Tidak sembarang kain gringsing nantinya yang digunakan sebagai cendramata. Sebelum diberikan kepada seluruh delegasi, kain tersebut lebih dulu dilakukan seleksi. Seperti misalnya pada Senin (18/7), puluhan perajin kain gringsing datang ke Wantilan Desa Tenganan Pegringsingan untuk menunjukkan karyanya yang akan diseleksi oleh MPIG (Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis) Tunun Gringsing Bali, Klian Adat Tenganan, dan yang berkopenten dibidangnya.
Ketua MPIG Tunun Gringsing Bali, I Wayan Yasa mengungkapkan, seleksi kain gringsing ini sudah dilakukan dari tanggal 20 Juni 2022. Dari dimulainya tahap seleksi tersebut, terdapat beberapa kain gringsing yang tidak memenuhi syarat penilaian, sehingga kain tersebut ditolak dan perajin tersebut diminta kembali menunjukkan karya yang lebih bagus. “Dalam hal ini kami sangat objektif karena ini sifatnya internasional. Jadi ini pertarungan harga diri kami sebagai perajin kain gringsing. Tidak semua masuk, ada yang kami tolak, kami minta yang lebih bagus,” ujarnya.
Meskipun terdapat pengusaha yang mampu mencukupi pesanan tersebut, tetapi dalam hal ini Yasa mengaku lebih mengedepankan pemerataan bagi para perajin di desa setempat. “Kalau masyarakat sudah semua dan masih kurang, baru dari pengusaha yang berkopenten. Disana sudah ada stok,” lanjutnya.
Untuk mempersiapkan pesanan ini, masing-masing perajin hanya diperbolehkan menunjukkan satu kain yang akan digunakan. Dalam hal ini, Yasa mengaku terdapat 125 perajin yang membuat pesanan ini. “Pesanan 120, cadangan lima,” jelas pria yang juga sebagai guru di SMKN 1 Manggis.
Hingga saat ini, baru sebanyak 116 yang lolos dalam seleksi tersebut. Kendati waktu untuk melengkapi tersebut masih cukup panjang, I Wayan Yasa menjamin pesanan tersebut akan terpenuhi ketika waktunya sudah tiba. “Pada saat titik, kami yakin kami bisa, karena stok stok perajin masih ada,” pungkasnya. (dir)