BALI EXPRESS, SINGARAJA - Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida memastikan kondisi Bendungan Titab-Ularan, di Desa Titab Kecamatan Busungbiu masih sangat aman. Meskipun pada Selasa (6/2) lalu dinding tanggul pelimpahan atau spillway mengalami jebol sepanjang 33,5 meter. Dari hasil analisisnya, terungkap jika jebolnya dinding spillway tersebut akibat rembesan mata air yang naik ke permukaan.
Hal tersebut diungkapkan Kepala BWS Bali Penida Ketut Jayada yang langsung meninjau Bendungan Titab pada Rabu (7/2) siang, atau sehari pasca kejadian. Menurutnya, yang jebol bukanlah tubuh dari bendungan, melainkan bangunan pelimpah khususnya bagian dinding yang posisinya di sebelah hilir bendungan.
“Itu yang jebol adalah dinding tanggul pelimpah atau spillway. Spilway ini adalah bagian terpisah dari bendungan. Jadi supaya jelas, biar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat,” ujar Ketut Jayada usai melakukan peninjauan.
Di hadapan awak media, Jayada mengklaim jika BWS selalu memantau kondisi bendungan Titab-Ularan. Jayada tak menampik, jika kejadian jebolnya dinding tanggul pelimpahan sempat menimbulkan keprihatinan dari masyarakat.
Pihaknya pun berharap agar masyarakat tidak perlu resah. Sebab, selama ini di dalam tubuh bendungan sudah dipasang beberapa instrumen. Instrumen yang bersifat digital tersebut berfungsi untuk memantau prilaku bendungan. Apabila terjadi sesuatu, maka secara otomatis akan terlihat dalam instrumen.
Jayada menegaskan, sampai saat ini, dari pantauan instrumen, kondisi bendungan Titab-Ularan tidak menunjukkan sesuatu yang abnormal. Artinya, semuanya dalam keadaan normal.
“Kami menaruh perhatian terhadap kondisi ini. jadi di bendungan sudah dipasang isntrumen yang berfungsi memantau prilaku bendungan. Sedikit saja ada pergerakan semua akan terbaca oleh instrumen. Dari hasil pemantauan instrumen, tidak ada pembacaan yang abnormal. Jadi semuanya dalam keadaan normal dan tidak ada perilaku membahayakan. Ini yang harus diketahui masyarakat,” ujar Jayada.
Disinggung terkait penyebab jebolnya dinding spillway, Jayada kembali menjelaskan jika jebolnya dinding spillway diakibatkan oleh adanya sumber mata air kecil dengan debit 30 liter/detik yang berada di lokasi kejadian. Jayada mengaku, dulu saat proses pembangunan dilakukan, sebenarnya sudah disiapkan saluran drainasenya. Namun diduga lantaran drainase tidak berfungsi maksimal, sehingga air dari sumbernya naik dan mendorong dinding beton spillway.
“Waktu pembangunan, kita sudah tahu disini (lokasi jebol, Red), ada sumber air. Saat itu kita sudah siapkan drainase. Namun, kemungkinan karena drainase tidak berfungsi maksimal, sehingga sumber air yang berada di bawah beton ini naik ke permukaan, dan mendorong beton hingga jebol. Kalau disimpulkan ini akibat tekanan air di bawah dinding spillway. Artinya tidak ada kesalahan konstruksi,” imbuhnya.
Solusinya, Jayada menyebut proses perbaikan akan segera dilakukan. Tentu dengan menambah drainase atau lubang-lubang yang berada di dinding spillway agar air bisa keluar melalui lubang tersebut. Sehingga stabilitas sumber air dalam dinding tetap terjaga.
Berselang sehari pasca kejadian, pihak kontraktor sudah menerjunkan alat berat untuk secepatnya melakukan perbaikan. Mengingat, bangunan Bendungan Titba-Ularan masih tahap pemeliharaan selama satu tahun sejak tahun 2017 hingga serah terima pada akhir 2018 mendatang.“Alat berat sudah di lokasi. Material sudah menyusul, secepatnya akan dilakukan perbaikan. Ini masih menjadi tanggungan kontraktor. Kalau nominal kerugian belum kami kalkulasi,” ucapnya.
Dengan adanya Bendungan Titab-Ularan ini, Jayada memastikan akan sangat bermanfaat untuk pengendalian banjir khususnya di wilayah hilir. Selain itu, air dalam bendungan ini akan segera dimanfaatkan menjadi air baku untuk pemenuhan kebutuhan air sehari-hari.
“Dengan adanya bendungan ini sebenarnya sudah sangat ampuh untuk mengendalikan banjir di wilayah hilir. Karena air bisa disimpan di bendungan ini. selain itu airnya nanti akan dimanfaatkan untuk air baku guna memenuhi kebutuhan air masyarakat,” terangnya.
Sekadar mengingatkan, jika Bendungan Titab-Ularan dibangun sejak tahun 2011 sampai 2017, dengan menelan dana sebesar Rp 498 miliar. Bendungan ini memiliki luas total mencapai 100 hektar. Dengan luasan genangan mencapai 68 hektar dan tinggi 60 meter, bendungan ini mampu menampung 13 juta meter kubik air dari Tukad Saba.
Editor : I Putu Suyatra