BALI EXPRESS, GIANYAR - Meski terkesan memiliki pemikiran cerdik dan licik, pesan moral yang terkandung dalam cerita Pan Balang Tamak saat ini masih digunakan. Baik itu dalam kehidupan sehari-hari maupun aturan adat yang berlaku di desa.
Tokoh adat Desa Sayan, Gianyar, I Made Tragia menjelaskan, Pan Balang Tamak berasal dari kata Bala dan Tama. Bala berarti rakyat biasa, sedangkan Tama adalah pemikiran yang lebih. “Maka disebut dengan cerdik dan cenderung licik karena Pan Balang Tamak memiliki pikiran yang selalu lebih dari orang lain. Ia yang juga merupakan warga biasa selalu menjalankan kecerdikannya itu,” papar pria yang juga seorang Dalang ini.
Selain itu, Tragia mengaku tidakan yang dilakukan tidak bisa disalahkan begitu saja. Karena sesuai dengan perintah seorang pemuka desa ia hanya menjalankannya saja. Karena itu, saat pengarahan seperti tedun ke banjar saat ayam berkokok juga harus ditekankan oleh pemuka desa. Karena menurut Tragia, setiap orang bisa saja tidak memilki ayam jantan seperti Pan Balang Tamak tersebut
“Maka sampai sekarang pesan moral yang ada dalam cerita itu masih dipergunakan oleh krama," terangnya. Tragia mencontohkan saat pelaksanaan ngaben tidak boleh masuara goro (berteraik senang).
"Bisa dilihat setiap pangabenan pasti ada yang masuara goro, saat ngarap bade terlebih diiringi gambelan keras. Sehingga itu harus ditegaskan pada awig saat pangabenan tersebut,” paparnya.
kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Gianyar Minggu (7/1) kemarin.
Model seperti itu, lanjutnya merupakan suatu pesan dari cerita Pan Balang Tamak. Dikarenakan setiap arahan dan aturan itu harus jelas dan tegas. Selain itu, Tragia mengungkapkan supaya tidak ada tumpangtindih dalam bermasyarakat. Seperti yang dilakukan oleh Pan Balang Tamak sampai memperdayakan tokoh desa dan warga.
Tragia juga menambahkan, Palinggih Pan Balang Tamak yang ditempatkan di Pura Puseh sangat sesuai. Dikarenakan ia adalah seorang rakyat yang memiliki kebenaran yang indentik.
“Sampai saat ini saya belum pernah menemukan lontar yang mengacu cerita tersebut. Tetapi itu merupakan salah satu cerita rakyat yang melengkapi kebenaran seorang raja. Bahkan, awig-awig desa semestinya mengacu ke sana agar dipertegas dan jelas,” imbuhnya.