BALIEXPRESS.ID - Suasana mencekam menyelimuti Polsek Pace, Nganjuk, Rabu (2/4) siang. Ratusan massa dari salah satu perguruan silat dengan wajah penuh amarah, menggeruduk kantor polisi tersebut.
Kedatangan mereka bukan tanpa alasan, melainkan untuk meluapkan kekecewaan atas penanganan kasus pengeroyokan yang menimpa anggota mereka di Desa Sanan, Kecamatan Pace, Minggu (30/3) lalu.
Rombongan pesilat yang datang bergelombang dengan sepeda motor, langsung memadati depan Polsek Pace sekitar pukul 14.00 WIB.
Baca Juga: Detik-Detik Mencekam Keluarga Selamat dari Kobaran Api Saat Melahap Mobil Pemudik di SPBU
Tanpa tedeng aling-aling, mereka menuntut penjelasan dari petugas terkait status pelaku pengeroyokan.
Kabar beredar bahwa beberapa pelaku yang sudah ditangkap justru dibebaskan, memicu kemarahan massa.
"Kami tidak terima anggota kami dikeroyok, tapi pelaku dibebaskan!" teriak salah satu sumber dari perguruan silat, dengan nada tinggi.
Ketegangan semakin memuncak ketika adu mulut antara massa dan petugas tak terhindarkan. Suasana yang semula hanya diwarnai orasi, berubah menjadi chaos.
Baca Juga: Bupati Adi Arnawa Buka Turnamen Bola Voli PORD Cup ke-VII
Beberapa anggota perguruan silat terlibat perkelahian, yang kemudian terekam video dan viral di media sosial.
Dalam video viral tersebut memperlihatkan aksi saling pukul dan dorong, membuat publik bertanya-tanya tentang penanganan kasus ini.
"Saya takut sekali melihat keributan itu. Mereka seperti kehilangan kendali," ujar seorang saksi mata yang enggan disebutkan namanya.
Kapolres Nganjuk, AKBP Siswantoro, berupaya meredam situasi dengan menyatakan bahwa kasus ini sedang ditangani serius.
Namun, pernyataannya belum mampu meredakan kemarahan massa.
Hingga saat ini, polisi masih berupaya mengendalikan situasi di Polsek Pace.
Sementara itu, video bentrokan yang viral terus menjadi perbincangan hangat di media sosial, memicu perdebatan tentang profesionalisme penegakan hukum. ***