Melalui tanggapan pria yang akrab disapa Tu Aji Bhaskara ini diunggah melalui akun Instagram Wiracapiyotbali, pada Senin (27/02). Dalam video yang diunggah Tu Aji Bhaskara mengatakan bahwa Jero Dasaran Alit tidak memahami ilmu tentang kerauhan, kedua oknum pemangku tersebut dikatakan tidak memahami tentang ilmu P3K (Pertolongan Pertama pada Orang Kerauhan).
Lebih lanjut pihaknya menyebut Kerauhan merupakan tradisi sakral yang tidak boleh dilecehkan dan direndahkan. Dengan membagikan video tentang mengganti segehan menjadi babi guling berpotensi melecehkan tradisi kerauhan.
“Ketika memang ada kerauhan tidak serta merta harus kita berikan babi guling,” jelasnya.
Tu Aji Bhaskara mengungkap ada beberapa jenis kerauhan yang harus dipahami. Ada kerauhan karena sesuhunan dengan pembawaan sikap dan sikap yang halus, lembut, dan beribawa dan tidak mungkin memintan babi guling. Kedua kerauhan yang datang dari dimensi bawah seperti rerencangan yang sikap dan sifat pembawaanya kasar.
“Ketika ada kerauhan seperti ini tidak boleh kita lecehkan, tetapi dengan penanganannya berbeda,” jelasnya.
Bila yang terjadi adalah kerauhan dari dimensi bawah tidak boleh dilakukan komunikasi asalkan tidak terjadi di utama mandala. Jika kerauhan jenis ini terjadi di utama mandala sebaiknya dibawa ke jaba. Selanjutnya yang harus diperhatikan adalah siapa orang yang mengalami kerauhan? Apakah pengabih atau Jero Tapakan, Serati atau orang-orang pengayah di pura atau orang-orang yang tidak ada hubungan dengan pura, penanganannya juga berbeda.
“Kita juga memahami jika kerauhan terjadi karena dimensi bahwa pasti permintaannya aneh-aneh. Kalua Cuma segehan apasih susahnya buat segehan. Kita juga bisa menyarankan untuk menunggu sebentar. Manasih lebih cepat buat segehan daripada membeli babi guling?” jelasnya.
Pihaknya juga menjelaskan jika memang tidak ada segehan, bisa diganti dengan tetabuhan melalui komunikasi yang baik antara pengabih dan orang yang kerauhan. Lebih lanjut, menurutnya sebagai seorang tokoh agama harus tahu jenis-jenis kerauhan sehingga tidak menimbulkan sikap meboya umat terhadap tradisi kerauhan itu.
“Tidak semua kerauhan itu bohong, namun ketika ada yang pura-pura kerauhan dan ada yang melecehkan kerauhan itu sudah ada pemastu ada hukum yang akan diterima,” pungkasnya. Editor : Nyoman Suarna