BALIEXPRESS.ID – Dari masa lalu yang kelam sebagai perakit bom dalam tragedi Bom Bali, Umar Patek kini memilih jalan yang sepenuhnya berbeda.
Mantan napi teroris ini banting setir jadi peracik kopi rempah khas Indonesia, meninggalkan jejak lamanya dan menapaki lembaran hidup baru yang penuh kedamaian.
Usai bebas bersyarat pada tahun 2022, Umar mendirikan sebuah kedai kopi unik bernama Kopi Ramu 1966 by Umar Patek.
Nama "Ramu" sengaja dipilih karena memiliki makna simbolik—jika dibalik, menjadi "Umar". Ini adalah bentuk simbolisasi dari proses “membalik kehidupan” yang tengah ia jalani.
“Saya ingin dikenal sebagai peramu rasa, bukan perakit kebencian. Ramu itu saya,” ujar Umar saat peluncuran kopinya di Hedon Cafe Surabaya, Selasa (4/6) malam.
Selepas keluar dari penjara, Umar sempat terombang-ambing tanpa pekerjaan.
Stigma sebagai mantan narapidana kasus terorisme membuatnya sulit diterima di mana pun.
Namun takdir berubah ketika ia bertemu dengan dr. David Andreasmito, pemilik Hedon Cafe Surabaya.
Pertemuan itu bermula dari secangkir kopi rempah hasil racikannya. Ternyata, rasa unik dari kopi tersebut membuka peluang baru.
“Saya coba kopi buatan Umar, dan rasanya luar biasa. Sejak itu, saya percaya dia bisa berubah. Saya kirim dia belajar ke Bondowoso untuk mendalami seni meracik kopi,” kata David.
Umar tak hanya menyajikan kopi biasa. Kopi rempah racikannya menyimpan kisah keluarga dan cita rasa nusantara.
Ia memadukan biji arabika dari lereng Gunung Ijen dan robusta dari berbagai daerah di Jawa, menghasilkan rasa kopi yang khas: aroma rempah kuat, sentuhan cokelat, dan rasa kacang yang kaya.
“Sejak kecil saya sudah terbiasa minum kopi rempah racikan ibu. Ini bukan cuma kopi, tapi kenangan dan doa dalam setiap tegukan,” ungkapnya.
Kini Umar telah mahir menggunakan mesin roasting modern, setelah sebelumnya hanya bisa meracik secara manual.
Dengan modal semangat dan dukungan keluarga, ia berharap bisnis kopinya bisa menembus pasar Jawa, lalu berkembang secara nasional.
Tak hanya berjualan secara ritel, Umar juga berharap ada kerja sama dengan instansi pemerintah, agar kopi racikannya bisa menjadi pilihan dalam berbagai acara formal.
“Kalau bisa, kantor-kantor pemerintah berlangganan kopi saya. Ini bagian dari pemberdayaan mantan napi dan bentuk nyata deradikalisasi,” katanya.
David Andreasmito mengaku keputusannya memberi kesempatan pada Umar banyak menuai pertanyaan. Namun, menurutnya ini adalah soal kemanusiaan.
“Buat saya, ini bukan cuma soal bisnis. Ini tentang kesempatan kedua, tentang cinta kasih, dan tentang bagaimana kita membantu orang untuk jadi lebih baik,” tegasnya. (*)
Editor : Nyoman Suarna