BALI EXPRESS, TABANAN - Lolos dari maut dalam Perang Lengkong membuat Pejuang asal Puri Anom Tabanan, ini banyak mengucap syukur dan lebih menghargai kehidupannya. Namun sebagai Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang bergabung dalam Militer Akademi Tangerang (MAT), menantang maut merupakan hal yang biasa. Namun ia pun kembali selamat dari peperangan.
Sembari menerawang ke masa lalunya, I Gusti Ngurah Rai Sidhicarya, 98, kembali bercerita. Dalam perjalanan hijrah ke Jawa Tengah, prajurit Siliwangi difitnah oleh PKI Muso dan dikatakan pro Belanda karena keberadaan prajurit Siliwangi dianggap rintangan bagi PKI Muso. Sampai akhirnya pada tanggal 18 September 1948, pemberontkan PKI Muso meletus di Kota Madiun. Pada saat yang sama Republik Indonesia juga menghadapi penyerbuan Belanda dalam Agresi Militer Belanda II.
“Setelah pemberontakan berhasil diatasi, prajurit Siliwangi diminta bergerak kembali ke Jawa Barat oleh Panglima Besar Soedirman karena terjadi Agresi Militer Belanda II yang juga membuat Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta ditawan oleh Belanda,” tuturnya.
Pergerakan kembali ke Jawa Barat pun dilakukan dengan long march alias berjalan kaki dengan segala keterbatasan. Para prajurit hanya akan berjalan pada malam hari saja. Karena pada siang hari banyak pasukan Belanda yang mengintai dari darat maupun udara dan siap meluncurkan roket-roketnya untuk menghabisi para prajurit Indonesia.
“Ini sungguh pengalaman yang tidak bisa dilupakan seumur hidup. Di samping kekurangan makanan, kami juga kelelahan, kurang tidur dan istirahat, serta harus siap mati jika pasukan Belanda menyerang. Tetapi didorong jiwa patriotism semua penderitaan dapat diatasi,” tegas Rai Sidhicarya.
Sampai akhirnya prajurit Siliwangi diperintahkan untuk bergabung dengan laskar rakyat yang ikut berjuang sehingga para prajurit diberikan makanan dan bisa beristirahat walaupun sekejap. Namun siapa sangka, jika makanan yang diberikan sebagian besar diberikan racun oleh anggota DI (Dahrul Islam) Karto Suwiryo yang menyamar menjadi rakyat biasa. Dan lagi-lagi, Rai Sidhicarya lolos dari maut karena makanannya tidak berisi racun, ia hanya tertidur sehingga senjatanya dilucuti.
“Prajurit yang hidup pun dipaksa untuk bergabung menjadi pasukan DI namun kami menolak keras. Bahkan rekan saya ada yang langsung dibunuh dan dipenggal kepalanya dan dikubur tanpa kepala karena menolak,” imbuhnya.
Berkat kecerdikannya, Rai Sidhicarya kembali lolos dari maut setelah memperdaya anggota DI dengan mengatakan bahwa ia tengah memiliki seorang istri yang tengah hamil tua dan apabila ditinggalkan maka akan menjadi dosa yang sangat besar.
“Dan akhirnya saya pun dilepaskan dengan alasan akan mencari istri saya yang hamil. Kemudian saya kembali ke markas dengan uang milik pencopet yang diserahkan kepada saya karena saya mengaku juga sebagai pencopet di stasiun kereta api,” paparnya lagi.
Tiba kembali di Jawa Barat, Rai Sidhicarya pun menjalani perawatan atas luka-luka yang ia alami. Kemudian kembali bergabung dengan pasukan Kala Hitam dan ditugaskan menangani kesehatan. Sebelum itu ia menyempatkan pulang ke Tabanan untuk bertemu dengan keluarganya, meskipun keluarganya di Puri Anom Tabanan sempat mengira jika dirinya sudah gugur dalam pertempuran karena putusnya komunikasi.
“Keluarga di rumah sempat ingin membuat upacara ngaben untuk saya. Karena saya dikira sudah gugur dalam pertempuran,” lanjutnya sembari tertawa.
Berkat jasanya yang berjuang mempertahankan kemerdekaan, berbagai penghargaan pernah diraih suami dari alm.I Gusti Ayu Suwarni tersebut, mulai dari penghargaan Bintang Gerilya yang diberikan oleh Presiden Soekarno, Medali Sewindu Angkatan Perang RI oleh Menhan Ali Sastrowidjojo, Satyalantjana Kesetiaan oleh Menhan Djuanda, Satyalantjana Peristiwa Aksi Militer Kesatu oleh Menhan Djuanda, Satyalantjana Peristiwa Aksi Militer Kedua oleh Menhan Djuanda, Satyalantjana Gerakan Operasi Militer I, II, V, hingga Satyalantjana Bhakti. Pasca pensiun di tahun 1965 dengan pangkat Mayor, Rai Sidhicarya pun kini menjalani kehidupannya sebagai wiraswasta.
Pada momentum peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 72 ini, dirinya pun berpesan kepada generasi muda agar senantiasa menanamkan rasa nasionalisme dan patriotisme dalam diri masing-masing. Meskipun tidak ikut berperang seperti dirinya dulu, para generasi muda saat ini harus tetap siaga untuk memerangi hal-hal negative yang dapat memecah belah bangsa. “Di era seperti saat ini generasi muda lah yang akan menjadi pejuang, bukan berperang melawan penjajah dengan senjata seperti dulu tetapi melawan hal-hal negative yang dapat memecah belah bangsa, karena NKRI harga mati,” pungkasnya. (habis)
Editor : I Putu Suyatra