Negarakertagama bukanlah satu-satu karya sastra yang digubah oleh Mpu Prapanca. Masih ada sejumlah karya lainnya, di antaranya Bilatra Prakerta. Prapanca bukanlah nama asli. Nama ini digunakan untuk menyamarkan identitas aslinya sebagai seorang mantan dharma dyaksa ring kasugatan atau pejabat agama Budha di Majapahit. Berdasar penyelidikan filologi, diketahui, namanya adalah Dang Acharya Nadendra. Nama yang sama tercantum dalam prasasti Canggu dan Sekar.
Prapanca adalah seorang keturunan pujangga bernama Samenaka. Ia merupakan seorang penggubah kakawin yang dipilih oleh raja sebagai pembesar urusan agama Budha atau Dharma Dyaksa Kasugatan. Dengan demikian, bakat kepujangaan Prapanca merupakan warisan dari ayahnya.
Sejak kecil Prapanca sering menghadap raja. Dia bercita-cita mengikuti perjalanan raja ke mana pun juga. Kelak di kemudian hari cita-cita ini dikabulkan, dan rangkuman perjalanannya dituliskan dalam Kakawin Desa Warnana, merupakan judul asli Negarakertagama yang berisi gambaran Kerajaan Majapahit dan perjalanan raja mengunjungi desa-desa yang berada di sekitar kekuasaan Majapahit.
Perjalanan itu berlangsung pada tahun 1281 Caka. Prapanca turut mengiringi perjalanan Raja Majapahit. Jarak waktu perjalanan raja Majapahit dengan penggubah Negarakertagama adalah 6 tahun. Sementara dalam 6 tahun itu banyak peristiwa terjadi, termasuk keretakan hubungan Prapanca dan raja.
Saat masih menjabat terdapat tiga kepercayaan besar di Majapahit yang disebut dengan Tri Paksa yakni Siwa, Budha dan Brahma. Prabu Hayam Wuruk atau Rajasa Negara mempunyai minat besar agar ketiga hidup rukun. Tiga aliran itu diurus oleh pembesarnya masing-masing. Kehidupan beragama yang harmonis itu bahkan bukan hanya untuk wilayah utama Majapahit, namun untuk wilayah Jawa bagian barat. Para Pendeta Budha dilarang menginjakkan kaki di wilayah Jawa sebelah barat. Namun kalau boleh berkunjung ke wilayah Timur Jawa dan Bali. Wilayah Timur Majapahit memiliki nama-nama besar Pandita Budha terkemuka seperti Mpu Bharadah dan Mpu Kuturan.
Sebagai pembesar agama Budha, Prapanca menaruh perhatian besar pada renovasi bangunan yang telah rusak. Pada masa Hayam Wuruk, banyak percandian yang mulai rusak bahkan tidak terpelihara dengan baik. Candi Makam dan bangunan luhur mulai diperbaiki, bahkan yang belum memiliki prasasti diperintahkan untuk mulai dibuat oleh ahli sastra. Meksi sang raja beragama Siwa, namun raja terkesan tidak membeda-bedakan.
Sebagai pejabat agama Budha, tentu saja Prapanca terlibat dalam tugas-tugas ini. Namun bukan berarti persinggungan antara pengaruh Siwa dan Budha tidak terjadi. Hilangnya Arca Aksobya di Candi Siwa Budha yang didirikan Prabu Kertanegara disinggung oleh Mpu Prapanca.
Seperti diketahui, Prabu Kertanegara memeluk Siwa Budha dan candi makamnya diletakkan dua arca yakni arca Aksobya dan arca Siwa bermahkota. Namun arca itu hilang. Hilangnya arca diketahui ketika seorang pandita Budha bernama Pada Paduka berziarah ke candi tersebut. Namun sang penjaga candi heran, karena sang pandita bersembah di hadapan Candi Siwa.
Pandita itu bercerita bahwa sebelum berkelana di candi itu, ada Aksobya. Namun kali ini, ketika ia datang, sudah tidak ada. Meski dalam pupuh Prapanca menuliskan arca itu hilang ke nirwana, tetapi kemungkinan ia tahu bahwa arca tersebut hilang diambil oleh pemeluk Siwa. Namun ia tak mau menuduh, ia hanya menulis sebagai bentuk protes halus mengenai hilangnya arca Aksobya kepada raja yang getol mengusahan kerukunan antar pemeluk Siwa dan Budha. Editor : Nyoman Suarna