Namanya Made Wikan Priyanta, 31, baru pulang usai merantau tiga tahun di Negeri Sakura, Jepang. Jengah rasanya, ia pun memutuskan kembali ke Tanah Air dan melanjutkan hidup bersama keluarga kecilnya.
Bermula dari keinginan memiliki usaha mandiri, tercetus ide untuk berjualan tuak manis di Denpasar dengan menggunakan sepeda motor. Setiap hari Made Wikan mangkal di sebelah timur GOR Ngurah Rai, Denpasar.
Made Wikan berjualan dari pukul 10.00 hingga pukul 16.00 Wita. Namun terkadang saat sedang laris-larisnya, dalam 4 jam saja tuak manisnya sudah ludes terjual. Tuak yang ia jual ini, diambil langsung dari Bangli.
“Kebetulan paman saya buat tuak, jadi setiap pagi saya ke Bangli untuk ambil tuaknya. Sehari rata-rata bawa 20 liter tuak,” ujar lelaki yang tinggal di Batubulan ini saat ditemui di lokasi, Selasa (17/1).
Ia memilih berjualan tuak keliling karena terinspirasi dari penjual tuak di Buleleng. Wikan melihat peluang tersebut karena di Denpasar belum ada penjual tuak manis keliling. Bermodalkan sepeda motor, kendi, dan potongan bambu ia pun memulai usahanya.
Made Wikan menyebutkan, ada tiga model tuak manis yang dijual, yakni es tuak manis dengan harga Rp 5 ribu, tuak manis botolan ukuran 600 ml seharga Rp 13 ribu, dan kemasan botol ukuran 1,5 liter dengan harga Rp 30 ribu. Tuak manis ini bisa bertahan hingga 1,5 hari.
Selain menjual tuak manis, ia juga menjual loloh kayu manis dengan harga Rp 10 ribu per botol ukuran 600 ml.
Untungnya, selama seminggu berjualan tuak manis, respon yang ia terima pun sangat positif. Bahkan tidak sedikit pelanggan yang kembali datang. Pembeli tuak manisnya rata-rata usia 24 tahun ke atas. “Mereka yang suka minum tuak manis, pasti nyari lagi ke sini. Karena ini asli tanpa ada campuran, apalagi ini tidak memabukkan,” tuturnya.
Di waktu sepi, ia bisa mengantongi uang Rp 300 ribu dalam sehari. Sementara saat sedang ramai, sehari ia bisa berjualan hingga Rp 500 ribu.
Ke depannya Wikan berencana membuka tempat penjualan tuak manis. Selain itu, ia juga berencana buat es krim dari tuak manis. “Sudah ada yang buat di Ubud, saya mau coba juga membuat untuk pengembangan usaha,” tandasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya