BALI EXPRESS, DENPASAR - Selain pemangku utamanya adalah pemangku Istri, keunikan lain dari Pura Botoh yang terletak di Jalan Tukad Melangit, Panjer Denpasar, ini memiliki keunikan berupa larangan. Yaitu dilarang keras menghaturkan daging babi dan pemangkunya juga dilarang makan daging babi.
Keuikan ini dikatakan Jro Mangku Istri Pura Botoh, A.A Ayu Setianingsih yakni tidak boleh menghaturkan sesaji/banten yang mengandung unsur daging Babi. “Tidak boleh ada banten dengan daging babi,” jelas Jero Mangku utama di Pura Botoh ini.
Bahkan hal ini juga berlaku pada Pemangku dari Pura Botoh ini, baik Mangku istri maupun Mangku Lanang juga tidak boleh mengonsumsi daging babi. “Pernah saya mengonsumsi daging babi, akibatnya cukup buruk, karena saya langsung sakit, bahkan beberapa kali saya sempat pingsan setelah mengkonsumsi daging babi,” jelasnya.
Jro Mangku istri menyebutkan tidak diperkenankan menghaturkan daging babi ke Pura Botoh sudah terjadi sejak upacara Pengenteg Linggih yang pertama yakni tahun 2002 lalu. Saat itu dikatakan Mangku Istri dirinya mendapat pawisik supaya tidak menghaturkan daging babi dan olahan babi di pura Botoh.
Terkait dengan umat yang sembahyang di Pura Botoh, Jro Mangku Istri mengatakan selain warih dari Ida Bhatara Dang Hyang Bang Manik Angkeran yakni Arya Wang Bang Pinatih, Arya Wang Bang Sidemen, Arya Wang Bang Waya Biya dan Sira Agra Manikan yang dikenal dengan istilah Catur Warga, pura ini juga menjadi tempat persembahyangan bagi seluruh Umat Hindu di Bali.
Hal ini karena selain palinggih yang berhubungan dengan Catur Warga ini, di Pura Botoh ini juga terdapat palinggih Dewi Kwan Im, persimpangan Ratu Gede Dalem Peed, Ida Bhatara Rambut Sedana dan Ratu Niang Sakti. “Sehingga masyarakat umum juga banyak sembahyang di Pura ini,” jelasnya.
Seperti halnya sejarahnya, Pura Botoh bukan pura bagi kalangan bebotoh atau penjudi. Namun Pura ini adalah jejak dari perjalanan dari Ida Bhatara Dang Hyang Bang Manik Angkeran, putra dari Ida Dang Hyang Sidimantra.
Editor : I Putu Suyatra