Menurut Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali Nyoman Suka Ardiyasa, dapur juga dilambangkan sebagai stana Dewa Brahma dalam manifestasi sebagai Sang Hyang Uttasana. Dalam berbagai lontar juga disebutkan tentang tata letak dapur serta pengaruhnya terhadap penghuni.
Apabila tempat dapurnya berada pada sisi sebelah timur, pengaruh terhadap penghuninya sangat tidak baik. Orang yang menempatinya atau penghuninya sering kebingungan dan sering tertimpa marabahaya. Apabila dapurnya berada pada posisi arah tenggara, pengaruh terhadap penghuninya juga tidak baik. Diyakini, orang yang menempatinya atau penghuninya sering terkena musibah, sering sakit-sakitan.
Jika dapur berada pada sisi sebelah barat, dan pintunya menghadap ke timur, pengaruh baik. Penghuninya tidak kekurangan sandang pangan, tetapi sering kena musibah, sering sakit-sakitan dan boros.
Begitu juga apabila tempat dapurnya berada pada sisi sebelah barat daya, pengaruh terhadap penghuninya, tidak baik. Penghuninya sering menemukan kendala-kendala yang tidak baik, sering kena musibah, sandang pangan sulit.
Lalu bagaimana jika dapur berada di sisi utara? Suka menyebut, pengaruh terhadap penghuninya juga tidak baik. Sebab, orang yang menempatinya atau penghuninya sering kena musibah, sering sakit-sakitan, berumur pendek (cendek yusa). Begitu juga apabila dapur berada pada sisi timur laut, pengaruh terhadap penghuninya tidak baik. Sebab, orang yang menempatinya sering terjadi kesalahpahaman di antara sesama penghuni, sering terjadi pertengkaran, bahkan bisa terjadi pembunuhan, kehidupan penghuninya tidak tentram.
Posisi yang dianggap bagus apabila dapur berada pada sisi sebelah selatan menghadap ke utara, pengaruh terhadap penghuninya sangat baik, orang yang menempatinya atau penghuninya tidak kekurangan sandang pangan, hidupnya selalu berkecukupan. Bila dapurnya berada pada sisi barat daya, pengaruh terhadap penghuninya baik, penghuninya selalu dalam kecukupan pangan (Kweh Boga).
“Untuk menciptakan suatu keserasian, keharmonisan dan keselarasan dalam keluarga, hendaknya dalam membangun suatu bangunan selalu mengacu pada konsep Tri Angga, Tri Mandara, dan Tri Hita Karana sebagai dasar dalam menata tata ruang dalam satu keluarga, sesuai dengan konsep Asta Bhumi dan Asta Kosala Kosali,” tutupnya. (dik/wan)
Editor : I Komang Gede Doktrinaya