Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sunari, Bambu Sarat Makna Filosofis dan Magis bagi Umat Hindu di Bali

I Putu Suyatra • Senin, 24 Juli 2017 | 20:32 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, DENPASAR - Sunari, sebuah benda terbuat dari buluh bambu yang dilubangi dengan teknik khusus, sehingga mengeluarkan suara saat diterpa angin. 

Sepintas, bentuk Sunari nampak seperti buluh bambu utuh menjulang tinggi. Namun, benda ini erat kaitannya dengan aktivitas dan budaya pertanian (agraris).

Budayawan Bali dari Kota Denpasar, I Gede Anom Ranuara menjelaskan,  Sunari konon berasal dari kata 'Sunar' yang berarti sinar.

Sesuai dengan fungsinya sinar bermakna menerangi umat manusia dalam hidup dan kehidupan.

Hal ini sangat sejalan dengan salah satu sumber, seperti yang ditulis dalam buku Sundarigama karangan Drs. K.M Suhardana yang menjelaskan,  Kata Sunari yang berarti buluh perindu.

“Walau tidak terjelaskan dengan pasti, namun bisa kita pandang bahwa kata Sunari bermakna sama dengan sundari,” kata Anom kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin.

Dalam Literatur lain, kata Anom ,  dalam kamus   Jawa Kuna-Indonesia oleh P.J Zoetmoulder ditemukan kata Sundari yang diartikan sebagai sejenis serangga bersuara nyaring dipepohonan.

Dan, dalam Bahasa sansekerta Sundari berarti wanita cantik dan kata gama dapat diartikan sebagai perjalanan atau jalan.

Dalam konteks  lain sundar dalam istilah Sundarigama diartikan terang, sedangkan gama berarti petunjuk.

“Jadi, dapat disimpulkan bahwa Sundarrigama memiliki makna petunjuk menuju jalan yang terang atau benar,” terang Anom.

Sementara secara filosofis, suara Sunari berfungsi sebagai sarana atau peringatan agar manusia selalu ‘eling’ dan ‘ngeh’ dengan suara atau petunjuk alam.

Dengan demikian, kita pun akan bisa selalu bekerjasama dan hidup bersama-sama dengan alam, baik sesama pelaku (pawongan) dan sifat-sifat alam lainnya (Bhuta Kala).

“Dengan demikian, proses aktivitas dan tahapan bercocok tanam pun akan selalu selaras alam dan alami. Keselarasan akan alam itulah yang membuat kita merasa senang untuk melakoninya. Bersama-sama dalam pengerjaannya, dan bersama-sama dalam menikmati hasilnya,” tuturnya.

Selain itu, suara Sunari juga dapat menjadi petunjuk teknis dan filosofis dalam budaya pertanian, yakni saat Sunari diterpa angin akan mengeluarkan suara berubah-ubah.

Suara tersebut konon bisa menghalau atau mengendalikan 'mrana' (hama) seperti burung dan hama padi lainnya.

“Sehingga para petani tidak merugi akibat hama yang menyerang,” imbuhnya.   

Di samping untuk seni, permainan, dan sarana pengusir hama di sawah, Sunari juga dibuat untuk kebutuhan upacara keagamaan. Sunari menjadi penting dalam setiap upacara besar keagaaman Hindu, khususnya karya yang berada pada tingkatan utama.

Dalam upacara tersebut dikenal dengan Ngadegan Sunari, yang artinya mendirikan atau memasang Sunari.

Dalam keyakinan Hindu, Sunari merupakan  simbol Dewa Brahma, pada lengkungan terdapat kera  yang merupakan simbol maruti, marut sama dengan angin, angin sama dengan asengeng yang artinya batin.

Adapun bentuk Sunari yang dibuat untuk pelaksanaan upacara yadnya, yakni pada bambu dibuat lobang dengan konsep Panca Maha Butha, yakni berbentuk bulat yang melambangkan windu atau bulan, segitiga yang melambangkan nada atau bintang, berpalang empat yang merupakan simbol ongkara, sedangkan segi empat dan tegak lurus sebagai sumber bunyi dari Sunari.

Pada lengkungan bambu di bagian atasnya dipasangkan berbentuk binatang kera dengan posisi memanjat untuk Sunari yang akan digunakan sebagai sarana upakara.

Sedangkan untuk di sawah menggunakan simbol sepasang tupai atau semal laki perempuang yang melambangkan rare angon dan rare cili.

“Pada saat upacara besar keagamaan, Sunari biasanya dipasang agak tinggi pada arah timur laut dari halaman pamerajan atau pura,’ jelas pria asli Kesiman ini.  

Ditambahkannya ,  Sunari yang diartikan sebagai sinar sudah tentu akan menerangi. Dalam aktivitas budaya dan sosial, dapat dimaksudkan sebagai sarana nerang atau terang.  Sebuah keyakinan budaya agar saat melakukan aktivitas besar atau upacara yadnya tidak turun hujan.

“Dengan demikian, pemasangan Sunari secara bersama-sama mengajak pelaku yadnya untuk berniat atau meniatkan (berdoa), agar selama proses upacara keagamaan berlangsung  lancar dan tidak turun hujan," tutup Anom Ranuara.  (*) 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #sunari #hindu #denpasar #budaya #tradisi