Upacara Ngangkid ini dilakukan berdasarkan Lontar Bima Swarga. Alam lontar tersebut dikisahkan Sang Bima menyelamatkan roh orangtuanya yakni Sang Pandu dan Dewi Madri. Ia mengangkat roh Sang Pandu dan Dewi Madri dari alam neraka. Dalam perjalanannya, ia ditemani oleh Merdah dan Tualen. “Saat meninggal manusia diyakini menuju alam neraka terlebih dahulu sebelum ia hidup bahagia di alam surga. Untuk menemukan jalan kebahagiaan di alam itu, roh mereka harus diangkat dari kawah sungai itu lewat upacara ngangkid yang dilakukan oleh keluarga masing-masing,” terang Wayan Sukrata, Dane Balian Pengangkidan, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Senin (10/4) pagi.
Penafsiran upacara Ngangkid yang disamakan dengan upacara Ngaben pun diakuinya keliru. Ngangkid sendiri bukan upacara Ngaben seperti yang orang pikirkan. Ngangkid di Pedawa setara dengan prosesi Nyekah. Yakni telah sampai pada level kedua. “Ini bukan ngaben. Ngangkid itu tingkatannya sama dengan nyekah. Jadi tingkatannya lebih tinggi. Kalau ngaben di Pedawa setara dengan mepegat. Bisa dibilang penyucian roh leluhur pada tingkat kedua. Tingkatan pertama adalah mepegat, tujuannya memisahkan badan jasmani dengan rohani. Kelanjutannya upacara yang kedua kalinya adalah prosesi penyucian roh,” tambahnya.
Dalam ritualnya, rangkaian pertama yang dilakukan adalah Pepegat. Ritual ini dilakukan seminggu sebelumnya. Setelah itu barulah diikuti dengan ritual Ngangkid di Tukad Pengangkidan. Dalam tradisi ngangkid ini, yang mengangkat roh disimbolkan dengan ayam. Ayam itu diseberangkan disertai dengan doa. Kemudian air yang mengalir menuju bendung diibaratkan terdapat roh yang dijemput oleh ayam itu. Ayam yang digunakan adalah jenis Biing Gerungsang dan ayam betina Bulu Lasan.
Saat hari Ngangkid, seseorang yang bertugas sebagai Balian Pengangkidan (pemuka agama yang mengantarkan upacara) pagi-pagi buta menuju ke Pura Dalem. Ia harus memohon ijin untuk membuat bendungan di sungai. Sementara di tempat lain pada waktu bersamaan, ada pula yang menulis sebuah lau-lau. Lau-lau ini semacam surat permohonan agar roh itu diterima di alam baka. “Kalau dibilang KTP kurang tepat, karena di dalamnya ada permohonan yang dituliskan di atas daun lontar. Kalau KTP kan hanya ada identitasnya saja. Kalau lau-lau ini lengkap, ada nama serta permohonan untuk mendapatkan tempat,” kata dia.
Kemudian dalam waktu bersamaan di sanggah kemulan ada yang metanding (menata) banten sia pang sia (9x9). Ada 9 sarana banten. Satu sarana banten itu dibuat menjadi 9 bagian. Tapi ada juga yang menafsirkan sia pang sia itu menjadi 81. Sebetulnya 9 itu arah mata angin. Banten ini digunakan sebagai petunjuk arah sang roh menuju ke alam baka. “9 sarana banten itu memang agak sulit. Ada daging babi hutan. Kalau tidak ada boleh diganti kulit babi hutan, daging rusa atau kulitnya, ikan kuyuh (ikan ini harus dari danau. Dulu bisa dari Tamblingan kalau sekarang sudah di Batur), Nyalian dari danau, udang sungai, ikan teri, ikan asin sudang. Telur itik dan daging babi peliharaan. Orang yang nanding juga tidak boleh sembarangan,” ujarnya.
Terakhir, setelah prosesi Ngangkid usai akan dilanjutkan dengan ritual Ngeluwer. Ritual ini dilakukan sehari setelah upacara Nagngkid. Ritual ini menggunakan media asap sebagai sarana utama. Percaya atau tidak ritual ini diyakini telah mengantarkan roh ke alam ketujuh atau surga. Saat Ngeluwer akan dilakukan tahapan Ngabkabang Kunduh. Artinya, asap yang berasal dari perapian atau peasepan diangin-anginkan pada kunduh atau simbolisasi dari roh tersebut. Kain pada kunduh itu dirobek tidak dibakar. “Artinya sarana upacara sebagai simbolisasi jiwa manusia itu hanya dihantarkan melalui media asap. Kalau di desa lain itu dibakar. Tapi kalau di Pedawa Kunduh itu dirobek lalu diangin-anginkan di dekat perapian. Tingkatan upacara Ngeluwer ini belum ada yang melakukannya di Bali, tapi kami sudah melakukannya sejak dulu,” terang Sukrata. Editor : I Dewa Gede Rastana