Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sewindu Berpulangnya Gde Dharna ; Dikenang Lewat Karya, Diingat Sepanjang Masa

Dian Suryantini • Senin, 18 September 2023 | 00:22 WIB
Seniman serta mantan pejuang kemerdekaan I Gde Dharna.
Seniman serta mantan pejuang kemerdekaan I Gde Dharna.

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Seniman dan budayawan I Gde Dharna telah lama berpulang. Tahun 2023 ini tepat sewindu kepergiannya. Gde Dharna yang terkadang disapa Pan Gloyoh itu merupakan seorang veteran yang pernah berjuang pada masa penjajahan.

 

Tetapi ia lebih dikenal sebagai seorang seniman, budayawan bahkan maestro lantaran karya-karyanya yang melegenda. Karya Gde Dharna berupa lagu, film, naskah drama tari, hingga karya sastra berupa novel dan puisi.

 

Karya-karya Gde Dharna selalu diburu oleh seniman. Tatkala musim Pesta Kesenian Bali (PKB) tiba, para kelian, sekee gong dan seniman lainnya selalu berdiskusi dengannya. Dharna mendapat jawatan untuk menciptakan lagu maupun garapan lainnya. Bahkan ia melatih sekee itu sampai siap untuk tampil.

 

 

“Almarhum lebih dikenal sebagai seniman daripada sebagai pegawai. Dulu pernah kerja di Departemen Perdagangan dan pernah jadi anggota DPRD Buleleng selama 3 periode. Bapak juga pernah menulis kumpulan cerita pendek berjudul Dasa Tali Dogen,” terang Putu Oka Sastra, putra pertama Gde Dharna, belum lama ini.

 

Lagu ciptaan pertamanya yang terkenang hingga kini adalah Merah Putih. Lagu itu diciptakan saat ia masih duduk di bangku sekolah. Sekitar tahun 1950an dengan laras nada selendro. Lagu ini begitu fenomenal.

 

Sejak dulu lagi ini sering dikumandangkan oleh anak-anak sekolah. Sampai kini pun lagu ini tetap terngiang. Lirik yang pendek dan nada yang tidak begitu sulit membuat lagu ini mudah untuk dihafalkan.

 

“Bapak tidak pernah berpikir akan mendapat apa dari yang dilakukan. Tapi selalu berpikir apa yang harus diberikan. Meski banyak sebutan dari orang-orang tapi beliau tidak pernah merasa seperti itu. Bagi kami bapak adalah sosok yang sederhana dan bersahaja,” tambahnya.

 

Pengabdiannya yang tulus membuat Gde Dharna disegani banyak orang. Pun demikian tidak membuatnya besar kepala. Ia terus berkarya sepanjang hidupnya. Sebab ia ingin dikenang lewat karya yang dilahirkan. Karya terakhir yang diselesaikan Gde Dharna adalah sebuah novel.

 

Dalam novel itu bercerita tentang Raja Pertama Buleleng yakni Ki Barak Panji. Perjuangan mempertahankan wilayah kekuasaan hingga akhirnya menjadi Kota Singaraja. Novel itu berjudul Bintang Denbukit.

 

Rencananya, novel itu diberikan sebagai hadiah ulang tahun Kota Singaraja kepada Bupati Buleleng kala itu.

 

Namun, belum sempat diterbitkan, Gde Dharna berpulang. Tepat 13 September 2015. Seiring berpulangnya Gde Dharna ke hadapan Yang Kuasa, draft novel itu juga sempat menghilang. Lama tidak terlihat hingga berhembus kabar draft tersebut bergeser dari satu dinas ke dinas lain.

 

 

Entah bagaimana jalannya akhirnya draft itu ditemukan. Draft tersebut akhirnya diterbitkan oleh Mahima Institut Indonesia dengan tebal 85 halaman.

 

Kegemaran terhadap dunia seni dan sastra tidak saja ia lakukan setelah pensiun menjadi pejuang. Darah seni dan sastra itu ternyata telah mengalir sejak muda. Bahkan sampai ia turut berjuang melawan penjajah.

 

Dharna yang lahir pada 27 Oktober 1931 itu dikenal sebagai pria cerdik. Pada masa perjuangan ia pernah bergabung dengan Pasukan Gerakan Rakyat Rahasia Indonesia. Tubuhnya yang kecil membuat ia mudah untuk bergerak dan melakukan penyamaran.

 

Kepada Bali Express (Jawa Pos Grup) tahun 2015 silam, Gde Dharna pernah bercerita. Dalam pasukan itu ia mendapat tugas penting. Yakni penyambung informasi alias pengantar surat. Saat situasi genting, ia harus berjuang menyampaikan pesan itu. dalam perjalanan mengantarkan surat ia tidak boleh ketahuan musuh. Dharna pun memilih jalan yang rumit agar tidak terdeteksi.

 

Meski ia yakin jalur yang dipilih tidak terpikirkan oleh musuh, ternyata pada jalur itu juga terpasang ranjau. Baik dari ranjau musuh maupun ranjau dari pasukan sendiri. Tetapi ia berhasil melewatinya. Terang saja, ia adalah salah satu anggota GRRI yang cerdas. Pastinya banyak cara yang dimiliki untuk sampai ke tempat tujuan.

 

 

Saat itu ia juga pernah menceritakan sedang menjalin cinta dengan Ni Luh Telaga. Perempuan itu adalah istri dari Gde Dharna sampai akhir hayatnya. Ketika sedang bertugas, Dharna menyebut selalu terngiang wajah Telaga yang ayu.

 

Ia pun bertekad untuk selalu selamat dan menyelesaikan tugas. Tujuannya tidak lain agar ia bisa segera bertemu dengan kekasihnya itu.

 

Dahulu, Dharna juga sempat mengatakan bahwa doa sang kekasih tak pernah surut. Telaga yang kala itu belum dipinang mendoakan Dharna agar selamat sampai negeri ini Merdeka. Dharna selalu mengingat doa itu. Setiap kali bertugas ia selalu menyebut nama istrinya.

 

Dharna yang terberkati akhirnya dapat menikmati hidup bebas dari penjajah serta melihat perubahan dunia, sampai ia menutup mata, karena sakit komplikasi. (*)

Editor : I Dewa Gede Rastana
#bali #I gde dharna #seniman #budayawan #buleleng