GIANYAR, BALI EXPRESS - Pantai biasanya dipergunakan untuk melakukan prosesi upacara, seperti Mlasti, Malukat, hingga tempat Ngayud untuk ritual Ngaben. Namun, Pantai Siyut diyakini punya juga fungsi khusus alias ada tuah lainnya.
Pantai Siyut yang ada di wilayah Desa Tulikup, Kecamatan/ Kabupaten Gianyar, selain sebagai tempat untuk prosesi upacara, juga diyakini sebagai tempat matamba (berobat) secara niskala. Khususnya yang memiliki sakit struk dan asam urat.
Secara umum, masyarakat setempat memang tidak mengetahui Pantai Siyut bisa menjadi tempat matamba. Khasiat mengubur badan di pasir di kawasan pantai ini berawal dari salah satu warga dari luar desa yang melakukan terapi untuk penyembuhan sakit struknya. "Ternyata upayanya itu berhasil, dan orang tersebut hilang struknya, dan sembuh.
Akhirnya kabar itu diketahui dari mulut ke mulut soal khasiat Pantai Siyut," papar Bedesa Adat Tulikup Kelod, I Nyoman Sukara,50 kepada Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin.
Diakuinya, masyarakat Tulikup tidak begitu tahu soal Pantai Siyut untuk tempat matamba. Bahkan dari lelingsir terdahulu mengetahui jika di areal pantai hanya biasa digunakan sebagai tempat upacara. Mulai dari Mlasti setiap tahunnya, Malukat, hingga Nganyud saat Pangabenan.
Karena adanya informasi dari mulut ke mulut, Pantai Siyut sebagai tempat metamba, lanjutnya, hingga kini kerap didatangi warga untuk matamba. Mulai dari nunas air laut untuk Malukat, jika terapi mengubur tubuh di pasir. Khususnya mereka yang memiliki sakit struk dan asam urat. “Memang sekarang banyak orang yang mengubur badan di pasirdan Malukat. Biasanya mereka yang sakit struk ringan dan asam urat. Selain itu, ada juga yang memang sempat sakit, dan berobat Bali (ke orang pintar) biasanya juga disuruh Malukat di sini. Karena itu pula, di pabtai betpasir hitam ini jadi tempat 'membuang' penyakit secara niskala. Bahkan, sampai saat ini warga kami juga meyakini hal itu karena sudah banyak yang sembuh,” terangnya.
Ditambahkan Sukara, tidak ada pura besar. Hanya saja terdapat sebuah palinggih yang biasanya digunakan menghaturkan sesajen saat nunas air laut maupun pasir yang akan dijadikan obat. “Kalau pura di kawasan itu tidak ada. Namun, di utara pantai yang masih dekat dengan wilayah desa ada namanya Pura Segara. Biasanya pemangku Pura Segara hanya menghaturkan sesajen ketika ada upacara Mlasti, Nganyud maupun upacara yang menyangkut desa saja,” ungkapnya.
Disinggung apa saja yang perlu dibawa saat hendak matamba ke Pantai Siyut, Sukara menyampaikan tergantung dari masyarakat yang akan matamba. Untuk matamba tidak ada patokan maupun syarat pastinya. Semua itu tergantung dari keyakinan, kemampuan dan kepercayaan masyarakat yang nemohon.
Dikatakan Sukara, biasanya yang Malukat mengajak pemangku langsung, bukan dari pemangku Pura Segara desa setempat. Lengkap dengan sarana banten yang dipergunakan. Begitu juga yang mengubur badannya di pasir pantai, biasanya hanya membawa canang. “Kalau sarana yang dibawa memang sesuai kepercayaan dan keyakinan masyarakat. Itu tergantung juga kemampuan meraka. Soal kesembuhan maupun khasiatnya, juga tergantung keyakinan yang berobat,” tandasnya.
Sukara mengaku tidak ada pantangan sama sekali bila berkunjung ke areal pantai.
Namun, selaku tokoh ada di desa setempat, ia tetap mengimbau agar selalu berpikir, berkata, dan berbuat yang baik, jika masuk areal pantai. “Pantangan secara khusus memang tidak ada,” imbuh Sukara. Untuk mencari Pantai Siyut tidaklah susah. Pasalnya, pantai paling timur wilayah Kabupaten Gianyar tersebut, aksesnya bisa melalui Jalan Bypass Ida Bagus Mantra. Hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit jika berangkat dari Pusat Kota Gianyar. Lokasinya tepat pada lampu merah paling timur wilayah Gianyar, ada jalan ke arah selatan menuju Pantai Siyut.