Desa Bungkulan Kecamatan Sawan rupanya tidak hanya memiliki tarian sakral Baris Ang Ung Mang. Namun juga memiliki pura yang telah dibangu sejak Pra Hindu. Pura bernama Sari Besikan ini konon dibangun sejak tahun 684 Masehi.
Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) menyebutkan ornamen pura pun terlihat sangat klasik. Hampir mirip dengan Pura Beji di Sangsit, Pura Madue Karang di Kubutambahan, Pura Menasa di Sinabun Kecamatan Sawan. Pura yang terletak di Banjar Satria ini sebagian besar materialnya terbuat dari Paras Abasan yang hanya diperoleh di Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, Buleleng.
Paras Abasan tersebut diukir dengan gaya khas Buleleng. Kekhasan tersebut ada pada Pepatraan dan Kekarangan. Jika ditelisik, candi bentar pada Madya Mandala dengan Nista Mandala begitu megah dengan hiasan ukiran Karang Goak, Karang Tapel, Karang Boma hingga Patra Wangga.
Hiasan ini diukir sangat rapi dan memenuhi seluruh bagian badan. Ditambah warna paras yang merah kehitaman akibat termakan usia, kian meneguhkan taksu pura ini sebagai pura yang telah berusia ratusan tahun
Petajuh Desa Adat Sari Besikan, Dewa Ketut Djareken, 70 mengatakan pura yang telah masuk Cagar Budaya ini juga memang pernah direstorasi pada bagian candi bentar, khususnya di Madya Mandala. Dengan catatan, bahan baku yang digunakan tetap berasal dari paras Abasan.
Secara mandala, pura ini terbagi menjadi tri mandala. Yakni Nista Mandala, Madya Mandala dan Utama Mandala. Di Areal Utama Mandala Pura Sari Besikan ini terdapat sejumlah pelinggih. Yakni pelinggih Ida Ratu Agung, Pelinggih Ratu Ngurah Mas atau nama lain dari Stana Dewa Brahma, dan Pelinggih Dewa Wisnu.
Posisi pelinggih di areal Utama Mandala sebagian besar berada di sisi timur. Tidak kalah dengan Candi Bentar, ukiran di pelinggih di areal inipun berasal dari material
Djareken menyebutkan, dari penjelasan para pendahulunya, Pura Sari Besikan ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 684 masehi. Bahkan diyakini sudah ada sejak era pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.
“Pada waktu itu Sriwiyaja sedang berkuasa di Nusantara. Pada Jaman itu, nama-nama desa di Bali konon banyak menggunakan nama sari,” jelasnya.
Ia menjelaskan Penarukan dulu bernama Apit Sari, Jagaraga sebelumnya bernama Jaga Sari, Sinabun bernama Sari Geni, Suwug bernama Sari Timbul, dan di Sudaji bernama Sari Aji. Termasuk di wilayah Bungkulan disebut dengan Sari Besikan. Hingga pura inipun bernama Sari Besikan.
Djareken, menyebutkan areal Pura Sari Besikan ini memang dibagi menjadi beberapa wewidangan. Yakni areal Pura Desa, Areal Pura Puseh, Pura Merajan, Padma Tiga. Wewidangan pura ini dibatasi dengan Candi Raras. “Jadi walaupun satu areal, tetapi lokasinya dibagi-bagi, dan dibatasi oleh Candi Raras,” katanya.
Pura ini kiri kanan terdapat pura jeroan kanginan dan jeroan kawaanan, sehingga pemedalnya ke Jeroan Kawanan dan ke Jeroan Kanginan, wajib dijaga kebersihannya.
“Secara niskala, jika Jeroan Kanginan itu hubungannya sampai ke Pengastulan. Sedangkan Jeroan Kawanan itu di Ratu Ngurah Dangin Carik di Desa Tejakula. Kami hanya mewarisi saja,” paparnya.(bersambung)
Editor : Nyoman Suarna