AMLAPURA, BALI EXPRESS - Warga di Desa Tenganan Pegringsingan sangat patuh terhadap ketentuan adat yang tertuang dalam 61 awig-awig atau aturan adat setempat. Pola pemerintahan desa yang masih tradisional, mengantarkan salah satu desa tua di Bali ini sebagai desa wisata terbaik Nasional.
Dari 1.831 desa wisata di Indonesia, Tenganan Pegringsingan di Kecamatan Manggis, Karangasem, dinobatkan sebagai 50 besar desa wisata terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Tidak dipungkiri, yang istimewa dari desa ini adalah pola kehidupan masyarakatnya jauh dari sentuhan peradaban modern.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno saat berkunjung ke Tenganan, pertengahan September lalu, pun mengungkapkan kekagumannya. Selain itu, untuk memajukan ekonomi warga, menteri telah memesan 120 lembar kain tenun Gringsing khas Tenganan sebagai sovenir pada perhelatan G20 di Bali.
Dampaknya sangat positif. Pesanan Menparekraf ini mampu melibatkan 400 penenun yang merupakan warga asli Tenganan Pegringsingan. "Ini jadi motivasi kami untuk menyelesaikan tantangan dalam mengelola desa," ujar Ketua Pengelola Desa Wisata Tenganan Pegringsingan, Putu Wiadnyana, Jumat (10/12).
Tenganan Pegringsingan dinobatkan sebagai desa wisata terbaik kategori desa wisata berkembang. Menurut Wiadnyana, ini merupakan hal wajar lantaran pengelolaan desa oleh masyarakat sebagai destinasi belum lama dilakukan. Meskipun Tenganan sejak lampau dikenal sebagai destinasi wisata di kancah dunia.
"Artinya pengelolaan secara langsung oleh masyarakat baru-baru dilakukan. Misalnya pengelolaan kawasan atau manajerial, rancangan paket kunjungan, produk hingga pemasaran lebih banyak dilakukan warga setempat, dan ini belum lama," tegasnya.
Menurutnya, Tenganan Pegringsingan dapat unggul karena tidak memiliki daya tarik buatan. Tidak dibuat semata-mata untuk kebutuhan pariwisata. Misalnya dari sisi adat-istiadat. Warga setempat memiliki aktivitas yang cukup padat tiap harinya dalam menjalankan upacara keagamaan. Kebiasaan warga ini sudah berlaku sejak lampau. "Hampir setiap hari ada ritual," katanya.
Kemudian pola pemukimannya terlihat menyerupai sistem benteng. Dalam kepercayaan warga setempat, masyarakat memuja Dewa Indra sebagai dewa tertinggi. Manifestasinya sebagai dewa perang. Model rumah-rumah warga tampak berbeda dan menjadi unik dari rumah warga Bali umumnya. Hampir seluruh bagian rumah masih tradisional.
Begitu pula sistem pemerintahan, penggolongan masyarakat, dan perspektif hukum yang mengacu pada 61 awig-awig. Aktivitas warga yang menenun kain Gringsing dalam area rumah warga juga tak kalah menarik dari desa Bali Aga tersebut. "Daya tarik alam juga termasuk. Desa kami dibentengi bukit dan hutan yang masih terjaga oleh aturan adat," katanya.
Wiadnyana mengakui banyak tantangan yang mesti diselesaikan pengelola. Sehingga target menyamai Desa Wisata Penglipuran di Bangli dan Pemuteran di Buleleng sebagai desa wisata mandiri dapat terwujud. "Sekarang lihat sistem manajemen, melibatkan masyarakat dan kontribusi ke pemerintah dan desa sangat besar. Bisa dikatakan lebih maju," ucapnya.
Menurutnya, banyak desa di Bali terutama Karangasem punya potensi yang bagus. Jika dikelola dengan baik, sangat mungkin bisa bersaing di tingkat Nasional. "Desa di Bali levelnya sudah Nasional bahkan melampaui. Saya kira, selain Tenganan, desa wisata lain juga dapat bersaing sehingga ada pemacu. Dampaknya sangat besar untuk ekonomi warga setempat, kesejahteraannya," pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra