Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lika-Liku Nelayan Penyeberangan ke Pulau Menjangan

I Putu Suyatra • Kamis, 5 Mei 2022 | 00:54 WIB
NELAYAN: Gede Lilit, nelayan yang kesehariannya mangkal di Pelabuhan Banymandi, Banyuwedang, Dusun Batuampar, Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, untuk menyeberangkan pemedek yang nangkil ke Pulau Menjangan (I Putu Mardika/Bali Express)
NELAYAN: Gede Lilit, nelayan yang kesehariannya mangkal di Pelabuhan Banymandi, Banyuwedang, Dusun Batuampar, Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, untuk menyeberangkan pemedek yang nangkil ke Pulau Menjangan (I Putu Mardika/Bali Express)
Keberadaan Pulau Gili Menjangan, Desa Sumberkelampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, membawa berkah bagi para nelayan di kawasan Taman Nasional Bali Barat. Mereka ikut kecipratan rejeki saat ada pemedek yang menggunakan jasanya untuk menyeberangkan saat nangkil ke kawasan Pulau Gili Menjangan. Tidak jarang pula para wisatawan turut menggunakan jasa nelayan untuk diving dan snorkeling di kawasan Pulau Menjanga.

I Putu Mardika, Gerokgak

DERU suara mesin boat terlihat lalu lalang di kawasan Pelabuhan Banyumandi, Banyuwedang, Banyar Dinas Batuampar, Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak pada Sabtu (30/4) lalu. Sejumlah boat juga terlihat datang dan pergi mengantarkan pemedek yang akan sembahyang.

Ada pula puluhan boat terlihat berjejer di dermaga sembari menunggu datangnya penumpang yang hendak disebrangkan. Sejumlah nelayan siap untuk mengantarkan para pemedek yang hendak nangkil ke Pura Gili Menjangan, yang terletak di Pulau Menjangan.

Mereka begitu ramah menawarkan jasa penyebrangan kepada pemedek yang baru sampai di pelabuhan. Jika sudah ada kesepakatan, maka para nelayan ini dengan sigap mengambil banten untuk dibawa ke boat.

“Silahkan naik (boat, Red) maksimal boleh muat 10 penumpang,” ungkap salah seorang nelayan sembari menunggu pemedek yang keluar dari mobil usai memarkir kendaraan di areal pelabuhan Banyumandi.

Jika ditelisik, boat ini rata-rata menggunakan mesin berkapasitas 40 Pk. Panjang boat berbahan kayu ini rata-rata memiliki dimensi panjang hampir 8 meter, dengan lebar 2 meter serta tinggi 1,5 meter.

Meski terlihat keropos dengan sejumlah kayu sudah mulai rapuh termakan usia, namun kayu-kayu yang menyusun boat ini masih cukup kokoh menerjang ombak sepanjang perjalanan menuju Pulau Menjangan.

Jarak antara pelabuhan Banyumandi dengan Pulau Menjangan mencapai 6,5 kilometer di sebelah utara Pulau Bali. Sedangkan durasi tempuhnya bisa mencapai 30 menit dengan kondisi cuaca normal. Namun, jika gelombang agak tinggi, butuh waktu hingga 40-45 menit untuk sampai di lokasi.

Salah seorang nelayan, Gede Lilit, 45 kepada Bali Express (Jawa Pos Group) menceritakan jika dirinya sudah 9 tahun mengais rejeki dari mengantar pemedek dan wisatawan untuk menuju Pulau Menjangan.

Hampir setiap hari dirinya mangkal bersama boat milik sang majikan bernama Made Lasma. Tarif sewa boat untuk menyebrang  ke Pulau Menjangan pulang pergi (pp) di kisaran Rp 465 ribu. Jumlah penumpangnya maksimal 8 orang.

“Mau 2 orang, lima orang, maksimal 10 orang, tetap bayarnya Rp 465 ribu. Itu sudah pulang pergi. Kami menunggu pemedek sampai selesai sembahyang,” ujarnya sembari mengemudikan boat menyebrangkan koran ini menuju Pulau Menjangan untuk bertirtayatra.

Umumnya, pemedek yang ramai nangkil ke Pura Gili Menjangan saat hari Sabtu, Minggu dan hari libur. Pun demikian saat hari Purnama dan Tilem serta hari Pujawali yang jatuh pada Purnama Sasih Kapitu.

Sedangkan, untuk wisatawan yang melakukan aktifitas snorkeling dan diving hampir setiap hari. “Dulu sebelum Pandemi Covid-19 biasanya memang ramai. Tetapi saat pandemic nyaris tidak ada. Nah sekarang wisatawannya sudah mulai ada, Cuma masih jarang,” papar pria yang bermukim di Desa Goris, Kecamatan Gerokgak.

Selama pandemi yang berlangsung hampir dua tahun, ia memilih bekerja secara serabutan agar tetap bisa menyambung hidup. Sehari-hari, ia juga beternak sapi untuk menambah penghasilan di rumahnya.

Sejak pandemi melandai, dalam seminggu bisa dua kali menyebrangkan wisatawan maupun pemedek untuk bertirtayatra ke Pulau Menjangan. Setiap menyebrangkan ia diberi upah oleh majikan Rp 90 ribu.

Biaya untuk pembelian bensin sebanyak 10-12 liter saat menyebrangkan pulang pergi sudah ditanggung oleh majikan. Namun, jika ada pemedek yang memilih mekemit (menginap di Pura) maka konsekuensinya mereka akan dikenakan biaya dobel. Karena ia kerap menunggu hingga keesokan harinya di Pura.

“Sehari Rp 465 ribu. Kalau mekemit, dikenakan dua kali Rp 465 ribu. Kadang memilih stand by saja di Pulau Menjangan sampai besok biar tidak bolak balik. Ya sambil menunggu kadang saya juga memancing cumi-cumi di kawasan perairan Menjangan,” pungkasnya.
Photo
Photo
Editor : I Putu Suyatra
#bali #nelayan #pulau gili menjangan #buleleng