Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sosok I Nengah Purna, Pengawas Pemilu di Bangli yang Tetap Teguh meski Dihadapkan Ancaman dan Teror

I Made Mertawan • Selasa, 14 Januari 2025 | 14:15 WIB
Anggota Bawaslu Bangli I Nengah Purna.
Anggota Bawaslu Bangli I Nengah Purna.

BALIEXPRESS.ID- I Nengah Purna adalah sosok yang menjadi saksi perjalanan demokrasi di Bangli sejak tahun 1999.

Selama lebih dari dua dekade, ia setia menjalankan tugas sebagai pengawas pemilu, dari minimnya pengalaman awal hingga menghadapi ancaman dan teror yang menantang integritasnya sebagai pengawas.

Purna pertama kali bergabung sebagai pengawas pemilu pada tahun 1999 yang pada saat itu dikenal sebagai Panitia Pengawas Pelaksana (Panwaslak).

Ia lolos karena posisinya sebagai prajuru di Desa Pengotan yang dinilai netral, meskipun tidak memiliki pengalaman maupun pengetahuan mendalam tentang pengawasan pemilu saat itu.

“Orang-orang yang dicari adalah mereka yang dianggap netral. Kebetulan, saya dinilai netral karena posisi sebagai prajuru desa,” ujar Purna.

Meski terbatas dalam teori dan praktik, Purna yang saat itu merupakan lulusan SMA Pariwisata menunjukkan keseriusan dalam menjalankan tugas.

Dengan penuh tanggung jawab, ia memastikan tidak ada persoalan selama masa awal pengabdiannya.

Kesuksesannya pada Pemilu 1999 membuat Purna semakin percaya diri dan tertarik terus menjadi pengawas pada pemilu-pemilu berikutnya.

Ia selalu mendaftar dan lolos seleksi, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten. Dari panwaslu merupakan lembaga ad hoc hingga kini status permanen.

“Awalnya, tugas pengawasan tidak berat, bisa dibilang tantangannya masih ringan. Saya senang saja menjalankannya,” kenang Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Bangli periode 2023-2028 ini.

Namun, situasi mulai berubah pada Pemilu 2014. Suasana politik yang semakin panas membuat tantangan pengawasan menjadi lebih berat.

Pria kelahiran 1 Oktober 1972 ini mulai menghadapi ancaman, tekanan, hingga teror, terutama ketika harus bersikap tegas terhadap pelanggaran.

Salah satu kasus yang ia tangani adalah praktik politik uang (money politics).

“Sempat ada yang mencoba menyogok saya terkait kasus politik uang, tetapi saya tolak,” tegas Purna, yang berasal dari Banjar Dajan Umah, Desa Pengotan, Bangli.

Sejak itu, ancaman dan teror semakin sering menghampirinya. Hampir setiap kali ia memproses pelanggaran, ada saja telepon bernada ancaman yang diterimanya.

Si penelepon mencoba menakut-nakutinya agar kasus tidak dilanjutkan, syukurnya tidak sampai pada ancaman yang mengancam jiwanya.

Sebagai manusia biasa, Purna mengakui bahwa rasa takut itu ada. Namun, ia berusaha mengatasinya dengan berpegang teguh pada aturan dan memberikan pemahaman kepada semua pihak terkait dasar dari setiap tindakan yang diambil.

Dugaan pelanggaran tetap diproses sebagaimana mestinya.

“Astungkara, sejauh ini semuanya berjalan baik,” ujar Purna, yang juga lulusan magister hukum Universitas Warmadewa, Denpasar.

Salah satu momen yang paling berkesan bagi Purna terjadi pada Pilkada Bangli 2020. Ketika membubarkan kampanye pasangan calon yang melanggar jadwal. Situasi memanas dan hampir berujung pada kekerasan fisik.

“Massa sudah datang ramai, tapi malah saya tidak berikan, sempat terjadi dorong-dorongan,” kenang Purna, yang saat ini berusia 52 tahun.

Selain ancaman dan tekanan, tudingan tidak netral juga sering dialamatkan kepadanya.

Namun, Purna menanggapinya dengan kinerja yang membuktikan integritas dan profesionalismenya.

Baginya, netralitas adalah hal utama yang harus dijaga oleh pengawas pemilu.

 “Netralitas harus dipegang teguh, walaupun pengawas mempunyai hak pilih, jangan sampai mencerminkan keberpihakan,” terangnya,” tegas Ketua Bawaslu Bangli periode 2018–2023 ini.

Di sela-sela tugasnya sebagai pengawas, bapak empat anak dan kakek tiga cucu ini tetap aktif menjalani aktivitasnya sebagai petani.

Meski demikian, tugasnya sebagai pengawas pemilu tetap menjadi prioritas utama.

Dengan segala tantangan yang dihadapi, Purna membuktikan bahwa integritas dan dedikasi dalam menjaga demokrasi adalah hal yang tidak bisa ditawar. 

Suka dan duka dalam menjalankan tugas merupakan bagian tak terpisahkan. “Sukanya itu, iya saya punya banyak teman, menambah wawasan,” terang Purna yang saat ini masih aktif sebagai prajuru di Desa Adat Pengotan. (*)

 

 

Editor : I Made Mertawan
#Bawaslu Bangli #bangli #ancaman #teror #Purna