Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pugar Pura, Lulkluk Pertahankan Sejarah dengan Sistem Restorasi

I Putu Suyatra • Selasa, 19 September 2017 | 16:10 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, MENGWI - Di tengah maraknya pemugaran pura belakangan ini, Desa Adat Lukluk, Mengwi, Badung sepertinya patut ditiru. Pasalnya, saat memugar, Pura Desa dan Puseh yang sudah berusia lebih dari 50 tahun, menuruti sistem restorasi. Bahan yang lama, berupa batu padas atau paras tetap digunakan. Jika pun ada yang rusak, maka diganti dengan bahan yang sama. Pun, corak ukirannya dibuat sama persis.


Pura Desa dan Pura Puseh Desa Adat Lukluk yang bertempat di satu kawasan tampak berdiri kokoh. Meski usianya sudah lebih dari setengah abad, namun secara umum bagian bangunan masih bagus. Hanya saja, ada beberapa yang sudah rapuh dan patah. Di samping itu, menariknya, tidak seperti ukiran kebanyakan, ukiran di pura ini sangat khas.


Bendesa Adat Lukluk, I Ketut Suardana yang ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) mengakui, Pura Puseh dan Pura Desa Lukluk yang terletak di sisi sebelah timur Jalan Raya Lukluk-Sempidi, Badung tersebut memang sudah kuno. Berdasarkan torehan angka di kori agungnya, tertera tahun 1954, namun tidak terdaftar sebagai cagar budaya. “Memang sudah kuna dresta, sudah lama. Diperkirakan terakhir dipugar  tahun 1954,” ujarnya.


Tak hanya Pura Puseh, Pura Dalem Desa Adat Lukluk juga dikatakannya lebih kuno. Pura tersebut sempat diteliti oleh orang Belanda dan dikatakan sudah ada pada tahun 1940. “Ada orang Belanda, Mr. Smith yang membantu mempublikasikan. Dikatakan tahun 1940. Bapak saya dulunya biasa menabuh gamelan gong di Pura Puseh dan Dalem. Gong tersebut berisi angka tahun 1938,” paparnya.


Namun demikian, mengenai sumber tertulis yang khusus menerangkan pura tersebut, belum ditemukan. Menariknya, ia justru menemukan sebuah foto kuno di internet. Di foto tersebut tertera bale kulkul Pura Desa Lukluk tersebut. Tapi tidak ada tahunnya.


Kembali ke soal pemugaran Pura Desa dan Puseh yang sudah berlangsung sejak Agustus lalu dan ditarget selesai akhir Oktober mendatang, Suardana menyatakan tetap menggunakan bahan asli berupa batu padas atau yang di Bali lebih dikenal sebagai batu paras. “Saya tetap menggunakan bahan yang sesuai dengan aslinya. Stilnya juga sama dengan yang sudah ada,” jelasnya.


Pensiunan PNS Pemprov Bali tersebut tak menampik ada beberapa perubahan, namun tetap disesuaikan. Salah satunya adalah, panyengker atau temboknya ditambah tinggi. Pun tembok tersebut sebelumnya hanya berupa tumpukan batu, namun kini ditambah ukiran yang sam persis dengan gaya ukira kori agung. “Tembok yang di sebelah barat awalnya hanya paras yang ditumpuk sedemikian rupa. Selain memang sudah ada yang rusak dan rapuh, memang tidak sesuai dengan stilnya dengan kori agung. Mungkin panglingsir dulu tidak menuntaskan pengerjaannya karena alasan tertentu, sehingga agar sekedar dipagari saja. Jadi sekarang ditambah ukiran disesuaikan dengan kori agung,” paparnya.


Dilanjutkannya, ukiran yang ada di pura tersebut adalah hasil karya para leluhurnya. Oleh karena itu, ukirannya sangat khas. Kini, untuk meniru ukirannya, Suardana mendatangkan ahli ukir dari Ubud. “Semua dari panglingsir yang mengukir, karena itu ukirannya khusus. Oleh karena itu, kini kami menggunakan pengukir dari Ubud, spesialis ukir paras. Saya minta agar meniru agar semirip mungkin,” akunya.


Di samping itu, Suardana juga mengatakan proyek bernilai Rp 600 juta tersebut didanai dengan hibah Pemkab Badung melalui proposal ke Dinas Kebudayaan. “Anggarannya dari Pemkab Badung sebesar Rp 600 juta. Ada juga dari dana Provinsi. Kalau kurang sedikit-sedikit, kan biasa swadaya,” katanya.


Pria yang sudah menjabat bendesa semenjak 2012 tersebut mengatakan, pemugaran ditarget selesai akhir Oktober 2017, karena November akan dilaksanakan patirtan atau pujawali. “November akan diadakan patirtan. Jadi sebelum itu agar sudah selesai semua, sehingga bisa diplaspas,” tekannya.


Ia pun sempat mendengar banyak situs, khususnya pura yang dipugar dan diganti dengan bahan yang baru. “Mungkin kini banyak yang mencari praktis, kuat, dan tahan lama. Memang sih bagus itu, tapi kalau itu membuat (pura) baru. Kalau sudah ada, tentunya lebih bagus arsitekturnya dipertahankan seperti semula,” jelasnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#lukluk #restorasi #mengwi #pura #badung