Tenun cag-cag dikenal karena saat pengerjaan tenun, menghasilkan suara cag-cag dari alat tenun saat dioperasikan.
“Ada beberapa alat yang digunakan diantaranya, blida, seleran, apit, jeriring, serat (seperti sisir), por serta pandalan cagcag. Alat-alat ini semua dibuat sendiri, alat ini juga dari dulu sekali, cuman alat-alat kecilnya saja yang pernah diperbaiki, untuk kayu besar ini masih dari tahun 80an,” ujar Nyoman Jermi,50 saat ditemui di rumahnya, Selasa (29/3).
Tenun cag-cag sendiri merupakan kerajinan pembuatan kain dengan menggabungkan benang secara melintang dan memanjang dengan pola tertentu secara manual. Para pengarajin tenun cag-cag memerlukan konsentrasi penuh agar setiap langkah dalam pembuatan pola pada kain tenun khas Jembrana itu tidak salah.
“Harus hati-hati, biar motif atau polanya sesuai dengan yang diingikan,” sebut wanita paruh baya yang tinggal di Lingkungan Pemedilan, Kelurahan Dauhwaru, Kecamatan/Kabupaten Jembrana.
Nyoman Jermi,50 merupakan salah satu pengerajin tenun tenun tradisional (cag-cag) yang masih bertahan di era gempuran moderenisasi saat ini. Wanita paruh baya kelahiran tahun 1972 itu menekuni tenun tradisional sejak berusia 15 tahun. Keahlian menenun diwariskan oleh Ibunya dan hingga saat ini masih dilestarikannya.
“Sejak umur 15 tahun sudah membuat kain tenun cag-cag. Diajari ibu saya sendiri. Tapi sekarang sudah jarang yang aktif menenun seperti saya karena profesi ini banyak menyita waktu,” imbuhnya.
Dalam pembuatan tenun khas Jembrana atau dengan motif songket bulan bintang, lanjut Nyoman Jermi memerlukan waktu paling cepat hingga 20 hari. Bahkan tidak jarang dirinya menghabiskan waktu hingga satu bulan untuk membuat satu motif kain tenun cag-cag. Untuk satu set kain tenun cag-cag biasanya terdiri dari udeng, saputan dan kamben.
“Paling cepat 20 hari, paling lama 1 bulan penyelesaian menurut permintaan motif tenunan. Dalam proses pembuatan, saat menata benang paling lama waktunya bisa memakan waktu sampai 2 (dua) hari untuk menata benangnya saja,” jelasnya.
Satu set kain tenun cag-cag biasanya dibandrol hingga Rp 600 ribu. Pesanan kain tenun datang dari beberapa toko kain di Jembrana dan juga dari perorangan. “Pesanan saat ini sudah jarang, saya saja kalau tidak ada pesanan seperti sekarang tidak menenun. Kalau dulu semua berlomba membuat motif baru," imbuhnya.
Pembuatan motif disebut Jermi menjadi bagian tersulit dalam pembuatan kain tenun. Harus dihitung satu sisir atau menghitung naik turun untuk membuat motif. Memasukan benang juga sulit, apalagi umurnya yang sudah tua seperti saat ini.
“Pengelihatan sudah tidak bagus, agak sulit masukan benang. Mudah-mudahan untuk ke depannya harga bisa meningkat, apalagi harga benang juga saat ini sudah naik," pungkasnya. Editor : I Putu Suyatra