Dalam acara Gubernur Bali Menyapa ini, Gubernur Koster didampingi Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bali yang juga Alumni SMAN 1 Denpasar, A.A.N. Adhi Ardhana, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali, IGN Boy Jaya Wibawa, Kepala Bappeda Provinsi Bali, I Wayan Wiasthana Ika Putra.
Selain disambut Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Denpasar, Made Rida bersama guru dan siswa, hadir pula perwakilan dari SMAN 3 Denpasar, SMAN 4 Denpasar, SMAN 5 Denpasar, SMAN 6 Denpasar, SMAN 7 Denpasar, SMAN 8 Denpasar, SMAN 9 Denpasar, SMAN 10 Denpasar, SMAN 11 Denpasar, dan SMAN 12 Denpasar.
Dalam acara Gubernur Bali Menyapa, para siswa yang hadir dibuat terinspirasi dan kagum atas daya juang Gubernur Bali Wayan Koster. Murdaning Jagat Bali ini menceritakan masa hidupnya waktu kecil yang berada dalam garis kemiskinan di Desa Sembiran, Buleleng.
Kondisinya dalam keadaan kurang mampu, tidak membuat mental seorang Wayan Koster untuk keluar dari garis kemiskinan pupus. Sosok Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali di usia Sekolah Dasar hingga menempuh pendidikan di SMP Bhaktiyasa Singaraja, SMA Negeri Singaraja, dikenal sangat rajin belajar sampai mendapat juara umum, juga aktif berorganisasi sebagai OSIS dan suka nabuh (magambel).
Untuk turut memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Wayan Koster ulet bekerja maburuh numbeg (nyangkul), maburuh naikin pasir ke truk di Tejakula, nenggala (bercocok tanam), bahkan menjual daun pisang. Sampai akhirnya Wayan Koster dengan kecerdasannya dan pengetahuannya yang mumpuni di ilmu matematika, kimia, fisika, dan biologi memberanikan diri (nekat) menuntut ilmu ke Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia, yaitu di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Kebiasaan Wayan Koster yang hidup mandiri di usia kecil mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, terus dilakoninya sejak mahasiswa di ITB dengan menjadi guru les matematika ke rumah — rumah yang ada di Kota Bandung, sembari aktif menjadi aktivis mahasiswa dan lulus pada tahun 1987 dengan gelar sarjana matematika.
Perjalanan hidup yang tidak kenal lelah, setelah meraih gelar sarjana, akhirnya Wayan Koster meniti karirnya di dunia pemerintahan dengan bekerja sebagai tenaga honorer sampai menjadi PNS di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Seraya menjadi dosen tidak tetap di Universitas Tarumanegara, Universitas Pelita Harapan, Universitas Negeri Jakarta, dan STIE Perbanas dengan memberi mata kuliah Kalkulus I, II , II dan IV, Ilmu Statistik hingga Metode Riset.
Setelah berkiprah di dunia pemerintahan dan menjadi dosen, Wayan Koster mendapatkan tepuk tangan dari para siswa karena berani mengambil keputusan mundur menjadi PNS untuk memulai karier di dunia politik menjadi kader PDI Perjuangan. Dan tahun 2004 maju hingga lolos menjadi Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan di Komisi X yang membidangi pendidikan, kebudayaan, pariwisata, dan olahraga.
Guru dan siswa SMA yang hadir kembali memberikan apresiasi tepuk tangan dan ucapan terimakasih kepada Wayan Koster, karena saat menjadi Anggota Komisi X DPR RI telah berjuang melahirkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Sehingga Guru sekarang memiliki tunjangan profesi satu kali gaji pokok, dan Guru Besar mendapat tunjangan profesi satu kali gaji pokok serta dua kali tunjangan kehormatan dari gaji pokok, dengan harapan mampu menciptakan generasi bangsa yang cerdas, berbudi pekerti luhur, dan berbakti kepada bangsa dan negara Indonesia.
Setelah terpilih kembali menjadi Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan pada Pemilu tahun 2009 dengan meraih 185.901 suara dan terpilih kembali untuk masa jabatan ketiga di DPR RI pada tahun 2014 dengan meraup 260.342 suara.
Perolehan suara Wayan Koster ini tercatat dalam sejarah politik sebagai satu- satunya Anggota DPR RI dari Bali yang berhasil meraih suara terbanyak nomor satu di Bali dan terbanyak ketiga secara nasional.
Atas prestasi yang diraih Wayan Koster, siswa SMA yang hadir dibuat bangga terhadap perjalanan hidup pemimpin Bali kelahiran 20 Oktober 1962 ini, dan ketika pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Bali tahun 2018, Wayan Koster terpilih menjadi Gubernur Bali dengan perolehan suara 57,68 persen.
Dalam kepemimpinannya di Pemerintah Provinsi Bali, Gubernur Wayan Koster menjalankan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru. Dalam visi tersebut, Gubernur Koster melakukan penguatan dan pemajuan kebudayaan Bali, karena budaya merupakan kekuatan utama Bali.
Kata Wayan Koster, Bali tidak punya sumber daya alam, seperti minyak, gas, batubara, emas, Bali hanya punya budaya. Maka Bali harus betul-betul dikelola dengan baik dan menjadikan budaya sebagai haluan pembangunan, hulunya pembangunan, agar budaya terjaga dengan baik sekaligus memberi penghidupan bagi masyarakat.
“Budaya Bali sudah teruji sejak berabad - abad yang diwariskan oleh para leluhur, sampai kita bisa eksis di era saat ini,” ujar Murdaning Jagat Bali asal Desa Sembiran, Buleleng ini.
Gubernur Bali mengajak seluruh siswa SMA sebagai generasi penerus untuk mewarisi, menjalankan, melestarikan, dan memajukan kebudayaan Bali sebagai kehidupan kita di Provinsi Bali. Itulah sebabnya ia mengeluarkan kebijakan, salah satu diantaranya adalah Memuliakan Desa Adat, Hari Penggunaan Busana Adat Bali, Memuliakan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali.
Kemudian menyelenggarakan Bulan Bahasa Bali, Menciptakan Keyboard Aksara Bali, Pelindungan Danau, Mata Air, Sungai, dan Laut; Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai, Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber. Selanjutnya Pariwisata Budaya, Berkualitas, dan Bermartabat, Bangga Produk Lokal Bali, Penggunaan Endek Bali, dan Pelindungan Kawasan Suci Besakih, dan Kawasan Pusat Kebudayaan Bali.
Selanjutnya membnagun Shortcut Singaraja - Mengwitani, Tol Jagat Kerthi Bali, Pelabuhan Segitiga Sanur — Sampalan — Bias Munjul, Bali Maritime Tourism Hub, Bendungan Sidan dan Bendungan Tamblang, hingga Turyapada Tower KBS 6.0 Kerthi Bali.
“Inilah sejumlah agenda yang Saya jalankan di periode pertama menjadi Gubernur Bali yang ditandai dengan capaian 44 Tonggak Peradaban Penanda Bali Era Baru,” jelas Gubernur Bali jebolan ITB ini.