I DEWA MADE KRISNA PRADIPTA, Denpasar
SEPERTI cerita Ketut Gede Kumara Jaya, mantan chef di salah satu villa dan hotel di Badung ini. Kenyamanan yang didapat dengan dapur yang lebih lengkap kini tinggal kenangan. Ia pun akhirnya memilih berjualan ngemper di pinggir kali di kawasan Tukad Mati, Jalan Bhuana Kubu, Denpasar Barat dengan nama Warung Tepi Kali.
"Tahun 2021 saya mulai buka disini saat pandemi. Mau tidak mau karena pariwisata saat itu sedang mati total," ujar Kumara Jaya yang lebih senang dipanggil Agus Eben ini.
Berbekal pengalaman memasak itu, menu andalan yang ditawarkan pada usaha barunya ini yakni Ayam Guling dan Sate Lilit khas bumbu Bali. Menu ini dibuat bertujuan untuk mempertahankan budaya lokal Bali melalui kuliner. Ayam Guling menurutnya spesial, karena selain digunakan untuk santapan, juga bisa dipakai untuk keperluan upakara.
"Harganya dari 60 sampai 80 ribu untuk yang berat 1kilo. Sehari bisa jual 2-3 ayam guling," kata Agus Eben.
Pada proses pembuatannya, tak jauh beda dengan proses pembuatan babi guling. Satu ekor Ayam yang telah dibersihkan diberikan bumbu oles dan bumbu rempah racikan beserta daun singkong dimasukkan ke dalam tubuh Ayam. Kemudian bagian belakang ayam diikat dan ditusukkan ke besi pengguling. Selanjutnya ayam diletakkan diatas bara api sembari diguling selama kurang lebih 40 menit. Kematangan ayam terlihat dari perubahan warna daging yang kemerahan. "Matangnya kira-kira 40 menit. Pembeli biasanya memesan dua hari atau sehari sebelumnya," lanjutnya.
Tidak hanya Ayam Guling, menu khas Bali lainnya yang paling dicari penikmat kuliner di Warung Tepi Kali diantaranya, Sate Lilit, Lawar Ayam, Nasi Campur Bali, Sate Tusuk, dan Ayam Panggang. (*)