SINGARAJA, BALI EXPRESS - Buleleng memang tak pernah kehabisan stok atlet panjat tebing berbakat. Setelah nama-nama seperti Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Kadek Adi Asih melambung di level nasional hingga dunia, kini muncul satu lagi bintang baru yang cemerlang dari utara Bali — Ni Made Maylia Ardani Putri.
Gadis kelahiran 29 Mei 2006 asal Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, ini baru saja mencatat sejarah di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali 2025 dengan menyapu lima medali emas di cabang olahraga panjat tebing. Bukan hanya satu atau dua nomor, tetapi lima kategori berbeda. Speed World Record Beregu Putri, Speed Classic Beregu Putri, Speed Classic Perorangan Putri, Speed Classic Campuran, dan Speed Classic World Record Putri.
“Latihan untuk Porprov kurang lebih empat bulan dari Mei sampai September. Latihan tiap hari, panas-panasan, kadang pulang cuma sempat mandi sebentar,” kenang Maylia dengan senyum lelah tapi bangga.
Perjalanan Maylia di dunia panjat tebing tidak dimulai dari niat besar. Semua berawal tahun 2016, saat ia masih duduk di kelas empat SD. Seorang teman mengajaknya mencoba panjat tebing. Ia tak menolak, dan siapa sangka dari ajakan sederhana itu lahir seorang atlet luar biasa.
“Awalnya cuma ikut-ikutan, tapi lama-lama saya suka. Teman-temannya seru, lingkungannya asik,” cerita Maylia mengenang masa kecilnya.
Tak butuh waktu lama, di kejuaraan pertamanya BWCC tingkat kabupaten tahun 2016, ia langsung meraih medali emas dan perak. Sejak itu, dunia panjat tebing menjadi rumah keduanya. Ia terus berlatih rutin, meski harus membagi waktu dengan sekolah dan keluarga.
Tahun demi tahun, torehan prestasinya makin banyak. Porjar 2017, Maylia menggenggam satu perunggu. Porjar 2018, ia naik kelas dengan dua perunggu lagi. Porjar 2019, ia menambah medali perak dan perunggu. Semua itu ia raih dengan semangat tanpa putus, bahkan ketika hasil tak selalu emas.
Ketika pandemi COVID-19 menghentikan semua kegiatan pada tahun 2020, Maylia tak menyerah. Latihan tetap jalan, meski kadang online, kadang sendirian di rumah. Ia tahu, berhenti berarti kehilangan ritme dan mimpi.
Tahun 2021, ketika kondisi mulai mereda, ia kembali berlaga di kejuaraan tingkat provinsi di Karangasem dan membawa pulang medali perak. Tahun 2022, performanya meledak. Di Sirkuit Seri 1 Gianyar, ia menggondol tiga medali perunggu. Tak lama berselang, ia ikut Porprov Bali XV 2022, dan menyabet dua emas, satu perak, dan satu perunggu.
“Latihan waktu itu berat banget. Hampir tiap hari panas-panasan, pulang cuma untuk mandi. Kadang sampai nggak sempat ngobrol dengan keluarga,” ungkapnya. Tapi hasilnya manis. Porprov pertamanya menjadi titik balik — dari atlet muda penuh semangat menjadi bintang yang diandalkan kontingen Buleleng.
Prestasi Maylia tak berhenti di Bali. Ia mulai menembus kejuaraan nasional, salah satunya Kejurnas Situbondo (2022) dan Wiraraja Competition Lumajang (2024). Di sana, ia sukses meraih medali perunggu kategori Speed Classic dan menjadi finalis empat besar Lead Putri Nasional.
Tahun 2023, di ajang Porjar keempatnya, ia kembali unjuk gigi dengan satu emas dan dua perak. Ia juga sempat menembus empat besar Boulder Putri PON XXI Aceh–Sumut 2024 — pencapaian yang menempatkannya sejajar dengan atlet-atlet papan atas Tanah Air.
Kalau dihitung-hitung, lebih dari 30 medali sudah dikumpulkan Maylia sejak awal kariernya. Dari Porjar hingga Porprov, dari kejuaraan kabupaten hingga nasional. Daftar prestasinya panjang dan mengagumkan — bukti nyata konsistensi dan kerja keras seorang remaja 19 tahun yang tak kenal lelah.
Porprov Bali 2025 menjadi puncak kejayaan sementara bagi Maylia. Ia bukan hanya menyapu bersih lima medali emas, tapi juga menjadi atlet penyumbang terbanyak untuk Buleleng. Cabang olahraga panjat tebing Buleleng sendiri ditargetkan lima emas, namun berhasil melampaui target dengan tujuh emas.
Buleleng memang belum menjadi juara umum — posisi itu diraih Kabupaten Badung dengan sembilan emas — tapi tim panjat tebing menjadi penyumbang medali emas terbanyak bagi kontingen Buleleng.
Bagi Maylia, kemenangan ini bukan sekadar soal piala dan medali. Lebih dari itu, ini tentang pembuktian diri dan kebanggaan untuk keluarga serta daerahnya.
“Lewat panjat tebing, saya belajar disiplin, tanggung jawab, dan attitude. Dari sini juga saya bisa bantu sedikit keuangan keluarga,” katanya dengan nada lirih tapi mantap.
Kini, gadis yang dulu hanya ikut-ikutan memanjat karena ajakan teman itu, bermimpi untuk menyusul jejak seniornya, Kadek Adi Asih, dan berlaga di kejuaraan internasional. ***
Editor : Dian Suryantini