DENPASAR, BALI EXPRESS - Perupa I Putu Wirantawan sejak Jumat (28/2) lalu, menggelar pameran tunggal di Danes Art Veranda, Denpasar. Pameran selama sebulan ini, seolah menjadi representasi dari proses pencarian seorang Wirantawan dalam kelana estetikanya.
Puluhan karyanya, baik instalasi, lukisan, sampai dengan drawing, dietalasekan dalam pameran tersebut. Keseluruhan karyanya itu digarap dalam metode tradisional, drawing, yang digarap sejak 2003 silam. Itupun dengan teknik kering bermaterikan pensil di atas kertas. Karya teranyarnya terepresentasikan pada instalasi 'Gugusan Energi Alam Batin'. Sebuah judul yang segaris dengan nama pamerannya. Instalasi digarap Wirantawan sekitar lima bulan lamanya. Dari Mei sampai Oktober 2019 lalu.
Instalasi ini didisplay dengan memanfaatkan ruang pertama saat masuk ke dalam ruang pameran. Intalasi ini mewakili keseluruhan proses pencarian Wirantawan dalam mengolah segala esensi bentuk di alam semesta. Yang secara matematis dinamakan geometri. Di sela pameran, Wirantawan menuturkan proses penciptaan karya-karyanya tersebut. Baginya, alam semesta menjadi sumber inspirasi yang tiada habisnya. Dari sana, imajinasinya ditransformasikan ke dalam konsep seni rupa. Konsep itu kemudian diterjemahkan lagi ke dalam karya-karyanya. Tidak jarang pula dia menyelipkan cerita dan kisah-kisah dari pengalam pribadi di kehidupannya. “Saya lebih banyak mendalami geometri. Bagi saya, (geometri) merupakan esensi dari alam itu sendiri. Yang kemudian saya kembangkan lagi secara estetika,” tutur perupa kelahiran Sangkar Agung, Negara, Jembrana ini kepada Bali Express ( Jawa Pos Group ) akhir pekan kemarin.
Pengembangan tersebut dia contohkan pada bentuk geometri yang paling sederhana, yakni Lingkaran. Dengan bentuk itu, dia berupaya mengaitkannya dengan konsep rotasi dalam kehidupan. Adanya siang dan malam. Perputaran waktu.
Adapula bentuk Segitiga. Yang dia maknai secara visual sebagai konsep tingkatan kehidupan, yakni Kedalaman.
Bentuk esensi itu kemudian dia kaitkan pula dengan energi yang tersedia di alam semesta ini. Baginya, tiap benda, bahkan yang sederhana sekalipun, memiliki energinya tersendiri. “Bahkan, suatu yang kecil menjadi luar biasa,” tukasnya.
Dalam pameran tersebut, Wirantawan juga menuturkan adanya perubahan corak karya yang dia garap sejak di masa lalu. Terlebih Wirantawan sendiri pernah melahirkan karya-karyanya yang bergaya abstrak, impresionis, dan figuratif. Kesemuanya dia terapkan dalam waktu yang hampir bersamaan dalam proses pencarian kreatifnya sebagai seorang perupa jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. “Khusus drawing ini, saya memulainya sejak 2003. Memang sebelumnya saya ada pada fase abstrak, impresionis, serta figuratif. Semuanya saja jalankan berbarengan. Sampai saya menemukan drawing ini,” tuturnya. Dalam proses pencarian itu, Wirantawan mengakui, apa yang telah dia cari dalam proses berkreasinya itu belum sepenuhnya terwakilkan. Baru pada metode drawinglah, seluruh gagasannya terepresentasikan.
“Saya justru ditaklukkan pensil. Bayangkan saja, hanya dengan pensil. Tanpa harus memikirkan media lainnya,” pungkas perupa berambut Panjang ini.
Gagasan Wirantawan dalam berkarya juga tercermin dari pilihan warna-warna yang tercermin dari karya-karyanya. Dia secara jujur mengakui sejatinya dalam proses penggarapan dirinya lebih dominan memilih hitam dan putih. “Cenderung ke hitam dan putih. Karena itu warna abadi. Dan, secara teknis juga saya terapkan secara sederhana. Lewat garis dan arsiran,” ujarnya, seraya menambahkan proses menarik garis dan membuat arsiran itu dilakukan tentu dengan intensitas. Serta tidak jarang juga dia menggunakan pensil warna untuk menyajikan rona warna lain pada karyanya. Pameran seni lukis yang dipersembahkan Wirantawan ini berlangsung selama sebulan hingga 27 Maret 2020 mendatang. Saat pembukaan, pameran kemarin dihadiri Popo Danes selaku pemilik galeri, Sastrawan Warih Wisatsana. Kurator I Made Bakti Wiyasa. dan belasan seniman lainnya.