Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ketika Jukung Tradisional Khas Sanur Kembali Mendapat Panggung

I Dewa Gede Rastana • Jumat, 19 Agustus 2022 | 03:31 WIB
SANFEST : Jukung Tradisional yang mengikuti parade di Sanur Festival ke-XV. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)
SANFEST : Jukung Tradisional yang mengikuti parade di Sanur Festival ke-XV. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)
DENPASAR, BALI EXPRESS - I Wayan Jelantik begitu sumringah ketika Sanur Festival kembali diadakan. Bukan bagaimana, karena dalam Sanur Festival ini, jukung tradisional kembali mendapat panggungnya setelah lama absen karena pandemi.

 

Dalam Sanur Festival ke-XV tahun ini, panitia menggelar parade jukung tradisional. Wayan Jelantik selaku Ketua Kelompok Jukung Penambang Dewi Satayujanagandhi Sanur pun menginformasikan kepada seluruh anggotanya. Dari 170 anggota, namun tak semua kebagian mengikuti parade dan hanya 25 jukung saja yang dilibatkan.

 

"Jukung ini beda dengan yang lain karena masih menggunakan layar dan tidak bermesin. Bisa dibilang di Sanur ini satu-satunya yang masih tersisa di Bali," ujar Wayan Jelantik.

 

Bendeganya pun kata Wayan Jelantik semua orang Sanur yang sudah me-banjar adat. Tapi kebanyakan anggotanya yang sudah berumur, dan sebagian kecil saja yang anggotanya masih anak-anak muda.

 

Parade yang diikuti yakni seluruh jukung melintasi Pantai Segara menuju pantai di depan Sanur Beach Hotel. Kata Jelantik, wisatawan yang berkunjung dipersilahkan ikut serta dalam parade sembari menikmati keindahan pantai yang dilintasi. "Kalau lomba bisa lebih banyak, bisa 70 jukung," tuturnya.

 

Lanjut Jelantik, mengingat masih menggunakan layar, para bendega atau kapten jukung wajib yang namanya paham akan situasi alam, terutama angin. Para anggota juga diajarkan bagaimana mengetahui arah angin dan situasi gelombang. Selain itu, seluruh bendega memiliki sertifikat keamanan jikalau terjadi sesuatu di tengah laut. "Dari tahun 1974, seluruh bendega sudah memiliki sertifikat keamanan ini. Jadi ketika ada situasi kurang kondusif, bendega bisa mengatasi masalahnya sendiri," imbuhnya.

 

Awalnya jukung-jukung ini dipergunakan untuk menangkap ikan. Wajar saja karena daerah Sanur merupakan daerah pesisir dan kebanyakan dulu warganya berprofesi sebagai nelayan. Lambat laun, ketika pariwisata Bali mulai naik, jukung tradisional ini juga beralih fungsi. "Kalau dulu menangkap ikan, kalau sekarang menangkap wisatawan," tutup Jelantik.
Photo
Photo
Editor : I Dewa Gede Rastana
#parade jukung #jukung tradisional khas sanur #sanur festival #nelayan sanur