BALI EXPRESS, DENPASAR - Ketika seseorang tengah membahas masalah serius, lantas ada suara Cicak, kerap orang mengasumsikannya bahwa apa yang dibahas itu benar. Demikian pula ketika sembahyang, lantas ada suara Cicak, orang semakin khusuk. Sebegitu pentingkah suara Cicak itu?
Cicak, salah satu hewan melata pemakan serangga yang hidup di dinding. Keberadaannya tidak asing di rumah-rumah warga. Bahkan, diciptakan lagu untuk binatang mungil ini. Mulai dari lagu berbahasa Indonesia, hingga lagu yang dilantunkan oleh salah satu grup band rock di Bali. Itu menandakan bahwa keberadaan Cicak alias Cecek (Bahasa Bali) cukup akrab dengan kehidupan masyarakat.
Bagi sebagian besar umat Hindu di Bali, suara Cicak sangatlah berarti. Hal ini dikarenakan ada kepercayaan bahwa suara Cicak merupakan pertanda akan terjadi sesuatu. Bahkan, suara Cicak dipercaya sebagai pertanda kebenaran yang disampaikan oleh Dewi Saraswati, simbol ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, jika dalam sebuah obrolan tiba-tiba Cicak bersuara, maka warga percaya yang disampaikannya adalah benar. Sedangkan jika cecak bersuara saat sembahyang, maka dipercaya doa yang disampaikan diterima oleh Tuhan atau leluhur. Selain itu, ada pula kepercayaan bahwa suara Cicak di tempat atau waktu tertentu menandakan kehadiran mahluk halus. Bahkan, jika cecak jatuh di kepala, itu juga diasumsikan pertanda sial.
Berkenaan dengan kepercayaan Cicak sebagai "ciri" kehadiran Dewi Saraswati, tentunya banyak timbul spekulasi. Namun, nyatanya masyarakat Hindu di Bali menempatkan cecak sebagai salah satu simbol dalam upakara atau sesajen, khususnya banten Saraswati. Meskipun yang digunakan bukanlah cecak asli (berupa kue beras berbentuk Cicak, lengkap dengan telor dan rumahnya), kehadiran cecak tetap menjadi hal yang penting. Hal ini menarik minat salah seorang mahasiswa Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, Kadek Sumadiarta, S.Sos.H., M.Fil.H untuk mengangkatnya menjadi sebuah skripsi dengan judul "Jajan Cicak dalam Banten Saraswati sebagai Simbol Komunikasi Ritual di Desa Bukit-Batu Kelurahan Samplangan Kabupaten Gianyar” pada tahun 2011.
Kadek Sumadiarta yang akrab dipanggil dengan Dek Nata mengatakan, ketertarikannya timbul setelah memperhatikan kue berbentuk Cicak pada banten Saraswati yang dihaturkan pada Saniscara (Sabtu) Umanis Watugunung.
"Jajan ini terbuat dari tepung beras berwarna putih dengan bentuk dua ekor Cicak. Matanya dibuat dengan injin (ketan hitam) dan di sebelahnya ada telurnya," ujarnya.
Tidak mau terjebak dalam kepercayaan buta yang sering disebut dengan istilah gugon tuwon atau mula keto (memang begitu), ia berusaha menggali lebih dalam melalui penelitian.
Menurutnya, kepercayaan bahwa Cicak adalah binatang yang disakralkan bukan hanya ada di Bali, melainkan berdasarkan para ahli antropologi, cicak adalah salah satu binatang yang dipercaya memiliki kekuatan dan kepekaan terhadap getaran spiritual oleh bangsa Austronesia.
Di Indonesia, selain masyarakat Bali, masyarakat lain seperti Halmahera dan Batak juga percaya akan sisi gaib dari Cicak. "Masyarakat Halmahera misalnya, bunyi Cicak ditafsirkan sebagai isyarat simbolis yang mempunyai makna peringatan dan berkat bagi seseorang yang melakukan pekerjaan atau perjalanan," ungkapnya.
"Selain itu, terkait pula dengan masyarakat Batak yang percaya bahwa Cicak adalah simbol penjaga rumah, sehingga menggunakan tali pengikat dinding yang berpola seperti Cicak," jelasnya.
