Peminjaman ABU pun dilakukan ke berbagai rumah sakit di Bali. Hal itu dilakukan untuk menangani pasien gigitan ular. Kendati mendapat pinjaman vaksin ABU, jumlah tersebut sangat tidak mencukupi untuk penanganan pasien. “Kemarin dapat pinjaman dari Rumah Sakit Bali Mandara dan Rumah Sakit Umum Daerah Karangasem. Ada 15 vial dan sudah habis. Artinya gigitan ular masih banyak,” ujar Direktur Utama RSUD Buleleng, dokter Putu Arya Nugraha, Senin (17/4) siang.
Kendati RSUD Buleleng mendapat suntikan pinjaman ABU, pihak rumah sakit masih krisis ABU. Pihak RSUD Buleleng pun berusaha menyurati Dirjen Fasyankes RI dan pihak Provinsi Bali untuk mendapatkan stok vaksin. “Supaya cepat terdeteksi ke pemerintah pusat. Kalau Biofarma tidak menyediakan kan nanti bisa beli dulu ke luar negeri, seperti negara tetangga, Singapura dan Malaysia yang kasus gigitannya sedikit. Itu bisa di droping ke sini lah dulu. seperti vaksin covid juga kan beli di luar juga,” tambahnya.
Sekaratnya stok vaksin di RSUD Buleleng membuat pihak rumah sakit terpaksa merujuk pasien ke Rumah Sakit Prof. dr. I.G.N.G Ngoerah. Namun hal itu juga disayangkan Dokter Arya. Apabila ketersediaan vaksin ABU di Buleleng aman, maka pasien akan cepat tertangani. “Pinjaman 15 vial itu bisa habis dalam satu minggu. Saat kosong rujuk ke sanglah. Tapi kan sayang kalau rumah sakit tipe B gak ada vaksin ABU ini, kesannya kita gak kerja dan melimpahkan tanggung jawab,” imbuhnya.
Saat ini RSUD Buleleng hanya memiliki 20 vial vaksin ABU. Jumlah itu didapatkan dari RSUD Mangusada. Hanya saja dari 20 vial yang didapat, 12 vial telah dianggarkan untuk pasien. Sehingga sisanya sangat minim. “Sedikit sekali dan cepat sekali habisnya. Kebutuhannya juga tinggi sampai 4 vial per satu gigitan,” ujarnya.
Meski biaya berobat akibat gigitan ular ini ditanggung BPJS, dihimbau kepada masyarakat agar tetap waspada. Resiko gigitan ular sama seperti gigitan anjing yang dapat merenggut nyawa. Kondisi wilayah Buleleng yang banyak di sektor pertanian diharapkan agar petani memperhatikan perlindungan diri saat pergi ke kebun. “Saya ingin himbau kepada warga kalau kondisi seperti ini ke ladang pakai sepatu boot ya. Untuk mencegah gigitan ular. Persoalannya kalau gigitan ular, diobati sembuh tidak diobati bisa meninggal,” tegasnya.
Apabila terjadi gigitan maka langkah awal yang dilakukan adalah dengan jalan torniket. Area gigitan diikat untuk menahan penyebaran bisa ular lewat peredaran darah. Pasien juga dilarang mencuci bekas gigitan ular. “Segera diikat jangan dicuci. Misalnya kalau dipatok di area telapak tangan hingga jari maka torniket atau pengikatan dilakukan di pergelangan tangan,” kata dia.
Tingginya kasus gigitan ular juga menjadi sorotan Fraksi Golkar. Nyoman Gede Wandira Adi mengaku mendapat banyak pengaduan soal gigitan ular di Buleleng. Pihaknya pun turut mendesak pemerintah pusat agar pasokan vaksin ABU di Kabupaten Buleleng tercukupi. “Kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut dimana akan sangat membahayakan nyawa masyarakat tergigit ular berbisa. Untuk itu mohon kepada Saudara Penjabat Bupati serta Dinas terkait untuk bisa mencarikan solusi terhadap permasalahan tersebut sesegera mungkin,” ungkapnya. Editor : I Dewa Gede Rastana