gandrung Desa Suwung mementaskan yang asli. “Pernah beberapa kali memesntaskan yang asli, tapi itu dulu. Sebenarnya Beliau sangat senang kita pentaskan Tarian Gandrung ini. Hanya saja sekarang kan zaman semakin modern, tempat-tempat itu sucinya kadang kita rasa berkurang jadi kurang pantas dipentaskan di tempat seperti itu,” ucap Sarna.
Bahkan tawaran untuk pentas di Gedung Ksiarnawa pun sempat ditolaknya. “Karena tarian sakral tidak cocok di tempat tertutup seperti itu. Kalau ini di kalangan Ratna Kanda kan terbuka dan memang cocok saja,” kata Sarna.
Meski demikian, Tari Gandrung dengan gelung duplikat tidak menyurutkan totalitas mementaskan. “Kalau memang metaksu kan ya pasti nanti banyak pengibing yang menghampiri penari. Karena Gandrung memang seperti itu. Pengibing yang mencari bukan penarinya,” tutur Sarna.
Ia pun bersyukur mendapat kesempatan untuk mengenalkan tradisi khas masyarakat Sesetan pada Bali Mandara Mahalango ke-4. “Kita diberikan wadah seperti ini, kami menanggapinya dengan positif, jadi orang-orang bisa lebih mengenal bahwa ada tarian unik dari Sesetan, meski duplikat tapi tetap totalitas,” tutup Sarna seraya tersenyum.
Editor : I Putu Suyatra