Lebih lanjut, Cicak dikatakan oleh Nata, juga termuat dalam kisah Prabhu Anglingdharma, keturunan ketujuh dari Arjuna. Anglingdharma mendapat anugrah berupa Ilmu Aji Gineng dari Nagaraja yang konon membuatnya mengerti berbagai bahasa binatang. Suatu ketika Anglingdharma sedang bersama permaisurinya, Dewi Setyawati. Tiba-tiba sang raja mendengar percakapan dua ekor Cicak. Anglingdharma pun tertawa. Setyawati kemudian menanyakan alasan tertawanya sang prabhu. Namun, karena Nagaraja meminta bahwa agar Anglingdharma merahasiakan ajaran tersebut, ia tidak berkenan mengutarakannya. Akhirnya, tersinggunglah Dewi Setyawati dan memutuskan untuk menceburkan diri di kobaran api.
Anglingdharma kemudian berencana untuk ikut menceburkan diri ke dalam api demi membuktikan kesetiaannya dengan tetap mempertahankan rahasianya. Namun, ketika ingin melakukan hal tersebut, ia mendengar percakapan dua ekor kambing yang membuatnya sadar bahwa rakyat lebih membutuhkannya. Dengan demikian, ia memilih untuk mengurungkan niatnya. Demi menebus pengingkaran janji sehidup sematinya, Anglingdharma kemudian menjalani hukuman pembuangan yang berlangsung beberapa waktu.
Dek Nata menambahkan, Cicak adalah binatang yang cerdik dan peka. Secara alami ia bisa melindungi diri dari musuhnya dengan melepaskan ekornya. Bahkan menurut hasil wawancaranya di lapangan, Cicak adalah lambang kesetiaan. Hal itu berdasarkan salah seorang narasumber yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa ada satu cecak yang membantu membawakan makanan bagi Cicak yang terjepit hingga sebagian kakinya mengering. Cicak lainnya dengan setia membawakannya makanan berupa serangga hingga cecak yang diperkirakan telah terjepit beberapa hari tersebut bisa hidup. “Oleh karena itu, Cicak adalah binatang yang memiliki insting yang kuat,” ujarnya.
Sumber lainnya juga menurutnya mengatakan, Cicak juga sebagai sarana penyembuhan bagi penyakit. Dikatakannya,istri sang narasumber mengalami penyakit yang tak kunjung sembuh. Bertepatan dengan rahinan Saraswati, ia kemudian menghaturkan pajati di pura panti. Tiba-tiba saat sembahyang seekor cecak yang ekornya bercabang dua jatuh di pajati tersebut. Cicak tersebut kemudian dijadikan sarana obat, dan ternyata istrinya berangsur sembuh.
Dalam banten Saraswati, mantan Ketua Pimpinan Daerah Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PD KMHDI) Bali tersebut, menjelaskan, di samping berbentuk cecak beserta telurnya, ada pula jajan berbentuk aksara Ongkara. Berkenaan dengan hal tersebut, dua Cicak itu dikatakannya adalah simbol purusha dan pradana yang berasal dari satu, yakni Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, jajan berbentu Cicak dalam banten Saraswati tersebut merupakan salah satu simbol yang sarat makna. Tentunya umat Hindu tidak sembarangan membuatnya. Hanya saja, karena seiring waktu, pemahaman masyarakat menjadi memudar karena kurangnya penyampaian makna dalam pembuatannya.
Dengan demikian, ia menyimpulkan bahwa jajan berbentuk Cicak yang ada dalam banten Saraswati memiliki makna religius, pendidikan, dan komunikasi sosial kemasyarakatan. Dalam hal religius, cecak tersebut berhubungan dengan keyakinan umat Hindu terhadap Tuhan yang diwujudkan dalam simbol tertentu. Selanjutnya dalam hal pendidikan, Cicak dipercaya sebagai penanda kehadiran Dewi Saraswati, yakni lambang ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, umat didorong untuk cerdas. Sedangkan komunikasi sosial kemasyarakatan, berdasarkan makna religius dan pendidikan tersebut, masyarakat menempatkan Cicak beserta suaranya sebagai salah satu penguat kepercayaan dalam hal komunikasi.
Editor : I Putu Suyatra